Harga Bir Naik hingga Pola Hidup Sehat Bikin Warga Inggris Mulai Tinggalkan Pub

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pub menjadi salah satu tempat yang tak terpisahkan dari masyarakat Inggris. Namun meningkatnya pajak properti, anak muda yang menerapkan hidup sehat dengan tidak minum alkohol alias teetotalisme, dan persaingan dengan supermarket membuat popularitas pub tidak lagi seperti dulu.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Financial Times dari perusahaan riset IWSR, orang Inggris kini minum lebih sedikit alkohol dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam data yang dirilis pada Desember 2025 lalu, rata-rata orang dewasa Inggris mengkonsumsi 10,2 minuman alkohol per minggu pada tahun 2024.

Ini merupakan data terendah sejak pengumpulan data dimulai pada 1990. Padahal sekitar dua dekade lalu, orang Inggris minum 14 minuman alkohol per minggu, menjadikannya yang tertinggi selama ini.

"Populasi semakin menua dan konsumen yang lebih tua secara fisiologis tidak bisa lagi minum sebanyak dulu," kata presiden IWSR, Marten Lodewijks, dikutip dari The Guardian, Selasa (20/1).

"Ada juga unsur kesadaran kesehatan dan biaya hidup meningkat, sehingga masyarakat tidak mampu 'minum di luar' sebanyak dulu," lanjutnya.

Tak cuma karena meningkatnya kesadaran kesehatan, pub juga harus bersaing dengan harga bir di supermarket. Berdasarkan data harga resmi yang dianilisis oleh Bloomberg, harga segelas bir naik lebih dari dua kali lipat setara harga bir lager di supermarket.

Perbedaan ini semakin melebar karena pub berjuang untuk menyerap berbagai biaya tambahan. Terlepas dari kenaikan tarif bisnis yang baru-baru ini membuat para pemilik pub geram, supermarket tidak dikenakan pajak penjualan untuk banyak makanan. Ini membuat pemilik pub mengeluh, karena kebijakan tersebut membuat kompetitor menjual alkohol dekat ke harga pokok dengan mensubsidi margin keuntungan yang lebih rendah terhadap bir lewat keuntungan dari penjualan makanan.

"Subsidi ini memungkinkan supermarket untuk pada dasarnya menurunkan harga bir," kata pendiri sekaligus ketua jaringan pub JD Wetherspoon Plc, Tim Martin, kepada Bloomberg.

"Masalahnya bermuara pada ini: apakah parlemen dan publik menghargai pub? Jika jawabannya iya, sebagai masalah akal sehat, pub tidak dapat dikenakan rezim pajak yang jauh lebih ketat dibandingkan supermarket," lanjutnya.

Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa harga bir premium di pub meningkat hampir 70% selama 15 tahun menjadi 0,92 poundsterling per 100 ml berdasarkan data baru yang tersedia. Berdasarkan perhitungan dari kutipan harga Kantor Statistik Nasional, harga bir setara 100 ml di sebuah toko meningkat 40% menjadi 0,43 poundsterling.

Jika rata-rata harga bir di pub hanya 75 persen, lebih mahal dari harga pada 2010, itu berarti bahwa pada tahun lalu harganya telah naik 112 persen.

Setelah perselisihan mengenai kenaikan tarif bisnis, Menteri Keuangan Rachel Reeves berjanji untuk meringankan beban yang dianggap oleh banyak pub sebagai ancaman besar bagi kelangsungan usaha mereka. Namun, Reeves masih belum menjelaskan detail bantuan apa yang akan diberikan.

Lebih lanjut, para pemilik bar menyatakan menghadapi kerugian dibandingkan dengan supermarket di berbagai bidang.

"Kami membayar tarif bisnis yang lebih tinggi, biaya energi yang lebih tinggi karena kami lebih intensif energi, biaya tenaga kerja yang lebih tinggi, dan kami tidak mampu menurunkan harga bir sebagai strategi menarik pelanggan karena minuman adalah hal utama yang kami jual," kata ketua Inda Pubs Ltd dan Randalls Pubs & Restaurants, Clive Watson, kepada Bloomberg.

"Sektor pub telah dihantam oleh pemerintah dan satu-satunya cara Anda bisa bertahan adalah dengan menaikkan harga," lanjutnya.

Para pejabat Inggris pada minggu lalu mengatakan lebih dari 5 ribu pub akan mengalami peningkatan nilai pajak properti dua kali lipat. Sektor ini menghadapi peningkatan nilai pajak properti sebesar 32 persen dibandingkan tahun 2023.

Pemilik pub independen The Hare di East London, Julian Apperley, juga menyoroti perbedaan perlakuan pajak untuk pub dan supermarket.

"Jika saya mencoba menjual sesuatu dan di tempat lain tidak dikenakan pajak, bagaimana bisa saya bersaing?" kata Apperley.

Asosiasi Bir dan Pub Inggris memperkirakan bahwa pemilik bar hanya memperoleh keuntungan rata-rata sekitar 0,12 poundsterling per pint, sementara harga satu pint biasanya mencapai 5,01 poundsterling. Kepala eksekutif asosiasi, Emma McClarkin, mengatakan tekanan diperparah oleh kenaikan asuransi nasional, upah minimum nasional, dan biaya energi.

"Ada tanda-tanda bahwa pemerintah mendengarkan sektor ini dan mencari cara untuk mendukungnya. Kami telah berkampanye untuk keringanan khusus pub sebesar 30 persen untuk membantu meringankan margin ketat yang dihadapi pemilik pub," kata McClarkin.

Kenaikan harga bir tak hanya merugikan dari segi bisnis, tapi juga mendorong pelanggan menjauh dari pusat sosial lokal menuju budaya bersosialisasi di dalam ruangan.

"Harga tentu saja jadi faktor," kata mahasiswa asal Ukraina yang tinggal di London, Kira Strulieva.

Bagi banyak orang, empat botol bir kemasan yang dijual di supermarket tidak akan pernah menandingi suasana klub, yang telah lama berperan sebagai lembaga komunitas penting di Inggris.

"Minum di rumah tidak semenyenangkan itu," kata warga berusia 28 tahun, Kate Brownsen.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Smartwatch Copilot ATR 42-500 Catat Ribuan Langkah, Keluarga Yakin Farhan Masih Hidup
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, OJK Bicara Dampaknya ke Perbankan
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Nusron Wahid Ogah Kasih Sertifikat Tanah Sebelum Rumah Korban Bencana Rampung Dibangun
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Alarm Banjir Jawa: Prabowo Perintahkan Aksi Cepat, Zona Merah Disisir
• 22 jam lalusuara.com
thumb
Indikasi Tukar Jabatan Wamenkeu-Deputi Gubernur BI, Menkeu Purbaya: Niatnya Dia Apa Sih
• 14 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.