IHSG Perkasa saat Pasar Eropa dan Asia Anjlok, Analis Ingatkan Hal Ini

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Dinamika pasar global pada awal pekan ini menyuguhkan anomali yang kontras. Ketika bursa saham Eropa bersimbah darah akibat guncangan geopolitik yang tak terduga, pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia, justru menunjukkan ketahanan yang mengesankan dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH). 

Fenomena ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apakah dunia sedang menyaksikan awal dari rotasi modal besar-besaran dari negara maju ke negara berkembang, ataukah ini sekadar anomali likuiditas domestik di tengah pelarian investor ke aset lindung nilai?

Data perdagangan pada pukul 16.00 WIB Selasa (20/1) ini menunjukkan, indeks bursa Jerman DAX terkoreksi 0,96% ke level 24.720,03, indeks FTSE Inggris merosot 1,05% ke level 10.088,48, dan indeks Stoxx Europe 600 minus 0,99% ke level 601,04. Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks Stoxx Europe 600 juga turun 1,19%, FTSE Inggris anjlok 0,39%, DAX Jerman merosot 1,34%, dan CAC Prancis minus 1,78%.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap perkasa setelah parkir di level 9.134,70 atau terangkat tipis 0,83 poin atau 0,01%. Sementara itu bursa unggulan Asia kompak melemah. Sebut saja Hangseng yang terkoreksi 0,32%, Nikkei minus 1,03%, Shanghai turun tipis 0,01%, dan Kospi turun 0,39%.

Melemahnya pasar dunia, khususnya Eropa, secara serentak bukanlah tanpa alasan. Keputusan investor global untuk melakukan aksi risk-off di Benua Biru dipicu oleh ketegangan geopolitik baru yang melibatkan Amerika Serikat (AS). Presiden Donald Trump secara mengejutkan mengancam akan menerapkan tarif impor sebesar 10% mulai 1 Februari 2026, yang akan melonjak drastis menjadi 25% pada Juni mendatang. Kebijakan proteksionis ini menyasar delapan negara Eropa sebagai bentuk sanksi atas penolakan rencana AS untuk mencaplok Greenland.

Dampak dari ancaman ini terasa seketika di lantai bursa. Ketika indeks Stoxx 600 anjlok awal pekan ini, sektor otomotif dan barang mewah (luxury goods) memimpin koreksi tajam. Head of Retail Marketing & Product Development  Division PT Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan mengatakan, sektor-sektor ini menjadi yang paling sensitif terhadap hambatan perdagangan internasional karena ketergantungan mereka pada ekspor global. 

Sentimen risk-off ini semakin dipertegas dengan melesatnya harga emas dan perak ke level rekor tertinggi baru. "Lonjakan komoditas ini menandakan adanya kepanikan pasar yang memicu pelarian dana besar-besaran ke aset lindung nilai (safe haven), menjauhi aset berisiko di Eropa yang kini terhimpit oleh ketidakpastian tarif," kata Reza kepada Katadata, Selasa (20/1).

Berbanding terbalik dengan koreksi dalam di pasar negara maju, bursa saham di Pakistan dan Indonesia justru menghijau. Menurut dia, ketahanan emerging markets Asia pada awal 2026 ini didorong oleh faktor struktural yang solid. Outlook ekonomi emerging markets Asia menunjukkan bahwa kawasan ini diuntungkan oleh pelemahan dolar AS secara struktural, yang secara historis selalu menjadi katalis positif bagi aliran modal ke negara berkembang. Selain itu, kebijakan moneter di Asia cenderung lebih pro-pertumbuhan dengan tingkat inflasi yang jauh lebih terkendali dibandingkan Barat.

Secara siklikal, performa gemilang negara berkembang saat ini merupakan kelanjutan dari tren positif tahun 2025, yang tercatat sebagai tahun terbaik bagi emerging markets sejak 2017. Penguatan ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari reformasi struktural, fleksibilitas rantai pasok yang mumpuni, serta valuasi aset yang masih sangat murah. 

