FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dari hari ke hari terus mengalami tekanan. Kendati begitu, pemerintah mengaku belum berdampak terhadap ekonomi nasional.
Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1), nilai tukar rupiah nyaris menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dolar AS.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah tersebut belum memberi dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.
Purbaya menilai, jika dilihat dari sisi persentase, pelemahan rupiah saat ini masih relatif terbatas dibandingkan level sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa fondasi sistem ekonomi Indonesia masih cukup terjaga.
“Memang melemah, tapi kalau dilihat dari persentasenya sedikit lah dibanding level sebelumnya. Jadi artinya sistem juga terlihat. Menurut saya dampak ke ekonomi akan minimum,” kata Purbaya saat ditemui di Kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/1).
Ia menekankan, kunci utama menjaga stabilitas rupiah adalah dengan terus memperkuat fundamental ekonomi domestik. Ketika fondasi ekonomi membaik, kepercayaan pasar akan meningkat dan investor akan kembali masuk ke Indonesia.
“Yang penting fondasi ekonomi kita terus diperbaiki. Ekonomi di dalam negeri meningkat, orang akan melihat. Rupiahnya bagus, investor akan balik ke sini, termasuk investor asing,” jelasnya.
Purbaya juga menyinggung pergerakan positif pasar modal sebagai salah satu indikator masuknya aliran dana asing. Menurutnya, penguatan pasar modal tidak mungkin terjadi tanpa partisipasi investor global.
“Karena dilihat di pasar modal, naik kan. Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing yang masuk ke sini juga,” imbuhnya.
Dengan kondisi tersebut, Purbaya optimistis rupiah ke depan berpeluang kembali menguat seiring perbaikan ekonomi yang terus dijaga pemerintah. Ia pun mengingatkan pelaku pasar agar tidak berspekulasi berlebihan terhadap pergerakan nilai tukar.
“Kalau ekonomi kita jaga terus dan kita perbaiki ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Jadi untuk spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan pemerintah bersama otoritas terkait telah melakukan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan DPR. Dalam pertemuan tersebut, DPR mendorong agar sinergi kebijakan antarlembaga terus diperkuat.
“Sudah jelas DPR meminta kita untuk lebih sinergi lagi ke depan. Dengan dukungan DPR, kita akan semakin sinergi,” ungkapnya.
Sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), kata dia, diyakini akan menggerakkan seluruh mesin ekonomi asional.
“Artinya mesin-mesin ekonomi kita akan bergerak semua. Pemerintah, swasta, akan mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi,” pungkas Purbaya. (fajar)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/2913252/original/006053400_1568693352-WhatsApp_Image_2019-09-17_at_10.57.35_AM.jpeg)
