Dewan Perdamaian Gaza Terbentuk, Bagaimana Respons Malaysia?

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID,  KUALA LUMPUR— Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan pemerintah Malaysia masih mempelajari pembentukan Dewan Perdamaian Gaza oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Anwar di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa 20/1/2025), menyatakan Malaysia secara umum mendukung segala langkah menjamin perdamaian di Gaza, namun terkait pembentukan dewan tersebut, pemerintah Malaysia masih mengkaji siapa saja pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Baca Juga
  • 'Saatnya Bergerak Menyelamatkan Dunia dari Kegilaan Trump Sebelum Terlambat'
  • Trump Batal Serang Iran Besar-Besaran, Terungkap Ini 4 Penyebab Utamanya
  • Dewan Perdamaian Gaza Resmi Diumumkan, Apa Itu? 9 Tanya Jawab Ini Menjawabnya

"Kami tentu mengikuti dari dekat usulan lanjutan dari Presiden Donald Trump, Amerika Serikat, mengenai Dewan Perdamaian ini. Pada dasarnya, kami mendukung langkah-langkah yang bertujuan menjamin perdamaian.

Namun, kami juga memiliki beberapa pandangan terkait pembentukan komite semacam itu serta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya," kata Anwar.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Demikian diutarakan Anwar dalam sesi tanya jawab di Parlimen Malaysia. Dia menyatakan ada sejumlah keberatan yang mengemuka, misalnya terkait isu keterlibatan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di dalam dewan tersebut.

Blair dinilai terlibat secara langsung dalam serangan terhadap Irak di masa lalu, serta sikapnya yang dianggap tidak transparan dan tidak adil dalam isu Palestina dan Gaza.

Selain itu ada juga isu, keterlibatan pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dalam komite tersebut.

"Banyak (dari) pengumuman ini belum dikonfirmasi. Oleh karena itu, kami akan memberikan perhatian serius. Rapat kabinet pada Jumat akan membicarakan hal tersebut, dan Menteri Luar Negeri telah diminta untuk mendapatkan daftar lengkapnya.," ujar Anwar.

Di sisi lain, Anwar Ibrahim menyatakan telah menghubungi beberapa rekan pemimpin dunia Arab, Turki dan lainnya untuk meminta pandangan serta masukan.

"Namun, pada pendapat saya, ini belum merupakan solusi yang masuk akal dan adil sampai kita memperoleh kejelasan. Pertama, serangan harus dihentikan - serangan yang hingga kini belum berhenti. Perjanjian memang telah dimeterai, tetapi serangan oleh rezim Zionis Israel masih terus berlanjut," sesalnya.

Warga mencoba memperbaiki tenda yang hancur diterpa badai di di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, 9 Januari 2026. - (EPA/HAITHAM IMAD)

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sering Mendengar Suara Adzan saat Tahajud Padahal Belum Waktu Subuh, Ada Tanda-tanda Apa?
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Korban Kedua Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 Dibawa ke RS Bhayangkara Makassar
• 5 jam lalufajar.co.id
thumb
Jokowi Bakal Turun Gunung di Pemilu 2029 Menangkan PSI, Dedy Palakka: Bocorkan Kejutan Serius yang Diluar Prediksi…
• 13 jam lalufajar.co.id
thumb
Sempat Syuting Bareng, Diah Permatasari Sadar Ada Sosok yang Selalu Pantau Aurelie Moeremans
• 17 jam lalugrid.id
thumb
2.269 Kasus Kekerasan Perempuan di Jakarta Sepanjang 2025
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.