EtIndonesia. Ada sebuah aliran sungai kecil yang mengalir turun dari pegunungan tinggi. Dia telah melewati banyak desa dan hutan, hingga akhirnya tiba di sebuah gurun pasir.
Dia berpikir : “Aku sudah berhasil melewati begitu banyak rintangan. Kali ini pun, seharusnya aku bisa menyeberangi gurun ini.”
Namun ketika dia benar-benar mencoba menyeberangi gurun, air sungainya perlahan menghilang, terserap ke dalam pasir. Dia mencoba lagi dan lagi, tetapi semuanya sia-sia. Akhirnya dia putus asa.
“Mungkin inilah takdirku,” gumamnya lesu. “Aku takkan pernah sampai ke samudra luas yang selama ini hanya menjadi legenda.”
Tiba-tiba, terdengar suara berat dan dalam dari sekelilingnya : “Jika angin sepoi-sepoi bisa menyeberangi gurun, maka sungai pun bisa.”
Ternyata suara itu berasal dari gurun itu sendiri.
Sungai kecil itu menjawab dengan tidak terima : “Itu karena angin bisa terbang melintasi gurun. Aku tidak.”
“Karena kamu terlalu bersikeras mempertahankan bentukmu yang sekarang, maka kamu tak akan pernah bisa melintasi gurun ini,” ujar gurun dengan suara dalamnya. “Kamu harus membiarkan angin membawa dirimu terbang menyeberangi gurun, menuju tujuanmu. Kamu harus rela melepaskan bentukmu saat ini, membiarkan dirimu menguap dan menyatu dengan angin.”
Sungai kecil itu terkejut. Dia belum pernah mendengar hal seperti ini.
“Melepaskan bentukku sekarang, lalu lenyap bersama angin? Tidak! Tidak mungkin!”
Dia sama sekali tak bisa menerima gagasan itu. Baginya, melepaskan bentuk yang sekarang sama saja dengan menghancurkan diri sendiri. Dia tak pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya.
“Bagaimana aku bisa tahu bahwa ini benar?” tanya sungai kecil.
Dengan sabar, gurun menjawab : “Angin dapat membawa uap air di dalam dirinya, melintasi gurun. Ketika sampai di tempat yang tepat, uap air itu akan dilepaskan dan berubah menjadi hujan. Dan hujan itu akan kembali menjadi sungai, lalu mengalir maju lagi.”
“Lalu… apakah aku masih sungai yang sama?” tanya sungai kecil.
“Bisa dikatakan iya, bisa juga tidak,” jawab gurun. “Entah kamu berwujud sungai atau tak terlihat sebagai uap air, hakikat batinmu tidak pernah berubah. Kamu bersikeras menyebut dirimu sungai hanya karena kamu belum mengenal hakikat sejati dirimu sendiri.”
Saat itu, di dalam hatinya, sungai kecil seakan teringat sesuatu. Dia samar-samar merasa bahwa sebelum menjadi sungai, dia pun pernah dibawa oleh angin, terbang ke lereng gunung di pedalaman, lalu berubah menjadi hujan—dan dari situlah dia terlahir sebagai sungai.
Akhirnya, sungai kecil itu mengumpulkan keberanian. Dia menyerahkan dirinya ke dalam pelukan angin yang terbuka, menghilang di dalamnya, dan membiarkan angin membawanya menuju tujuan hidupnya—pada satu fase perjalanan keberadaannya.
Renungan
Perjalanan hidup kita sering kali mirip dengan kisah sungai kecil ini. Untuk melintasi rintangan hidup, meraih terobosan, dan melangkah menuju nilai kebenaran, kebaikan, serta keindahan, kita memerlukan kebijaksanaan dan keberanian untuk melepaskan ego serta keterikatan diri, dan berani melangkah ke wilayah yang belum kita kenal.
Mungkin kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri:
– Apa hakikat sejati dirimu?
– Apa yang selama ini kamu genggam erat-erat?
– Apa sebenarnya tujuan yang ingin kamu capai?
Pahamilah bahwa hidup tidak hanya memiliki satu bentuk. Ketika lingkungan tidak bisa diubah, cobalah mengubah dirimu sendiri. Selama hakikatmu tetap sama, kamu tetaplah dirimu.
Untuk mencapai tujuan, terkadang kamu memang harus melepaskan bentuk/kebiasaan lamamu.
Sering kali kita terlalu keras mempertahankan pandangan sendiri, sambil berkata : “Dulu juga begini, kenapa sekarang tidak boleh?”
Karena sekarang bukan lagi masa lalu. Demi mencapai tujuan, kadang kita perlu melupakan bentuk kita yang sekarang maupun yang dulu—belajar lentur, menyesuaikan diri dengan arus zaman—barulah kita bisa menemukan jalan untuk bertahan dan melangkah maju.
Jadi, apakah kamu masih bersikeras mempertahankan bentuk/kebiasaan lamamu? (jhn/yn)


