Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada Selasa, seiring ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan tajam produksi serta permintaan ekspor yang kian solid.
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada Selasa, seiring ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan tajam produksi serta permintaan ekspor yang kian solid.
Kontrak berjangka (futures) CPO untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,93 persen ke level 4.108 ringgit Malaysia per metrik ton pada pukul 14.42 WIB.
“Pasar mendapat dukungan dari perkiraan penurunan produksi sekitar 15 persen hingga 17 persen pada Januari, di tengah peningkatan kinerja ekspor yang mencerminkan permintaan kuat,” ujar Direktur Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, dikutip Reuters.
Paramalingam melanjutkan, “Secara keseluruhan, jika kedua faktor ini berlanjut hingga Maret, persediaan akhir berpotensi turun signifikan.”
Lembaga survei kargo dijadwalkan merilis estimasi ekspor periode 1-20 Januari pada hari yang sama.
Di China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,4 persen, sementara kontrak minyak sawitnya menguat 1,18 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga tercatat naik 0,29 persen.
Harga minyak sawit kerap mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing, mengingat komoditas ini bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Harga minyak mentah turut menguat setelah data pertumbuhan ekonomi China melampaui ekspektasi, yang mendorong optimisme permintaan.
Pasar juga mencermati ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi kenaikan tarif AS terhadap negara-negara Eropa, menyusul keinginannya untuk membeli Greenland.
Penguatan harga minyak mentah membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sementara itu, ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,05 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat harga komoditas ini sedikit lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing.
Futures minyak sawit mentah Malaysia diperkirakan rata-rata sedikit lebih rendah pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pasokan yang lebih kuat dari produsen utama serta permintaan biodiesel yang relatif lemah diperkirakan menekan harga, berdasarkan jajak pendapat Reuters. (Aldo Fernando)



