EtIndonesia, Pada malam 18 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan ulang sebuah prediksi politik yang memicu perhatian luas. Prediksi tersebut berasal dari mantan penulis pidato Gedung Putih sekaligus komentator politik Amerika, Marc Thiessen.
Dalam unggahan tersebut, Thiessen menuliskan: “Saya memperkirakan Trump akan mengunjungi Iran yang merdeka, Havana yang merdeka, dan Caracas yang merdeka sebelum masa jabatannya berakhir.”
Unggahan ulang ini dipandang banyak pengamat sebagai sinyal simbolik dukungan terhadap perubahan rezim di negara-negara yang selama ini berada di bawah pemerintahan otoriter dan bermusuhan dengan Washington.
Peringatan Keras dari Teheran
Tak lama setelah unggahan tersebut beredar, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan peringatan terbuka kepada pihak asing. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang total terhadap rakyat Iran.
Pezeshkian menyatakan bahwa tindakan semacam itu akan dibalas dengan respons keras dan menyeluruh, menandai meningkatnya retorika konfrontatif dari Teheran di tengah eskalasi krisis domestik dan internasional.
Pergerakan Militer AS dan Sinyal Tekanan Mendadak
Di sisi militer, sejumlah perkembangan strategis turut menyita perhatian. Beberapa sumber pertahanan melaporkan bahwa sistem pelacakan posisi kapal induk nuklir AS USS George Washington telah dimatikan, sehingga lokasi pastinya kini tidak dapat dipantau publik.
Kapal induk tersebut dilaporkan telah meninggalkan Pantai Timur Amerika Serikat sejak pekan sebelumnya. Situasi ini kontras dengan USS Abraham Lincoln, yang masih dapat dilacak dan diketahui bergerak menuju kawasan yang berdekatan dengan Iran.
Analis militer menilai konfigurasi ini membuka kemungkinan tekanan militer mendadak dan tanpa peringatan, dengan dua kapal induk bertenaga nuklir AS berpotensi beroperasi secara bersamaan di kawasan tersebut.
Selain itu, dilaporkan pula bahwa:
- Dua jet tempur F-15 AS
- Empat pesawat pengisian bahan bakar udara
sedang bergerak menuju Timur Tengah. Kapasitas persenjataan maksimum F-15 mencapai sekitar 23.000 pon, sementara F-35 sekitar 5.000 pon, memperkuat indikasi kesiapan tempur berintensitas tinggi.
Klaim Internal IRGC: Angka Korban Disebut Jauh Lebih Besar
Di tengah ketegangan ini, seorang individu yang mengaku sebagai anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia menuding bahwa angka resmi korban tewas yang diumumkan pemerintah adalah kebohongan, dan menyebut bahwa jumlah korban sebenarnya telah melampaui 30.000 orang.
Dalam pernyataannya, ia mengatakan: “Kami tidak akan lagi bernegosiasi dengan kalian. Kami tidak akan lagi meminta kalian bergabung dengan rakyat. Demi setiap jengkal tanah Iran, semua yang kalian lakukan akan tercatat dalam sejarah Iran. Kalian akan segera menyadarinya.”
Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada komunitas internasional yang telah menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran.
22 Hari Protes Nasional dan Krisis Kemanusiaan
Hingga 18 Januari 2026, gelombang protes nasional di Iran telah berlangsung selama 22 hari berturut-turut. Dalam hampir dua pekan terakhir, aparat keamanan Teheran disebut menggunakan peluru tajam untuk membubarkan demonstrasi.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sebagian besar korban berusia di bawah 30 tahun, memperdalam kekhawatiran akan hilangnya satu generasi muda Iran.
Data yang dihimpun dari:
- 8 rumah sakit mata besar
- 16 unit gawat darurat
memperkirakan jumlah korban luka mencapai 330.000 hingga 360.000 orang. Seorang saksi mata mengungkapkan bahwa dalam satu malam di Teheran pernah dilakukan lebih dari 800 operasi pengangkatan bola mata, menggambarkan skala kekerasan yang ekstrem.