Saat ini, ekuitas di negara berkembang diperdagangkan dengan diskon sekitar 45% dibandingkan pasar negara maju. Celah valuasi yang lebar inilah yang memberikan ruang apresiasi bagi indeks seperti IHSG untuk terus merangkak naik bahkan ketika pasar global sedang tertekan.

Belum Ada Tanda Rotasi Global

Reza menuturkan, meskipun fundamental emerging markets terlihat menggiurkan, klaim mengenai adanya rotasi modal global penuh dari Barat ke Timur masih perlu dicermati dengan sangat hati-hati. Pasalnya, data menunjukkan sebuah anomali krusial. Kenaikan IHSG ke level ATH terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp710 miliar dalam satu hari perdagangan Senin (19/1) kemarin. Fakta ini menggugurkan hipotesis bahwa penguatan pasar Indonesia didorong oleh masuknya dana asing secara masif.

"Kenaikan pasar domestik saat ini lebih mencerminkan ketahanan likuiditas lokal, yang didorong oleh kekuatan investor ritel dan institusi dalam negeri, ketimbang sebuah rotasi global yang terorganisasi," ujarnya.

Menurut Reza, investor global sebenarnya masih bersikap sangat konservatif dan cenderung memilih aset keras seperti emas sebagai pemenang utama saat ini. Kendati demikian, bibit-bibit rotasi jangka menengah mulai terlihat. Pelemahan dolar AS dan transisi bank sentral Amerika, The Federal Reserve atau The Fed, menuju era suku bunga rendah pada 2026 ini menjadi modal kuat bagi aset emerging markets untuk tampil lebih menarik secara relatif dalam jangka panjang. 

"Namun, untuk saat ini, status pasar berkembang lebih tepat disebut sebagai titik ketahanan (early signs of resilience), bukan sebuah rotasi besar-besaran," katanya.

Proyeksi IHSG dan Strategi Navigasi bagi Investor

Menatap ke depan, IHSG diperkirakan menghadapi volatilitas yang cukup tinggi mengikuti dinamika di Negeri Paman Sam dan Uni Eropa. Dalam skenario utama, kata Reza, IHSG kemungkinan besar akan mengalami konsolidasi di rentang 8.000 hingga 8.350 selama satu hingga dua minggu ke depan. 

Namun, jika sentimen global membaik dan tekanan dolar AS mereda, peluang untuk kembali menguji rekor tertinggi IHSG tetap terbuka lebar. Risiko utama tetap membayangi jika eskalasi perang tarif AS-Eropa meluas melampaui isu Greenland.

Bagi investor di Tanah Air, strategi defensif namun oportunistik menjadi kunci. "Untuk mereka yang sudah memiliki posisi, fokus pada sektor yang digerakkan oleh konsumsi domestik seperti kebutuhan pokok, telekomunikasi, dan kesehatan adalah langkah bijak guna memitigasi kebisingan geopolitik," ucapnya.

Sementara bagi investor yang memiliki cadangan kas, strategi akumulasi bertahap pada saham perbankan besar dan sektor yang diuntungkan oleh likuiditas domestik tetap relevan. "Di sisi lain, diversifikasi ke aset lindung nilai seperti emas tetap disarankan untuk menjaga keseimbangan portofolio di tengah badai risk-off global yang sewaktu-waktu bisa menghantam pasar berkembang melalui jalur sentimen."


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menu MBG saat Puasa: Makanan Lokal hingga Buah-buahan
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Video: BI Konfirmasi Juda Agung Mundur dari Kursi Deputi Gubernur
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Mabes Polri Hormati Hasil Putusan MK yang Tolak Uji Materi UU Rangkap Jabatan Polisi Aktif
• 6 jam laludisway.id
thumb
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan yang Berkaitan dengan Bencana Sumatra
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Smartwatch Jadi Kunci, Jejak Farhan Gunawan Co-Pilot Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Pacar: Langkah Kakinya Bertambah
• 10 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.