Pada Minggu dini hari (18/1), hujan deras yang mengguyur Kota Bekasi membuat Kali Bekasi meluap. Pagi harinya, banjir melanda permukiman di Gang Mawar, Jalan RA Kartini, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.
Bagi Yarkasih (55 tahun), warga RT 8 RW 3, banjir bukan hal baru. Pengalaman menjadi korban banjir bertahun-tahun membuat Yarkasih dan keluarganya tak pernah lengah. Bahkan sebelum air masuk, ia sudah lebih dulu bersiap.
“Sekitar jam enam pagi air mulai masuk. Paginya sempat setinggi sepinggang,” ujar Yarkasih sambil menunjuk bekas air di dinding rumahnya saat dijumpai di lokasi.
“Setengah empat subuh tadi kita sudah antisipasi. Barang-barang langsung dikemas, dinaikkan ke atas. Anak-anak saya bangunkan semua,” ucapnya.
Rumah Yarkasih berada di posisi paling ujung permukiman yang sangat dekat sekaligus beririsan dengan Kali Bekasi. Lokasi rumahnya tepat di jalur limpasan air kiriman dari berbagai daerah hulu seperti Bogor dan Jonggol.
Kondisi itu membuat rumahnya menjadi salah satu titik paling rawan saat hujan deras turun.
“Air pembuangan dari mana-mana larinya ke sini. Kalau hujan besar, tidur sudah nggak pernah nyenyak,” tutur dia.
Trauma banjir besar masih jelas membekas. Yarkasih menunjukkan beberapa garis di dinding rumahnya yang menjadi penanda ketinggian air pada peristiwa banjir sebelumnya.
Pada awal 2025, saat bulan puasa, air nyaris mencapai lima meter. Sementara pada Januari 2020, banjir setinggi sekitar empat meter merendam kawasan tersebut.
“Larinya ke atap rumah, ke genteng tetangga,” kenangnya.
Bikin Rumah PanggungBelajar dari pengalaman pahit itu, Yarkasih kemudian membangun rumah panggung di sebuah lahan yang persis bersebelahan dengan rumahnya sejak tahun lalu. Bukan untuk kenyamanan, melainkan sebagai tempat penyelamatan terakhir.
“Awalnya kecil, sederhana, kayak musala. Pokoknya buat antisipasi. Kalau air tinggi banget, kita lari ke sini,” ucap dia.
Berdasarkan pengamatan, rumah panggung itu terbuat dari kayu yang disusun serta dilengkapi atap agar tidak kepanasan maupun kehujanan.
Di rumah panggung itu bisa menampung kurang lebih 10 orang dewasa.
Agar lebih nyaman, Yarkasih memasang kipas angin di atasnya agar keluarganya lebih tenang saat beristirahat.
Ingin Pindah, Terkendala EkonomiSementara itu, keinginan untuk pindah dari kawasan rawan banjir sebenarnya sangat besar. Namun, keterbatasan ekonomi membuat niat itu sulit terwujud.
Yarkasih dikaruniai lima orang anak, semuanya laki-laki. Anak paling besar berusia 31 tahun, sedangkan anak paling kecil saat ini duduk di kelas dua sekolah dasar.
“Sangat ingin pindah, cuma risikonya besar. Biaya ini-itu. Anak saya lima, semua cowok. Masih butuh biaya sekolah,” katanya lirih.
Hingga kini, Yarkasih mengaku belum menerima bantuan ataupun pendataan khusus dari pihak terkait di lokasi rumahnya.
Meski demikian, ia tetap bertahan dengan caranya sendiri, beradaptasi dengan banjir yang datang nyaris setiap tahun.
“Namanya tinggal di belakang, ya begini. Yang depan sudah surut, kita masih kebagian,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, rumah panggung sederhana itu menjadi simbol ketahanan. Bukan solusi ideal, tetapi satu-satunya pilihan agar keluarga tetap selamat ketika air kembali datang tanpa permisi.




