EtIndonesia. Laporan Radio Denmark (DR) menyebutkan, selain Norwegia dan Swedia, Kementerian Pertahanan Jerman juga mengumumkan telah mengirim tentara ke Greenland. Pemerintah Jerman menyatakan bahwa tim beranggotakan 13 prajurit diperkirakan tiba paling cepat Kamis (22/1/2026) pagi di ibu kota Greenland, Nuuk.
Pemerintah Jerman mengatakan langkah ini bertujuan untuk: “Mengkaji kemungkinan pemberian bantuan militer kepada Denmark guna mendukung upaya menjamin keamanan kawasan tersebut, misalnya dengan menyediakan kemampuan pengawasan wilayah laut.”
Langkah Jerman ini juga merupakan tanggapan atas undangan Denmark kepada negara-negara mitra Eropa untuk berpartisipasi dalam operasi pengintaian di Greenland.
Tak lama kemudian, Kementerian Pertahanan Prancis juga mengungkapkan kepada stasiun televisi BFMTV bahwa Prancis akan berpartisipasi dalam “latihan militer Eropa” di Greenland. Seorang sumber militer menyebutkan bahwa Prancis akan mengirim sekitar 15 tentara.
Denmark dan Greenland ke Mana Arah Pilihannya: “Amerika Serikat” atau “PKT–Rusia”?Akun resmi Gedung Putih di platform X mengunggah sebuah gambar yang menyodorkan pilihan kepada Denmark dan Greenland: bagaimana memilih antara Amerika Serikat atau PKT–Rusia?
Tak lama setelah pertemuan antara Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat berakhir, Kedutaan Besar Denmark di Washington menggelar konferensi pers sekitar setengah jam kemudian.
Denmark Mulai Mengirim Pasukan ke GreenlandSebelumnya, karena Amerika Serikat menyatakan bahwa perlindungan Denmark terhadap Greenland jauh dari memadai, Denmark pada 14 Januari telah mengerahkan satuan militer beserta peralatannya ke Greenland, sebagai persiapan kemungkinan penempatan pasukan dalam skala yang lebih besar.
Trump Tarik Garis Merah soal Greenland: Di Bawah Standar Ini Tidak Dapat Diterima
Presiden Trump kembali menegaskan dengan huruf kapital di platform Truth Social mengenai pentingnya Greenland bagi Amerika Serikat dan NATO: “JIKA KITA TIDAK MELAKUKANNYA, RUSIA ATAU TIONGKOK AKAN MELAKUKANNYA, DAN HAL ITU SAMA SEKALI TIDAK BOLEH TERJADI!”
Ia mengatakan:“Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk menjaga keamanan nasional. Greenland sangat penting bagi ‘Kubah Emas’ (Golden Dome) yang sedang kami bangun. NATO seharusnya memimpin dalam membantu kami mengambil Greenland.”
Trump menekankan bahwa sebagian besar kekuatan Amerika Serikat dibangun pada masa jabatan pertamanya, dan kini ia sedang membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia menegaskan: “Dari sisi militer, tanpa kekuatan besar Amerika Serikat, NATO tidak akan mampu berfungsi secara efektif atau memiliki daya tangkal yang memadai—masih jauh dari itu. Mereka tahu, dan saya juga tahu. Jika Greenland berada di bawah kendali Amerika Serikat, NATO akan menjadi lebih kuat dan lebih efektif.”
Ia menutup dengan menetapkan garis merah: “Segala sesuatu yang berada di bawah standar ini tidak dapat diterima.”
Trump: Hanya AS yang Mampu Mengamankan GreenlandSekitar pukul 10.30 waktu Pantai Timur AS, Menteri Luar Negeri Denmark dan Menteri Urusan Luar Negeri Greenland dijadwalkan bersama-sama bertemu Wakil Presiden AS Vance dan Menteri Luar Negeri Rubio di Gedung Putih.
Menjelang pertemuan tersebut, Presiden Trump kembali memposting: “NATO: Beritahu Denmark agar segera mundur dari sini! Dua anjing penarik kereta salju tidak cukup! Hanya Amerika Serikat yang bisa melakukannya!!!”
Ia juga mengutip laporan Just The News 13 Januari, yang menyebut bahwa Dinas Intelijen Pertahanan Denmark (DDIS) telah memperingatkan sejak tahun lalu mengenai ambisi militer Rusia dan PKT di Greenland dan kawasan Arktik.
Pekan lalu, Trump mengatakan kepada wartawan di Air Force One bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland “demi keamanan nasional”, serta menyebut bahwa wilayah tersebut “dipenuhi” kapal Rusia dan PKT.
Namun, diplomat senior dan pejabat pertahanan Denmark segera membantah pernyataan Trump, dengan menyatakan bahwa tidak ada kapal Rusia maupun PKT di sekitar Greenland.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa media resmi dan Kementerian Luar Negeri PKT turut menggemakan bantahan Denmark, serta mengklaim bahwa langkah Amerika Serikat ini didorong oleh kepentingan sendiri, bukan pertimbangan keamanan. (Hui)



