Kondisi cuaca di Indonesia menunjukkan peningkatan curah hujan yang ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Wilayah yang terpengaruh meliputi Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan daerah lainnya.
Hujan lebat hingga ekstrem telah tercatat di beberapa lokasi, misalnya DKI Jakarta dengan 213,4 mm/hari dan Sulawesi Selatan dengan 101,2 mm/hari. Penyebab utama dari cuaca ekstrem ini adalah kombinasi faktor regional, terutama yaitu keberadaan sirkulasi siklonik yang aktif dan penguatan monsun dingin dari Asia.
Cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap aktivitas harian masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di daerah rawan, seperti tepi sungai atau area pesisir yang rentan terhadap banjir.
Pembentukan Siklon TropisBibit Siklon Tropis 96S yang sebelumnya terdeteksi di selatan Nusa Tenggara Barat telah melemah. Namun, telah terbentuk Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor, yang kembali meningkatkan potensi hujan lebat. Kehadiran sirkulasi siklonik ini memperkuat konvergensi udara di wilayah selatan Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Bali.
Sirkulasi ini memiliki dampak signifikan terhadap atmosfer, dengan menciptakan daerah konvergensi yang menyebabkan awan hujan berkembang. Akibatnya, pola hujan di Indonesia bisa dipengaruhi, sekaligus meningkatkan intensitas hujan di wilayah-wilayah tersebut.
Dinamika Atmosfer MingguanPada minggu depan, BMKG melaporkan bahwa dinamika atmosfer global dan lokal masih akan berpengaruh besar terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Fenomena El Niño dan La Niña teramati dalam fase negatif; ini menandakan adanya La Niña lemah yang juga berpotensi meningkatkan pasokan uap air. Kondisi ini mendukung pembentukan awan hujan di berbagai region di Indonesia.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diperkirakan aktif, melintasi wilayah NTB dan NTT, serta Laut Flores. Gelombang ekuator turut berperan dalam memperkuat proses konvektif, yang berpotensi menyebabkan peningkatan hujan di kawasan tersebut. Kombinasi antara MJO, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby yang teramati aktif di Samudera Hindia juga diperkirakan akan memperkuat kehadiran awan hujan.
Baca Juga:Prediksi BMKG: Hujan dan Angin Kencang di Jabodetabek Hingga 23 Januari 2026
Dalam periode awal minggu, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh hujan ringan hingga hujan lebat. Beberapa daerah diharapkan mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. Akan ada peingkatan hujan lebat yang memerlukan perhatian khusus di daerah berikut:
-
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
-
Awas (Hujan sangat lebat – hujan ekstrem): Nusa Tenggara Timur.
-
Angin Kencang: Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Tengah dan Papua Selatan.
Memasuki pertengahan minggu, cuaca sebagian besar wilayah di Indonesia masih akan didominasi oleh hujan, dengan beberapa daerah diperkirakan akan mengalami hujan ringan hingga lebat.
Peningkatan hujan sedang dapat terjadi di Sumatra Selatan, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan. Masyarakat di wilayah-wilayah ini diimbau untuk tetap waspada.
Baca Juga:BMKG Mengungkapkan Ada Awan Cumulonimbus di Maros Saat Kecelakaan Pesawat ATR 42-500




