BEKASI, KOMPAS.com – Satibi (40), warga RT 02/RW 05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, menceritakan detik-detik jebolnya tanggul Sungai Citarum, Selasa (20/1/2026) sekitar pukul 00.30 WIB.
Menurut Satibi, tanda-tanda jebolnya tanggul sebenarnya sudah terlihat sejak siang, Senin (19/1/2026).
Bahkan, sejumlah pihak telah berupaya melakukan penanganan darurat untuk mencegah luapan air sungai.
“Sebenarnya dari siang harinya itu pemerintahan desa, Kapolsek, Danramil, dan masyarakat sudah bahu-membahu buat menanggulangi tanggul yang sekarang jebol,” ujar Satibi saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (20/1/2026).
Baca juga: Tanggul Sungai Citarum di Muara Gembong Bekasi Jebol, 553 KK Terdampak Banjir
Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil maksimal karena hujan deras terus mengguyur wilayah tersebut tanpa henti.
Kondisi tanggul yang sudah rawan dan mengalami banyak kebocoran membuatnya tidak lagi mampu menahan debit air Sungai Citarum.
“Tapi karena kondisinya hujan enggak ada berhentinya, terus tanggulnya sudah banyak yang kebocoran-kebocoran, jadi sudah tidak bisa menahan debit air,” kata dia.
Dok: BPBD Kabupaten Bekasi. Kondisi rumah warga yang terdampak banjir akibat jebolnya tanggul sungai Citarum di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Selasa (20/1/2026).
Saat tanggul jebol, Satibi mengaku sedang berada di rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi tanggul.
Ia menyebut air mengalir dengan sangat deras dan cepat.
“Kebetulan saya lagi di rumah. Jarak tanggul ke rumah sekitar 200 meteran. Semalam itu deras sekali airnya. Mungkin kecepatan 50 kilometer per jam,” ujarnya.
Baca juga: Remaja Tewas Tenggelam Saat Terobos Banjir di Bekasi
Derasnya aliran air membuat Satibi dan keluarganya panik.
Bahkan, salah satu rumah warga di sekitar lokasi mengalami kerusakan akibat tak kuat menahan tekanan air.
“Saya sama keluarga panik. Ada satu rumah yang temboknya jebol, dan ada pagar rumah warga yang runtuh juga. Kebetulan rumahnya di depan titik tanggul yang jebol itu, jadi langsung kedorong air,” kata Satibi.
Setelah kejadian, Satibi bersama warga lainnya sempat mencoba melakukan penanganan darurat dengan memanfaatkan karung dan bambu untuk menahan aliran air.