Laporan Kongres AS: 20 Tahun Kesepakatan Rahasia Antara PKT dan Rezim Maduro Terbongkar

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Selama bertahun-tahun, demi mempertahankan rezim diktator Venezuela yang korup, otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memberikan dukungan menyeluruh, termasuk menanggung tekanan sanksi Amerika Serikat dengan melakukan sejumlah besar transaksi rahasia di bidang militer, ekonomi, dan teknologi dengan rezim Nicolás Maduro.

Laporan terbaru Kongres Amerika Serikat mengungkap seluruh praktik tersebut, termasuk peran kunci Huawei dan ZTE dalam membantu pemerintahan Maduro memantau rakyat Venezuela.

Sebuah lembaga independen di bawah Kongres AS — Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan AS–Tiongkok (USCC) — baru-baru ini merilis laporan yang berdasarkan data terverifikasi dan dokumen resmi, yang secara rinci memaparkan hubungan erat antara rezim Maduro dan otoritas PKT di bidang keuangan, minyak, pertahanan, serta kontrol sosial.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa sejak Hugo Chávez berkuasa pada 1998, hubungan PKT–Venezuela berkembang pesat dan pada 2023 ditingkatkan menjadi “kemitraan strategis segala cuaca”. Dukungan menyeluruh dari PKT menjadi urat nadi penting yang memungkinkan rezim diktator Maduro yang korup tetap bertahan.

Menurut laporan tersebut, selama lebih dari dua dekade terakhir, otoritas PKT terus “menyuplai darah” bagi rezim Maduro. Bank-bank kebijakan Tiongkok telah memberikan pinjaman kepada Venezuela dalam jumlah yang melampaui negara Amerika Latin lainnya. Saat ini, utang Venezuela yang belum dilunasi kepada bank-bank Tiongkok masih sedikitnya mencapai 10 miliar dolar AS.

Di sisi lain, sejak 2020, total nilai perdagangan antara Tiongkok dan Venezuela terus meningkat. Dalam 11 bulan pertama tahun 2025 saja, total nilai perdagangan hampir mencapai 6 miliar dolar AS, dengan surplus perdagangan pihak PKT sebesar 3,8 miliar dolar AS.

Meskipun sejak 2019 Amerika Serikat memberlakukan sanksi energi terhadap Venezuela, otoritas PKT tetap menentang tekanan sanksi AS dengan terus membeli minyak Venezuela dalam jumlah besar. 

Sejumlah perusahaan Tiongkok juga menjalankan usaha patungan dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA. Untuk menghindari sanksi AS, sebagian besar minyak yang diimpor Tiongkok dari Venezuela dicatat sebagai berasal dari negara lain, termasuk Brasil dan Malaysia.

Laporan itu juga menyatakan bahwa modal Tiongkok mendominasi sektor-sektor infrastruktur penting Venezuela, seperti energi, telekomunikasi, pelabuhan, irigasi, dan jaringan listrik. Perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti Huawei, ZTE, dan China National Electronics Import & Export Corporation menyediakan teknologi dan infrastruktur bagi Venezuela, serta memainkan peran kunci dalam pengawasan dan pengendalian masyarakat.

Sebagai contoh, ZTE secara khusus mengembangkan sistem yang disebut “Kartu Tanah Air” untuk rezim Maduro, yang digunakan untuk melacak pola pemungutan suara, mendistribusikan pangan dan bahan kebutuhan, serta memantau akun media sosial. Sementara itu, China National Electronics Import & Export Corporation menyediakan versi komersial dari “Tembok Api Besar” Tiongkok kepada rezim Maduro.

Di bidang militer, Venezuela juga sangat bergantung pada dukungan PKT. Di seluruh Amerika Latin, rezim Maduro merupakan pembeli terbesar senjata Tiongkok, dengan pembelian berbagai peralatan militer seperti tank, kendaraan lapis baja, peluncur roket, rudal, dan pesawat terbang. Pihak PKT bahkan membangun dua stasiun satelit di wilayah Venezuela, yang dapat menyediakan jalur strategis bagi militer PKT dalam situasi konflik.

