BEKASI, KOMPAS.com – Tanggul Sungai Citarum di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi jebol, Selasa (20/1/2026) tak pernah diperbarui.
Camat Muara Gembong, Sukarmawan, menilai jebolnya tanggul Sungai Citarum disebabkan tidak dibangun secara permanen dan hanya menggunakan karung serta bambu.
“Jadi kita gunakan karung-karung di sepanjang Citarum. Tanggul sepanjang Sungai Citarum di Muara Gembong ini dibangun sudah puluhan tahun, mungkin sekitar 50 tahun,” ujar Sukarmawan saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa.
Baca juga: Detik-detik Tanggul Sungai Citarum Jebol, Air Mengalir Deras hingga Rusak Rumah
Ia menilai, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum seharusnya melakukan tindakan preventif melalui kajian rutin terhadap kondisi tanggul.
“Paling tidak per lima tahun dicek, atau maksimal 10 tahun harusnya dicek mana yang sudah kritis, mana yang sudah rusak, mana yang sudah roboh atau retak,” katanya.
Namun, upaya tersebut dinilai tidak dilakukan secara maksimal sehingga berdampak langsung kepada masyarakat.
“Dan ini tampaknya tidak dilakukan, sehingga yang jadi korban adalah warga Muara Gembong,” ujar Sukarmawan.
Ia menjelaskan, selama tanggul Sungai Citarum dalam kondisi aman, hujan dengan intensitas tinggi tidak menjadi persoalan besar bagi wilayah Muara Gembong karena aliran air langsung menuju laut.
“Sepanjang tanggul itu aman, tidak ada masalah buat kami. Karena air itu akan langsung mengalir ke laut,” ucapnya.
Sebaliknya, kondisi menjadi sangat berbahaya ketika tanggul penahan Sungai Citarum tidak aman.
Baca juga: Remaja Tewas Tenggelam Saat Terobos Banjir di Bekasi
Dampaknya bahkan dinilai lebih berisiko dibandingkan banjir rob yang kerap melanda kawasan pesisir.
“Kalau rob itu hanya tiga sampai empat jam surut kembali dan tidak terlalu dalam, paling semata kaki atau sebetis orang dewasa,” tutur Sukarmawan.
Ia menambahkan, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum berpotensi menyebabkan kerusakan serius pada permukiman warga.
Saat ini, debit air Sungai Citarum dilaporkan mulai berkurang dan kondisi berangsur reda.
Meski demikian, warga masih diliputi rasa trauma karena tanggul yang jebol dengan lebar sekitar lima hingga enam meter tersebut belum diperbaiki secara permanen.