Kisah umat masa lalu sering diperlakukan seperti dekorasi khutbah: indah didengar, aman ditaruh di kejauhan. Sering dikisahkan dengan nada moral, tetapi jarang benar-benar dihadirkan sebagai cermin. Sejarah lalu diperlakukan seperti museum—boleh dikunjungi, boleh dikagumi, tetapi tidak diizinkan mengganggu rutinitas hari ini. Padahal, sebagian kisah itu bukan sekadar arsip peradaban. Riwayat itu menyimpan pola yang berulang: kekuasaan yang merasa paling benar, umat yang menawar ketaatan, serta pembangunan yang melahirkan kebanggaan berlebihan. Semua pernah terjadi. Semua pernah runtuh. Namun anehnya, selalu terasa seperti cerita orang lain.
Tulisan ini berangkat dari upaya mengkaji sejarah masa lalu dengan menelaah tiga latar penting: pola kekuasaan Firaun, perilaku Bani Israil, dan pengalaman kaum ‘Ād. Ketiganya dihadirkan bukan sebagai kisah yang telah usai, melainkan sebagai pelajaran dan cermin bagi masa kini. Fokusnya lebih sederhana, namun justru lebih mengusik kesadaran: menelusuri watak berulang yang pernah mengantar umat-umat terdahulu pada kehancuran moral dan sosial.
Firaun memberi contoh bagaimana kekuasaan dapat tampil kuat, rapi, dan meyakinkan--namun diam-diam memecah manusia dan menormalisasi ketulian. Bani Israil memperlihatkan sisi lain: umat yang telah menerima nikmat dan petunjuk, tetapi mudah menolak arahan ketika tidak sejalan dengan keinginan. Kaum ‘Ād menunjukkan wajah ketiga: kebanggaan pada pembangunan dan capaian fisik yang membuat hati merasa kebal dari koreksi.
Kekuasaan, pada hakikatnya, adalah amanah untuk memakmurkan masyarakat. Program lahir untuk menjawab kebutuhan. Anggaran digelontorkan untuk menghasilkan manfaat. Narasi dibangun agar rakyat percaya. Masalah mulai muncul ketika “pro-rakyat” berhenti sebagai slogan, lalu tersandung di wilayah yang paling menentukan: pelaksanaan. Kesalahan desain, salah urus, salah prioritas, salah orang, salah kontrol. Kritik muncul sebagai alarm. Evaluasi datang sebagai pengingat. Saran mengalir sebagai bentuk kepedulian.
Titik krusialnya sederhana: telinga kekuasaan. Ketika evaluasi dianggap penghinaan, kritik diperlakukan sebagai ancaman, dan masukan dibaca sebagai sikap tidak mendukung, kerusakan mulai menjadi sistem. Bukan kerusakan yang gaduh. Kerusakan yang rapi--berjalan dalam laporan, dibungkus narasi, dan diterima sebagai rutinitas.
Prinsip amanah dan keadilan diletakkan Al-Qur’an dengan sangat terang: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisā’ [4]: 58). Amanah dan keadilan bukan aksesoris pidato. Ia standar yang akan dimintai hisab.
Firaun—Pola Kekuasaan Firaun pada Masa LaluFiraun sering dipahami sebagai simbol kezaliman yang kasar. Namun sebelum runtuh, kekuasaannya justru tampil rapi, terorganisasi, dan tampak meyakinkan. Ia memiliki struktur, aparatur, dan narasi besar tentang stabilitas. Kekuasaan terasa berjalan. Di balik kerapian itu, nurani mulai disisihkan.
Al-Qur’an merekam watak tersebut: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah.” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 4). Pemecahan tidak selalu dilakukan dengan kekerasan. Ia dapat hadir melalui kebijakan yang membelah, penataan yang menciptakan ketakutan, serta budaya yang membuat kritik terasa berbahaya.
Pola ini diperkuat oleh klaim kebenaran tunggal:
Kalimatnya rapi. Niatnya terdengar bertanggung jawab. Namun di situlah masalahnya: kebenaran dipusatkan pada satu kehendak. Evaluasi berubah menjadi formalitas. Kesalahan ditutupi retorika. Rakyat menanggung akibatnya secara perlahan.
