Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang nyaris menembus Rp17.000 dinilai membuat investor asing dapat berbelanja saham-saham Indonesia dengan harga yang lebih murah.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami koreksi 0,01% ke Rp16.956 per dolar AS. Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS mengalami pelemahan 0,74% ke level 98,66.
Selain rupiah, yen Jepang terhadap dolar AS turut terkoreksi 0,03%, dolar Hong Kong terkoreksi 0,02%, won Korea melemah 0,43%. Pelemahan juga dialami oleh peso Filipina yang terkoreksi 0,01% dan rupee India melemah 0,04% terhadap dolar AS.
Sementara itu, dolar Singapura menguat 0,02%, yuan China menguat 0,05%, baht Thailand terdepresiasi 0,43%. Di sisi lain, hanya ringgit Malaysia yang stagnan hari ini.
Managing Director Samuel International Harry Su mengatakan dampak depresiasi rupiah ke pasar saham membuat saham-saham Indonesia lebih murah di mata investor asing.
"Kalau ke pasar saham, jadi lebih murah buat asing belanja saham-saham Indonesia," paparnya kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).
Sepanjang tahun berjalan 2026 hingga Senin (19/1/2026), investor asing membukukan beli bersih (net buy) Rp6,59 triliun di pasar saham Indonesia.
Menurut Harry, net buy asing di pasar saham terjadi karena investor mengantisipasi rebalancing indeks MSCI yang akdn dilakukan pada Februari 2026.
"Karena MSCI rebalancing jadi ada yang masuk duluan," imbuhnya.
Meski demikian, Harry melihat ada risiko pembalikan modal asing atau reversal apabila terjadi perubahan metodologi konstituen indeks MSCI. Perubahan itu terutama terkait dengan persentase free float.
Berdasarkan analisa MSCI Indonesia, perubahan aturan MSCI dapat menimbulkan tekanan jual investor asing terhadap saham-saham di Indonesia. Nilainya potensial outflow investor asing diestimasi mencapai US$2 miliar.
Harry menambahkan investor asing cenderung berinvestasi jangka pendek di pasar saham Indonesia. Hal itu mengindikasikan bahwa investor asing cenderung tidak menerapkan lindung nilai atau hedging kurs dalam bertransaksi.
Terpisah, Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS baik domestik maupun global.
"Dari global, sikap Presiden Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya untuk Greenland. Kekhawatiran akan intervensi militer AS ini semakin meningkat," ujarnya dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026). Selain itu, kekhawatiran akan perang dagang kembali muncul setelah
AS mengatakan akan mengenakan bea tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Bea ini dapat meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.
Belum lagi, Uni Eropa (UE) dan Inggris tampaknya siap untuk membalas. UE dilaporkan sedang mempersiapkan tarif balasan hingga €93 miliar untuk barang-barang AS dan juga mempertimbangkan untuk membatasi akses perusahaan Amerika ke pasar Eropa.
Sementara itu mengenai prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.
Dari sentimen domestik, Dana Moneter Internasional merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1%, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5%.
Terlepas dari itu, prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF ini masih jauh lebih cepat dibanding banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,1% pada 2026 dan 2027 itu hanya tertinggal dari Filipina yang prospek pertumbuhannya hingga 5,6% pada 2026 dan 5,8% pada 2027, serta India yang tumbuh 6,4% pada 2026 dan 2027.
Bila dibandingkan proyeksi terbaru Bank Dunia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terjaga di level 5,1% pada 2026, sebagaimana laju pertumbuhan sejak 2023-2025. Lalu, baru meningkat ke level 5,2% pada 2027. Terjaganya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia itu menurut Bank Dunia disebabkan efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah.
Untuk perdagangan besok Rabu (21/1/2026), mata uang rupiah diramal fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah direntang Rp16.950- Rp16.980 per dolar AS.