Namun demikian, dalam operasi terbaru Amerika Serikat untuk menangkap “presiden gembong narkoba” Venezuela, Maduro, radar yang disediakan Tiongkok kepada otoritas Venezuela gagal mendeteksi ancaman dan memberikan peringatan tepat waktu. Hal ini juga mengungkap bahwa teknologi Tiongkok masih memiliki kesenjangan besar dibandingkan kemampuan militer Amerika Serikat.

Faktanya, selama lebih dari dua dekade terakhir, selain Venezuela, PKT telah memperluas pengaruhnya ke seluruh kawasan Amerika Latin dan menjadi “mitra dagang” utama bagi sebagian besar negara di kawasan tersebut, termasuk Brasil, Cile, dan Peru. Dengan demikian, Amerika Latin telah menjadi arena penting dalam persaingan strategis antara Amerika Serikat dan PKT.

Menurut laporan Australian Broadcasting Corporation (ABC) pada Kamis  (15 Januari), pada awal 2025 total nilai impor dan ekspor antara kawasan Amerika Latin dan Tiongkok telah mencapai 518,467 miliar dolar AS. Otoritas PKT telah menandatangani perjanjian “Belt and Road” dengan 22 negara Amerika Latin, serta membangun atau mengendalikan sedikitnya belasan pelabuhan utama di kawasan tersebut, termasuk Pelabuhan Chancay di Peru dan dua pelabuhan penting di Terusan Panama.

Namun, sebagai negara pertama di Amerika Latin yang bergabung dengan inisiatif “Belt and Road”, pemerintah Panama kini telah meninggalkan perjanjian dengan Beijing. Pada 2025, Presiden Panama José Raúl Mulino mengumumkan setelah bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa Panama tidak akan memperpanjang perjanjian “Belt and Road” dengan Tiongkok, dan menyebut langkah tersebut sebagai “satu langkah penting untuk memperkuat hubungan AS–Panama”.

Analis senior Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI), Dr. Alex Bristow, dalam wawancara baru-baru ini dengan ABC Mandarin, menyatakan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung mendorong negara-negara yang memiliki aset strategis penting — seperti Terusan Panama — untuk “menjaga jarak” dari Beijing. Oleh karena itu, negara-negara Amerika Latin lainnya kemungkinan akan meniru langkah pemerintah Panama.

“Perubahan besar di Venezuela akan mendorong negara-negara Amerika Latin yang memiliki hubungan erat dengan Tiongkok (rezim PKT) untuk meninjau kembali hubungan mereka dengan Beijing dan mempertimbangkan dengan serius apakah perlu secara jelas mengurangi kerja sama pada tingkat tertentu,” katanya. 

Mengenai penangkapan Maduro oleh Amerika Serikat hanya beberapa jam setelah pertemuannya dengan delegasi utusan khusus Tiongkok, Dr. Bristow menyatakan bahwa meskipun rincian pembicaraan antara Qiu Xiaoqi dan Maduro tidak diketahui, fakta menunjukkan bahwa pertemuan tersebut tidak memberikan efek gentar terhadap Amerika Serikat. Pengiriman utusan khusus oleh Beijing tidak mengubah sikap AS, dan juga tidak mampu mencegah tindakan AS seperti penangkapan Maduro.

Laporan kompilasi oleh Tang Di / Lin Qing 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Upaya TNI Membangun Jembatan di Wilayah Bencana Aceh
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
5 Kelompok Orang yang Sebaiknya Tidak Minum Air Kelapa
• 47 menit lalubeautynesia.id
thumb
Bram Hertasning: Multimoda Jadi Kunci Efisiensi Logistik Nasional
• 7 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Erick sebut FIFA Series penting untuk perkembangan timnas Indonesia
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Pakar Hukum Minta Tidak Ada Konflik Kepentingan dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.