Televisi Nasional Diretas, Pesan Reza Pahlavi Disiarkan
Pada 18 Januari, televisi nasional Iran dilaporkan diretas dan menayangkan video Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran di pengasingan.
Dalam pesannya yang ditujukan langsung kepada militer Iran, Reza Pahlavi mengatakan: “Kalian adalah tentara nasional Iran, bukan tentara Republik Islam. Kalian bertanggung jawab melindungi nyawa kalian sendiri. Waktu kalian tidak banyak, segeralah berdiri di pihak rakyat.”
Pesan ini dipandang sebagai seruan terbuka untuk pembelotan aparat keamanan.
Pandangan CSIS: Tiongkok dan Rusia Dinilai Tak Efektif Melindungi Iran
Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) melalui penasihat senior bidang pertahanan dan keamanannya Mark F. Cancian menyatakan bahwa Beijing kemungkinan hanya akan merespons potensi serangan terhadap Iran dengan kecaman rutin dan seruan menahan diri.
Ia menambahkan bahwa ketika Amerika Serikat benar-benar bertindak, kemitraan Iran dengan Tiongkok hampir tidak memberikan perlindungan nyata. Menurutnya, semakin banyak negara kini menyadari bahwa Rusia dan Tiongkok memiliki keterbatasan serius dalam melindungi mitra-mitranya.
PBB Soroti Eksekusi Massal dan Disfungsi Dewan Keamanan
Di ranah HAM internasional, Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, mengungkapkan bahwa Iran mengeksekusi sekitar 1.500 orang sepanjang tahun lalu.
Ia memperingatkan bahwa skala dan kecepatan eksekusi tersebut menunjukkan hukuman mati digunakan secara sistematis sebagai alat teror negara. Organisasi HAM internasional menegaskan bahwa Iran merupakan negara dengan jumlah eksekusi terbanyak kedua di dunia setelah Tiongkok.
Pada hari yang sama, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB tidak lagi mencerminkan realitas dunia saat ini, bersifat disfungsional, dan bekerja secara tidak efisien.
Reaksi Publik Global dan Solidaritas Internasional
Pada 18 Januari, beredar video di platform Douyin yang mengklaim seorang reporter Xinhua dipukuli demonstran di Iran. Namun, di kolom komentar, banyak warganet justru menyambutnya dengan sorak sorai, bahkan menyindir praktik propaganda media negara Tiongkok.
Sementara itu, aksi solidaritas internasional terus meluas:
- Los Angeles menggelar demonstrasi besar, menampilkan boneka raksasa berwajah Xi Jinping dan Ali Khamenei yang digantung, sebagai simbol hukuman mati.
- Lebih dari 10.000 orang di Vancouver berunjuk rasa di depan Galeri Seni pusat kota mendukung rakyat Iran.
- Warga Hong Kong di Richmond Hill, Ontario, menggelar aksi solidaritas dengan spanduk bertuliskan:
“Warga Hong Kong berdiri bersama rakyat Iran yang memperjuangkan kebebasan.”
Refleksi Sejarah yang Kembali Dipertanyakan
Sejumlah netizen kemudian mengaitkan krisis saat ini dengan sejarah. Mereka mengingatkan bahwa pada 4 Juni 1989, parlemen Iran secara resmi memilih Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi.
Komentar yang beredar menyebut: “Tiongkok dan Iran memasuki masa paling kelam pada hari yang sama. Apakah ini kebetulan, atau ada keterkaitan yang tak kasat mata?”
Kesimpulan
Perkembangan pada 18 Januari 2026 menandai titik eskalasi serius dalam krisis Iran—mulai dari tekanan militer Amerika Serikat, peringatan keras Teheran, klaim korban massal, hingga gelombang solidaritas global. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik Iran tak lagi bersifat domestik, melainkan telah menjadi krisis internasional dengan implikasi geopolitik luas. (***)


