JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta mencapai 143 hingga 19 Januari 2026.
Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan kasus pada awal tahun ini seiring masuknya musim hujan.
“Update data kasus Tahun 2026 sampai tanggal 19 Januari sebanyak 143 kasus,” ujar Kadinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati, Selasa (20/1/2026).
Ani menyebut berdasarkan laporan Dinkes DKI Jakarta, tren kasus DBD secara mingguan menunjukkan kenaikan.
Baca juga: Musim Hujan Datang, Dinkes DKI Diwanti-wanti soal Ancaman Super Flu dan DBD
Pada minggu ke-53 tahun 2025 tercatat sebanyak 69 kasus, sementara pada minggu pertama tahun 2026 meningkat menjadi 83 kasus.
Meski demikian, Ani menyebut kenaikan tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada Januari 2025.
Menurut Ani, ada sejumlah faktor yang menyebabkan kasus DBD meningkat.
Salah satunya adalah sampah yang tidak dikelola dengan baik serta keberadaan tanaman hias yang dapat menampung air.
Kondisi tersebut, ditambah dengan tingginya curah hujan, membuat banyak genangan air terbentuk dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, penyebab DBD.
“Kondisi ini yang dapat menjadi tempat berkembang biakan nyamuk Aedes aegypti sehingga meningkatkan populasi nyamuk,” kata Ani.
Untuk mencegah penyebaran DBD, Dinkes DKI Jakarta bersama puskesmas terus melakukan berbagai upaya.
Baca juga: Dinkes Ungkap Penyebab Meningkatnya Kasus DBD di Jakbar
Salah satunya dengan mengajak masyarakat menjalankan PSN 3M, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat-tempat yang bisa menampung air.
Selain itu, Dinkes bekerja sama dengan lurah dan camat untuk rutin memantau lingkungan bersama Jumantik atau Juru Pemantau Jentik.
Pemantauan jentik juga ditingkatkan menjadi dua kali dalam seminggu.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Dinkes DKI Jakarta untuk memantau secara ketat potensi munculnya kasus super flu dan DBD selama musim hujan.
“Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan selalu memantau dua hal. Satu yang berkaitan dengan super flu, yang satu berkaitan dengan DB,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).
Pramono mengakui adanya peningkatan kasus DBD, terutama di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Meski begitu, ia yakin penanganan DBD di Jakarta sudah berjalan dengan baik.
“Kalau DB saya yakin untuk penanganan di Jakarta sudah berjalan cukup baik. Apalagi fasilitas kita, hal yang berkaitan dengan DB, baik itu Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit, semuanya sudah ada untuk rujukannya,” ujar Pramono.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

