Suara Bulat Ekonom: BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di RDG Januari

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Konsensus ekonom memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga kebijakan alias BI Rate di level 4,75% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Januari 2026 pada Rabu (12/1/2026) esok.

Survei Bloomberg menunjukkan sebanyak 30 dari 30 ekonom memperkirakan BI akan menahan suku bunga. Artinya, semua ekonom mempunyai proyeksi bulat bahwa bank sentral belum akan mengubah BI Rate pada bulan pertama 2026.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede merupakan salah satu ekonom yang menilai BI akan menahan suku bunga acuan.

Dia menilai keputusan tersebut merupakan langkah paling realistis di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih cukup kuat, serta tingginya sensitivitas pasar terhadap isu-isu kesinambungan fiskal.

Menurutnya, stabilitas nilai tukar dan pengelolaan ekspektasi inflasi masih menjadi prioritas utama otoritas moneter dalam jangka pendek.

"Saya memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 4,75%, karena tekanan pada rupiah masih kuat dan pasar sedang sensitif terhadap kekhawatiran fiskal," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga

  • Suku Bunga AS Harus Tetap Tinggi, Pejabat The Fed Beri Penjelasan
  • Bos The Fed Akui Diancam Pemerintahan Trump Imbas Kebijakan Suku Bunga
  • Arah Moneter 2026: BI Lebih Hati-hati, Ruang Pemangkasan Suku Bunga Kian Sempit?

Di sisi lain, Josua memandang kondisi permintaan domestik belum menunjukkan urgensi yang mendesak untuk diberikan stimulus moneter berupa pemangkasan suku bunga. Indikator-indikator ekonomi riil dinilai masih berada di zona aman.

Dia memerincikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 masih kokoh di zona optimis pada level 123,5. Optimisme ini ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 111,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 135,6.

Kinerja sektor riil juga terindikasi positif lewat data penjualan eceran November yang tumbuh 6,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), serta kinerja industri pengolahan yang berada pada fase ekspansi dengan Prompt Manufacturing Index (PMI) BI kuartal IV/2025 di level 51,86.

"Dari sisi dunia usaha, kegiatan juga relatif terjaga, tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang 10,61 pada triwulan IV/2025 dan diperkirakan meningkat menjadi 12,93 pada triwulan I/2026," jelasnya.

Kendati ruang pemangkasan suku bunga dinilai belum terbuka lebar, Josua menyarankan strategi lain apabila BI berencana memberikan dorongan tambahan bagi pertumbuhan dan penyaluran kredit.

Menurutnya, di tengah kondisi rupiah yang masih rapuh, jalur yang lebih aman adalah melalui pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana jangka pendek tanpa mengubah BI Rate.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Psikosis AI Terus Bermunculan, Seberapa Bahaya Gangguan Mental Ini?
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
IPC Terminal Petikemas Rilis Roadmap 2026-2030 untuk Tingkatkan Layanan
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Swiatek selamat dari hadangan pertama di Australian Open
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Cuaca Ekstrem dan Medan Curam Hambat Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Bedah Video Mens Rea Pandji Pragiwaksono
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.