Emiten milik pengusaha Hapsoro Sumonohadi atau dikenal Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) berencana menggelar aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue.
Manajemen mengungkapkan pemegang saham BUVA akan terkenda dampak bila tidak mengikuti right issue. Perusahaan memperkirakan potensi dilusi maksimal 67,01% dari jumlah kepemilikannya saat ini.
Lewat aksi tersebut, BUVA akan menerbitkan sebanyak 50 miliar saham baru atau sebanyak maksimum 203,11% dari total saham perseroan saat ini. Efek tersebut diterbitkan dari saham portepel BUVA dengan nilai Rp 50 per saham.
Merujuk data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) saat ini kepemilikan saham BUVA mayoritas dipegang PT Nusantara Utama Investama sebanyak 61,64%. Sementara Happy Hapsoro memegang 0,25% saham dan publik sebanyak 38,01%. Adapun Hapsoro dan Nusantara Utama secara bersama menjadi pengendali perusahaan.
Mengutip keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen BUVA kepada Bursa Efek Indonesia, dana hasil right issue tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha dan untuk pembayaran utang perseroan serta anak usahanya.
“Informasi final sehubungan dengan penggunaan dana akan diungkapkan dalam prospektus yang diterbitkan dalam rangka PMHMETD II yang akan disediakan kepada pemegang saham yang berhak pada waktunya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” seperti yang ditulis manajemen BUVA dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (20/1).
Rencana penambahan modal tersebut akan dibawa BUVA ke dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada 26 Februari 2026 untuk meminta persetujuan para pemegang sahamnya. Apabila rapat penting tersebut selesai, manajemen BUVA kemudian akan menyampaikan risalah RUPSLB kepada Otoritas Jasa Keuangan dan BEI dua hari berikutnya.
Pada November tahun lalu, BUVA baru saja merampungkan aksi right issue pertama pada 24 November 2025. Lewat aksi tersebut BUVA meraup dana segar sebesar Rp 603,98 miliar.
Dana tersebut digunakan untuk pengembangan proyek properti di Bali, termasuk akuisisi entitas milik anak usaha PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) senilai Rp 416,23 miliar.
Dalam keterbukaan informasi terbaru, BUVA menyatakan telah menyelesaikan pembayaran akuisisi PT Bukit Permai Properti dari PT Summarecon Bali Indah dan PT Bali Indah Development. Setelah akuisisi ini, grup BUVA menguasai lahan seluas 19,1 hektare yang rencana pengembangannya akan disusun lebih lanjut.
Adapun sisa dana right issue akan digunakan untuk pembelian dan pengembangan lahan di Pecatu, Bali, serta penyertaan modal sebesar Rp 76,60 miliar ke PT Bukit Permai Properti.
Pada perdagangan hari ini secara intraday pukul 13.51 WIB, harga saham BUVA melesat signifikan 17,93$ atau 320 poin ke level 2.150 per saham. Harga saham BUVA telah meloncat 255% dalam tiga bulan terakhir dan meroket 4.115% secara tahunan atau year on year (yoy



