Bisnis.com, JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional 10 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) imbas terjadinya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pertengahan Januari 2026.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan insiden keracunan MBG utamanya disebabkan oleh ketidakpatuhan SPPG dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Secara total, hingga pertengahan Januari 2026 terdapat 10 dapur SPPG yang dihentikan sementara operasionalnya imbas kasus keracunan MBG tersebut.
Dadan mencontohkan, salah satu kasus keracunan yang menjadi sorotan BGN terjadi di Mojokerto, yang berkaitan dengan kualitas bahan baku makanan.
“Utamanya karena SPPG tidak menepati, tidak mematuhi SOP secara benar [sehingga terjadi keracunan MBG]. Dan terutama yang di Mojokerto itu karena kualitas bahan baku, dan saya kira itu karena pemilihan bahan baku yang tidak sesuai dengan SOP yang ditetapkan,” kata Dadan saat ditemui seusai rapat dengar pendapat Komisi IX DPR, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Alhasil, BGN menghentikan sementara seluruh operasional dapur SPPG yang terlibat dalam kejadian keracunan MBG. Selain itu, BGN juga menahan pemberian insentif hingga pengelola SPPG melakukan perbaikan dan memastikan kepatuhan terhadap SOP.
Baca Juga
- Menanti Taji MBG dan Program Magang Redakan Badai PHK
- BGN Akui Masih Ada Kasus Keracunan MBG, Ada 10 Kasus di Januari 2026
- BGN Telah Gelontorkan Rp18 Triliun untuk MBG per 20 Januari 2026
“Untuk seluruh SPPG yang mengalami kejadian, setop operasi. Dan bahkan kalau kita menemukan ada pelanggaran yang fatal, kita setop agak lama. Dan juga tidak kami berikan insentif sampai dia memperbaiki diri,” ungkapnya.
Padahal, BGN sebelumnya menargetkan tidak ada kasus keracunan alias zero accident dalam pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut pada 2026.
“Ya yang memang kita sesalkan ya masih ada kejadian [keracunan] dan sebetulnya trennya sudah menurun sampai di akhir Desember [2025] itu sisa 12, dan kami berharap sebetulnya awal Januari itu sudah tidak ada kejadian. Tapi ternyata masih ada kejadian dan itu sesuatu yang sangat disesalkan,” pungkasnya.



