Guillermo Stabile, Pemain Opsi Kedua Jadi Top Skor Piala Dunia

tvrinews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Riki Ilham Rafles

TVRINews - Jakarta

Penyerang Timnas Argentina, Guillermo Stabile mengukir sejarah sebagai top skor edisi perdana Piala Dunia.

Guillermo Stabile tercatat sebagai top skor pertama dalam sejarah Piala Dunia. Penyerang Timnas Argentina itu menjadi yang paling produktif dalam gelaran Piala Dunia 1930 yang dilangsungkan di Uruguai.

Stabile bisa dibilang adalah kejutan di Piala Dunia 1930. Sejak awal masuk dalam skuad Argentina asuhan Juan Jose Tramutola, dia bukanlah pilihan utama karena harus bersaing dengan Roberto Cherro.

Cherro merupakan bintang sepak bola Argentina pada masa itu. Sejak 1926 dia sudah masuk dalam skuad Tim Tango karena menjadi pencetak gol terbanyak Divisi Utama Argentina.

Cherro mengalami masalah kepercayaan diri ketika tampil dalam pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia 1930 melawan Prancis. Meski menang 1-0, namun dia merasa gugup dan memutuskan mundur.

Keputusan tersebut membuat heboh. Penyerang andalan meninggalkan tim, lalu muncul pertanyaan siapa yang pantas menjadi penggantinya dan apakah sang pengganti mampu tampil tajam seperti Cherro?

Tramutola memilih Stabile untuk menggantikan peran Cherro saat Argentina menghadapi Meksiko pada pertandingan kedua fase grup. Kepercayaan itu dibayar dengan mencetak hattrick yang sekaligus membawa timnya menang 6-3.

Ketajaman Stabile terus berlanjut di tiap pertandingan Argentina. Pada laga pamungkas Grup 1 menghadapi Cile, dia menyumbang dua gol dan membuat Tim Tango unggul dengan skor 3-1.

Argentina yang menjadi juara Grup 1 melaju ke babak semifinal untuk menghadapi Amerika Serikat. Pada pertadingan ini, mereka menang 6-1, dan Stabile turut menyumbang dua gol.

Di pertandingan final menghadapi Uruguai, Stabile mencetak satu gol yang membuat Argentina berbalik unggul 2-1 di pengujung babak pertama.

Drama dari gol Stabile banyak dikenang sampai sekarang. Ketika itu, Kapten Uruguai, Jose Nassazi melontarkan protes kepada wasit karena menganggap Stabile sudah dalam posisi offside.

Sayangnya, keunggulan yang harusnya memberi kepercayaan diri kepada Argentina itu tak bisa dipertahankan. Tuan rumah mencetak tiga gol balasan pada babak kedua dan membuat Tim Tango menyerah dengan skor 2-4.

Meredup di Italia

Mengutip These Football Times, bakat Stabile sudah terlihat sejak usia muda saat bergabung dengan Sportivo Metan, klub lokal Buenos Aires. Karena potensi itulah, di usia 15 tahun dia direkrut oleh Atletico Huracan dan promosi ke tim utama empat tahun berselang.

Pemain yang sering beroperasi di sisi kanan penyerangan tim ini diberi julukan Infiltrator karena kemampuannya menyusup ke area pertahanan lawan untuk mencetak gol. Selama enam tahun berkarier di Divisi Utama Argentina bersama Atletico Huracan, Stabile mencetak 102 gol dari 119 penampilan dan meraih dua gelar juara.

Penampilan apik Stabile di Piala Dunia 1930 membawanya terbang ke Italia untuk bergabung dengan Genoa. Dia memulai karier di Negeri Piza dengan mencetak hattrick ke gawang Bologna yang statusnya sebagai pemuncak klasemen.

Baru setahun berkarier di Italia, petaka datang. Stabile mengalami cedera serius yang membuatnya absen panjang. Dalam situasi itu, klub memintanya untuk menemani pelatih Luigi Burlando dalam meracik strategi.

Stabile coba berjuang menemukan penampilan terbaiknya dengan gabung bersama Napoli pada 1935. Tapi upaya demi upaya yang dilakukannya tak mampu mengubah situasi.

Stabile akhirnya memutuskan hijrah ke Prancis pada 1936. Dia bergabung dengan Red Star Paris sebagai pemain-manajer. Bekal pelajaran teknik kepelatihan dan manajemen saat istirahat panjang karena cedera berguna pada fase ini.

Tiga tahun menjalani peran pemain-manajer di Red Star Paris, dia berhasil mendapatkan promosi ke divisi teratas pada 1939. Tapi kisah indah itu harus berakhir karena Stabile memilih pulang ke Argentina beberapa pekan sebelum pecahnya Perang Dunia Kedua.

6 Trofi Copa America

Perjalanan karier Guillermo Stabile sebagai pelatih sangat menarik. Begitu meninggalkan Prancis, tawaran untuk melatih Timnas Argentina datang dan dia mengambilnya.

20 tahun membesut Tim Tango, enam gelar juara Copa America berhasil dipersembahkannya. Catatan ini membuat nama Stabile sangat lekat dalam perkembangan sejarah sepak bola Argentina.

Meski menyandang status sebagai pelatih Argentina, tapi pada masa-masa itu, Stabile juga menangani beberapa klub. Dia sempat membesut San Lorenzo pada periode 1939-1940, kemudian hijrah ke Estudiantes LP selama setahun.

Dalam kurun waktu 1941-1948, Stabile pulang ke klub masa mudanya, Atletico Huracan. Meski tak berhasil memenangkan trofi juara Divisi Utama Argentina, tapi dia dianggap berhasil mengasah kemampuan pemain muda, salah satunya Alfredo Di Stefano.

Puncak kejayaan Stabile sebagai pelatih klub terjadi saat bersama Racing Club. Mereka mengukir sejarah sebagai klub pertama yang berhasil menjadi juara kompetisi kasta tertinggi Argentina selama tiga tahun berturut-turut, yakni 1949, 1950, dan 1951.

Editor: Riki Ilham Rafles

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Museum Nasional Targetkan 780 Ribu Pengunjung di 2026
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Mentan Amran Minta Pemda Dorong Hilirisasi Pertanian Lokal
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang Berpotensi Landa Sejumlah Wilayah Sulsel
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Insanul Fahmi Tak Bisa Buktikan Pernikahan Siri, Wardatina Mawa Mantab Bercerai
• 6 jam lalucumicumi.com
thumb
Lahan Sawit di Kawasan Hutan Indonesia Mencapai 3,32 Juta Hektare
• 16 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.