Bisnis.com, JAKARTA — Produsen sorgum, PT Berkah Inti Daya mengalihkan strategi pengembangan sorgum yang semula difokuskan untuk menggantikan beras, kini beralih pemanfaatannya sebagai biomassa energi.
Hal ini dikarenakan upaya komersialisasi beras sorgum belum mendapat penerimaan pasar. Perusahaan tersebut kini memanfaatkan sorgum sebagai biomassa energi dengan kepastian serapan sambil menyiapkan langkah jangka panjang untuk kembali mengembangkan sorgum sebagai pangan.
Direktur Utama PT Berkah Inti Daya Eri Prabowo menyampaikan bahwa sekitar 5 tahun lalu perusahaan sempat mengembangkan sorgum menjadi beras di Blora. Namun, minat konsumen yang rendah membuat program tersebut dihentikan.
“Karena memang tidak disukai oleh masyarakat, akhirnya kami tutup. Kami bangkit lagi, tapi dengan strategi baru dari bencana ke strategi yaitu biomassa,” kata Eri dalam Core Outlook Sektoral 2026, Selasa (20/1/2026).
Dia menyebut, sorgum termasuk tanaman serealia yang adaptif dan memiliki ketahanan tinggi. Setelah pengalaman kurang berhasil di sektor pangan, perusahaan melihat peluang biomassa karena memiliki offtaker atau pembeli yang jelas dari sisi volume hingga jangka waktu kebutuhannya.
Pemanfaatan biomassa ini dinilai menjadi bantalan bisnis perusahaan. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menjaga keberlanjutan usaha sambil menyiapkan pengembangan sorgum ke tahap berikutnya.
Baca Juga
- Pemerintah Jabar Perluas Pengembangan Sorgum untuk Dorong Kemandirian Pangan
- Bank Mandiri Perkuat Ekonomi Desa Melalui Budidaya Sorgum di Bogor
- Dulu Tanam Sawit, Kini Petani Dumai Belajar Mengolah Sorgum Jadi Makanan Sehari-hari
“Ini menjadi bantalan perusahaan kami sebelum nanti kembali ke sorgum sebagai bahan pangan,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa tantangan utama sorgum sebagai pangan bukan pada proses budidaya, melainkan pada penerimaan konsumen. Masyarakat Indonesia dinilai belum terbiasa dengan rasa beras sorgum.
Kualitas beras sorgum sangat ditentukan oleh proses pengupasan kulit ari. Dari sisi agronomis, sorgum memiliki keunggulan karena dapat tumbuh di lahan kering dan marginal. Tanaman ini dapat berkembang di tanah kapur, tanah berbatu, hingga tanah berpasir.
Dia juga menilai sorgum relevan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim, misalnya pengembangan sorgum di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
“Waktu itu sorgum di Sumba Timur berhasil dan membantu mengurangi isu kekurangan pangan pokok,” ujarnya.
Selain adaptif, sorgum juga memiliki masa panen relatif singkat. Untuk kebutuhan biomassa, panen dapat dilakukan sekitar 70 hari setelah tanam, sedangkan untuk menghasilkan bulir dibutuhkan waktu sekitar 100 hari. Saat ini, perusahaan masih memprioritaskan pemanfaatan biomassa.
PT Berkah Inti Daya telah menanam sorgum di sejumlah lahan di wilayah Pelabuhan Ratu untuk memasok biomassa ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas usaha.
“Kami sudah menanam beberapa hektare untuk suplai ke PLTU,” ujarnya.
Dari sisi produksi, hasil biomassa sorgum dapat mencapai sekitar 30 ton per hektare kering. Dengan nilai kalor sekitar 3.000 kkal per kilogram, biomassa tersebut dihargai sekitar Rp500.000 per ton.
“Kalau dikalikan, nilainya sekitar Rp15 juta per hektare,” imbuhnya.
Sementara itu, produksi beras sorgum dapat mencapai sekitar 4 ton per hektare. Biaya produksinya dinilai lebih rendah dibandingkan padi.
“Kalau padi sekitar Rp18 juta per hektare, sorgum itu setengahnya atau sedikit lebih rendah,” terangnya.
Ke depan, perusahaan menilai sorgum berpotensi menjadi komoditas strategis dengan berbagai sumber pendapatan, mulai dari biomassa, pangan, pakan ternak, hingga benih.
“Sorgum ini bisa menjadi game changer, baik di sektor pangan maupun energi,” pungkasnya.




