Aktris peraih Oscar, Jennifer Lawrence, secara terbuka mengungkap pengalaman pahit yang pernah ia alami di industri film Hollywood.
Bintang The Hunger Games itu mengaku sempat kehilangan peluang besar karena penilaian soal penampilan fisik.
Dalam penampilannya di podcast Happy Sad Confused, Jennifer Lawrence menceritakan bahwa namanya sempat masuk pertimbangan sutradara ternama Quentin Tarantino untuk proyek film Once Upon a Time in Hollywood.
Namun, kesempatan tersebut akhirnya tidak berujung pada kontrak kerja.
Josh Horowitz selaku host mengungkapkan bahwa Quentin Tarantino disebut-sebut telah lama mengincar Jennifer Lawrence untuk bermain di salah satu filmnya. Mendengar pernyataan tersebut, Jennifer memberikan respons singkat.
"Aku tidak tahu tentang itu," jawab Jennifer.
Percakapan kemudian mengarah pada film Once Upon a Time in Hollywood, yang akhirnya dibintangi Margot Robbie sebagai Sharon Tate. Josh kembali menegaskan dugaan tersebut kepada Jennifer.
"Dan aku rasa untuk film Once Upon a Time in Hollywood, juga, bukannya dia ingin kamu yang berperan ya?" kata Josh.
Jennifer Lawrence pun mengiyakan pernyataan itu sebelum mengungkap alasan yang membuatnya kehilangan peran tersebut.
"Yah, memang tapi kemudian semua orang bilang, 'Dia kurang cantik untuk memerankan Sharon Tate.'" kata Jennifer.
Aktris berusia 35 tahun itu mengaku sangat yakin bahwa informasi tersebut benar adanya.
"Aku sangat yakin kabar itu benar," ujarnya.
Peran Sharon Tate akhirnya jatuh ke tangan Margot Robbie dan menjadi salah satu penampilan paling berkesan dalam karier aktris asal Australia tersebut.
Film Once Upon a Time in Hollywood pun mendapat sambutan luas dan menjadi salah satu karya penting dalam filmografi Tarantino.
Meski gagal mendapatkan peran tersebut, Jennifer Lawrence tetap bersinar di tahun yang sama lewat proyek lain.
Ibu dua anak itu tampil dalam film Dark Phoenix, bagian dari franchise X-Men, dengan kembali memerankan karakter Mystique yang telah melekat pada dirinya.
Pengakuan Jennifer Lawrence tersebut sekaligus membuka sisi lain kerasnya industri perfilman Hollywood, di mana standar kecantikan kerap menjadi faktor penentu, bahkan bagi aktris dengan prestasi setinggi peraih Academy Awards.


