Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis masih memberikan pandangan yang positif terhadap pasar Surat Berharga Negara (SBN) Tanah Air kendati tengah dibayangi oleh sentimen depresiasi rupiah hingga Rp17.000 per dolar AS.
Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi menilai bahwa peluang masuknya dana asing ke pasar SBN masih terbuka. Meskipun, pelemahan rupiah lanjutan dapat membalikkan arah dana asing di pasar modal Tanah Air.
Pasalnya, Putri menilai bahwa sebagian investor asing melakukan pembelian SBN dalam strategi hedging, sehingga sensitivitas terhadap rupiah dinilai tidak selalu one-on-one.
“Untuk investor baru, pelemahan rupiah bahkan dapat dipandang sebagai entry point yang lebih menarik karena valuasi aset rupiah menjadi relatif lebih murah,” katanya kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).
Meskipun begitu, terdapat level psikologis terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, apabila depresiasi rupiah berlanjut dan menembus ambang tertentu, terutama di tengah kondisi geopolitik yang kian memanas, tidak menutup kemungkinan investor asing berbalik arah dari pasar SBN Tanah Air.
“Apabila depresiasi berlanjut, investor asing yang sudah memegang posisi dapat meningkatkan aksi profit taking atau mengurangi eksposur untuk membatasi risiko,” katanya.
Senada, Head of Fixed Income Sinarmas Asset Management Fikri Syuhada, menilai peluang kian derasnya dana asing masuk ke Tanah Air melalui instrumen SBN cenderung terbuka.
Data Posisi Kepemilikan SBN Rupiah yang Dapat Diperdagangkan oleh DJPPR Kemenkeu, kepemilikan nonresiden pada 31 Desember 2025 mencapai Rp878,65 triliun. Per 15 Januari 2026, nonresiden tercatat memegang kepemilikan SBN senilai Rp885,12 triliun. Artinya terdapat penurunan kepemilikan SBN oleh investor nonresiden.
“Peluang kembalinya investor asing tetap terbuka, terutama pada paruh kedua 2026. Pada periode tersebut, rupiah diperkirakan akan lebih stabil seiring arah kebijakan The Fed yang semakin jelas, serta membaiknya fundamental ekonomi Indonesia baik dari sisi pertumbuhan maupun stabilitas makro,” katanya, Selasa (20/1/2026).
Sementara itu, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menilai bahwa di tengah tantangan geopolitik dan pelemahan nilai tukar, posisi pasar SBN Tanah Air sebetulnya masih solid lantaran ditopang oleh investor domestik.
Dia memprediksi, di tengah tantangan ini, yield SBN dapat melaju pada level 6,5–6,6% secara maksimal. Sebaliknya, posisi yield dapat menguat ke level di bawah 6% jika kebutuhan pasar terhadap SBN meningkat.
“Saya melihatnya sebenarnya investor domestik masih cukup baik. Di samping itu penjualan SBN yang dilakukan asing belum serta merta membuat mereka keluar dari Indonesia. Bisa ada beberapa penjualan SBN yang masih ditaruh di dalam negeri,” katanya, Selasa (20/1/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