Bani Israil—Petunjuk yang Diterima, Arahan yang DibantahBerbeda dengan Fir’aun, Bani Israil bukan umat tanpa petunjuk. Mereka menyaksikan tanda-tanda dan menerima arahan. Masalah muncul ketika kebenaran tidak sejalan dengan keinginan. Al-Qur’an menegur kecenderungan ini:
Persoalannya bukan kekurangan informasi, melainkan resistensi batin. Petunjuk diterima, lalu dinegosiasikan. Amanah di sini tergelincir bukan karena niat jahat, tetapi karena kebiasaan menunda ketaatan. Diskusi menjadi pengalih. Prosedur menjadi alasan. Substansi tertinggal. Pada akhirnya, kepercayaan melemah dan komitmen runtuh secara perlahan.
Kaum ‘Ād—Pembangunan yang Melahirkan KesombonganKaum ‘Ād menghadirkan potret lain: kekuatan dan pembangunan. Mereka mampu memakmurkan bumi dan membangun struktur. Namun capaian itu melahirkan ilusi kebal.
Al-Qur’an mengingatkan:
Namun kekuatan tanpa amanah berubah menjadi kesombongan:
Kritik dianggap gangguan. Peringatan dinilai tidak relevan. Angka menjadi ukuran tunggal keberhasilan. Keruntuhan tidak datang tiba-tiba. Ia bermula dari runtuhnya kepekaan. Bangunan boleh berdiri, tetapi ruh peradaban telah pergi.
Dampak bagi Rakyat, Risiko bagi PenyelenggaraKetika pola-pola ini berulang, rakyat membayar harga yang tidak selalu kasatmata. Kerugian jarang meledak sebagai krisis terbuka; ia meresap ke pengalaman harian: layanan yang kian tidak manusiawi, keadilan yang tertunda tanpa kepastian, dan jarak antara janji serta kenyataan yang makin sulit dijelaskan. Pada tahap ini, penderitaan terbesar bukan hanya kekurangan materi, melainkan hilangnya rasa bermakna-bahwa hidup masih diatur oleh sistem yang mau mendengar dan belajar.
Kerusakan kemudian terasa “normal”. Normalisasi inilah yang berbahaya. Ketika yang tidak adil dianggap biasa, dan yang keliru diterima sebagai rutinitas, nurani sosial mengalami kelelahan. Kepercayaan publik terkikis pelan-pelan. Kritik terasa sia-sia. Partisipasi melemah. Orang-orang yang kompeten memilih menepi. Negara tidak runtuh karena konflik, melainkan karena kehilangan energi sosial-kepercayaan yang seharusnya menjadi bahan bakar kebijakan.
Bagi para penyelenggara, risikonya sama nyatanya. Kekuasaan yang menutup diri dari koreksi mungkin tetap berjalan secara prosedural, tetapi kosong secara moral. Legitimasi merosot; masalah kecil membesar karena ditunda; keputusan lebih sering diukur oleh pembenaran daripada kebenaran. Pada titik ini, amanah kehilangan ruhnya. Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap pilihan dan instrumen batin akan dimintai pertanggungjawaban: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36). Kekuasaan yang mengabaikan koreksi sedang menabung krisis-di dunia dan di hadapan Allah.
Mengapa Allah Seolah Membiarkan?Pertanyaan ini sering lahir dari ruang batin yang lelah. Ketika ketidakadilan berlangsung lama dan rakyat menanggung beban, wajar jika timbul tanya: mengapa semua ini seakan dibiarkan? Al-Qur’an menuntun kita membedakan pembiaran dari penangguhan. Yang tampak seperti pembiaran sering kali adalah penangguhan-sebuah tempo yang diberikan bukan karena benar, melainkan karena sedang diuji. Al-Qur’an menegaskan:
Penangguhan bukan tanda ridha. Ia ruang untuk sadar, kesempatan untuk kembali, sekaligus waktu bagi watak sejati kekuasaan untuk menampakkan diri. Waktu bukan jaminan keselamatan. Waktu adalah kesempatan terakhir sebelum pertanggungjawaban tiba.
PenutupBelajar dari umat masa lalu bukan nostalgia, apalagi romantisasi sejarah. Ia adalah ikhtiar menjaga masa depan agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesombongan yang rapi, agar petunjuk tidak berhenti sebagai pengetahuan tanpa ketaatan, dan agar pembangunan tidak dijadikan tameng untuk menutup kesalahan. Sejarah tidak sedang mencari korban. Sejarah sedang menawarkan pelajaran-dengan satu harapan sederhana: kesalahan yang sama tidak perlu kembali dibayar dengan penderitaan rakyat.





