Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno Siregar merespons kasus guru honorer di SDN 21 Desa Pematang Raman, Muaro Jambi, bernama Tri Wulansari yang ditetapkan sebagai tersangka usai dilaporkan oleh siswanya sendiri.
Kasus itu berawal saat Tri memangkas rambut siswanya. Namun, siswa kelas 6 tersebut tidak terima dan memaki-maki Tri. Karena tidak terima diberi kata-kata kasar, Tri mengomeli sang anak dan menampar mulut anak itu sebanyak satu kali.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Kejati Jambi untuk memediasi para pihak guna melakukan penghentian penyidikan melalui keadilan restoratif,” kata Krisno kepada kumparan, Selasa (20/1).
Kasus tersebut pertama kali ditangani oleh Polres Muaro Jambi. Krisno mengaku baru mengetahui perkara itu.
Mengadu ke Komisi III DPR
Di hadapan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman dan anggota lainnya, Tri bercerita bahwa peristiwa itu bermula pada 8 Januari 2025. Saat itu, siswa-siswa baru memulai semester baru usai libur akhir tahun.
Tri menyebut anak-anak telah diperingatkan untuk kembali menghitamkan rambut saat masuk sekolah. Namun, ada empat anak yang masih mengecat rambutnya berwarna pirang, salah satunya siswa kelas 6.
“Jadi saya melakukan razia karena sebelumnya sudah diberi tahu bahwasanya yang dicat harus dicat hitam kembali sebelum libur semester. Ternyata setelah masuk semester, mereka masih berambut bersemir. Nah, jadi saya merazia, saya potong rambutnya,” ucap Tri.
“Anak yang bertiga, teman anak yang ini tadi, mereka menurut. Ketika dipotong mereka menurut karena merasa memang salah. Nah, yang satu ini dia berontak, dia tidak mau dipotong rambutnya,” tambahnya.
Meski melawan, Tri bercerita anak tersebut akhirnya tetap dipotong rambutnya. Namun, setelah dipotong sedikit, anak itu justru melontarkan kata-kata kasar kepada Tri.
Tri yang tidak terima diberi kata-kata kasar kemudian mengomeli sang anak. Ia juga sempat menampar mulut anak tersebut sebanyak satu kali karena kelakuannya.
“‘Kamu ngomong apa? Orang tua di sekolah ini ya guru kamu,’ seperti itu. ‘Kalau di rumah orang tua kamu ya orang tua kamu, tapi kalau di sekolah guru inilah orang tua kamu,’ seperti itu, Pak,” ucap Tri.
“Tapi tidak ada kejadian berdarah atau mungkin giginya patah atau seperti apa, tidak ada. Itu refleks satu kali dan saya tidak memakai atribut apa pun di tangan saya,” tambahnya.




