Low-Maintenance Friendship, Sahabat yang Jarang Bertemu, Tapi Tetap Dekat

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ketika kita remaja, persahabatan sering kali diukur dari seberapa sering bertemu, seberapa panjang obrolan, atau seberapa cepat membalas pesan. Namun, seiring bertambahnya usia, hidup mulai dipenuhi oleh pekerjaan, relasi, dan tanggung jawab yang tak ringan. Waktu dan energi sosial menjadi terbatas, sehingga bentuk persahabatan pun ikut berubah. Bukan menjadi renggang, tapi proses menjadi dewasa ini justru menciptakan ritme baru dalam persahabatan.

Persahabatan dewasa tidak selalu hadir dalam bentuk pertemuan rutin atau komunikasi yang intens. Ada sahabat yang jarang ditemui, bahkan tak selalu berbincang setiap minggu, tetapi tetap terasa dekat. Dalam hubungan seperti ini, tak ada rasa canggung meski lama tak berkabar, dan tak ada kewajiban untuk selalu hadir di setiap momen. Inilah yang dikenal sebagai low-maintenance friendship.

“Kedekatan dalam persahabatan tidak diukur dari seberapa sering kita berkomunikasi, tetapi dari rasa aman bahwa hubungan itu tetap ada, bahkan saat kita tidak sering berbicara,” ujar Dr. Marisa G. Franco, psikolog asal Amerika Serikat dan penulis buku Platonic. Menurutnya, rasa aman dan kepercayaan justru menjadi fondasi terpenting dalam hubungan pertemanan jangka panjang.

Apa itu low-maintenance friendship?

Low-maintenance friendship adalah bentuk persahabatan yang tidak bergantung pada intensitas komunikasi atau frekuensi pertemuan. Hubungan ini tetap terjaga meski jarang chat, jarang bertemu, dan minim validasi. Kedekatan dibangun dari pemahaman bahwa masing-masing memiliki kehidupan dan kapasitas emosional yang berbeda. Persahabatan ini terasa ringan, tetapi tetap kuat.

Ciri-ciri low-maintenance friendship di antaranya, jarang berkomunikasi dengan sahabat, tetapi tetap merasa terhubung. Tidak menuntut balasan pesan yang cepat, tanpa rasa tersinggung atau curiga. Saat akhirnya bertemu, obrolan mengalir seolah tak pernah terpisah waktu.

Cara merawat low maintenance friendship agar pertemanan tetap awet

Fenomena low maintenance friendship semakin umum terjadi di usia dewasa karena kehidupan membawa banyak tuntutan. Pekerjaan, relasi romantis, kelelahan mental, hingga burnout membuat energi sosial menjadi terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, persahabatan yang minim tuntutan justru terasa lebih realistis dan menenangkan. Tidak ada tekanan untuk selalu hadir, cukup saling memahami batasan satu sama lain.

Agar low-maintenance friendship tetap awet, kuncinya terletak pada sikap saling menghargai perubahan hidup yang terjadi. Kamu bisa tetap memberi kabar untuk hal-hal penting, tanpa harus ketemu setiap hari.

Jangan lupa untuk hindari asumsi berlebihan saat komunikasi jarang terjadi. Dan ketika akhirnya bertemu, coba untuk hadir sepenuhnya, tanpa distraksi apapun, dengan versi yang lebih dewasa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sudewo Terjaring OTT Jual Beli Jabatan saat Kasus Korupsi DJKA Belum Selesai, KPK Ungkap Nasib Bupati Pati
• 42 menit lalutvonenews.com
thumb
Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran karena Israel dan Arab Saudi Belum Siap Hadapi Dampaknya
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Kasus Penipuan Masuk Akpol Naik Sidik, Pihak Korban Serahkan Bukti Chat yang Seret Nama Adly Fairuz
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Jaksa Agung: 165 Pegawai Kejaksaan Kena Hukuman Selama 2025, Turun Jabatan-PTDH
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
AS Kerahkan Pesawat ke Pangkalan Greenland, Klaim Hanya Operasi Rutin
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.