JAKARTA, DISWAY.ID-- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa tren sebaran virus H3N2 Subclade K atau yang lebih dikenal dengan Superflu mengalami penurunan pada awal tahun 2026.
Meski varian subclade K ini sempat terdeteksi merata di 13 provinsi, data terbaru menunjukkan grafik penularan yang konsisten melandai. Penurunan ini menjadi sinyal positif setelah virus tersebut melewati masa puncaknya pada akhir tahun lalu.
BACA JUGA:Arsenal di Puncak Klasemen Liga Champions, Laga Kontra Inter Jadi Ujian Strategi Arteta
BACA JUGA:Polisi Sebut Ketua Ormas MPC PP yang Jadi Buronan Kasus Parkiran di RSUD Tangsel Sudah Meninggal
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menyikapi fenomena ini dengan kepanikan berlebih.
Menurutnya, H3N2 bukanlah entitas virus baru yang muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari siklus influenza musiman yang memang rutin beredar setiap tahun.
"H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman. Berdasarkan hasil pemantauan kami, tren kasus di Indonesia telah menurun, sehingga masyarakat tidak perlu panik," ucap dr. Prima saat dikonfirmasi, Selasa 20 Januari 2026.
BACA JUGA:Mabes Polri Hormati Hasil Putusan MK yang Tolak Uji Materi UU Rangkap Jabatan Polisi Aktif
BACA JUGA:Ginting Perkasa Kalahkan Wakil Thailand, Amankan Tiket Babak Utama Indonesia Masters 2026
Menilik data historis, perjalanan subclade K di Indonesia dimulai sejak pekan ke-36 tahun 2025. Hingga 10 Januari 2026, tercatat ada 74 kasus yang teridentifikasi dari total 204 spesimen yang diperiksa di laboratorium.
Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan temuan kasus paling dominan.
Namun, dr. Prima menggarisbawahi bahwa sejak memasuki minggu ke-52 tahun 2025, tim surveilans tidak lagi menemukan penambahan kasus baru untuk varian subclade K ini.
"Puncak kasus terjadi pada minggu ke-40 tahun 2025 dan terus menurun sejak minggu ke-44. Tidak ada penambahan penemuan kasus A(H3N2) subclade K mulai minggu ke-52," ujarnya.





