Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai membentuk lingkaran diplomasi barunya lewat inisiatif bertajuk "Dewan Perdamaian Gaza" atau “Board of Peace”. Itu adalah forum yang diklaim bertujuan membantu menyelesaikan konflik global, terutama di Gaza, Palestina.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump mengungkap telah mengundang sejumlah pemimpin negara, mulai dari Rusia, Armenia, China, Maroko, Israel, hingga Polandia, untuk bergabung dalam badan perdamaian yang dipimpinnya itu.
Kantor berita Reuters melaporkan, Trump pertama kali mengumumkan undangan tersebut kepada wartawan pada Senin (19/1) malam. Ia mengatakan telah mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menjadi bagian dari forum itu.
“Dia sudah diundang,” kata Trump singkat, tanpa menjelaskan apakah Putin sudah memberikan jawaban.
Tak lama berselang, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan membenarkan dirinya juga menerima undangan serupa. Kantor berita Rusia TASS melaporkan, Pashinyan mengaku telah mendapat ajakan resmi untuk bergabung dalam “Board of Peace”, meski belum mengungkap keputusan akhir pemerintah Armenia.
Undangan Trump kemudian dikonfirmasi oleh pemerintah China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing telah menerima undangan untuk ikut serta dalam inisiatif tersebut, namun enggan membeberkan lebih jauh apakah China akan menerima atau menolaknya.
Sementara itu, Maroko menjadi salah satu negara yang secara terbuka menyatakan menerima ajakan Trump. Kementerian Luar Negeri Maroko mengumumkan Raja Mohammed VI setuju bergabung sebagai anggota pendiri “Board of Peace”.
Dalam pernyataannya, Maroko juga menyambut baik fase kedua rencana perdamaian Trump, termasuk pembentukan Komite Nasional untuk Administrasi Gaza sebagai badan transisi sementara.
Trump juga mengundang Israel dan Polandia untuk masuk dalam forum tersebut. Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah kedua negara soal sikap mereka, undangan itu menambah panjang daftar sekutu utama AS yang diajak terlibat dalam inisiatif diplomasi baru ini.
Hingga kini, Gedung Putih belum menjelaskan secara rinci konsep, struktur, maupun mekanisme kerja “Board of Peace”. Belum jelas pula siapa saja anggota resminya dan bagaimana forum ini akan berperan dalam menyelesaikan konflik internasional yang sedang berlangsung di berbagai kawasan.
Meski masih minim detail, inisiatif ini langsung menjadi sorotan karena melibatkan negara-negara besar dengan kepentingan geopolitik yang kompleks. Trump menegaskan forum ini ditujukan untuk mendorong penyelesaian damai, namun dunia kini menanti apakah “Board of Peace” akan benar-benar menjadi terobosan diplomasi baru atau justru memunculkan dinamika politik baru di panggung global.




