REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO — Transformasi digital di bidang pendidikan menuntut pembelajaran yang semakin personal dan adaptif. Namun, pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari rendahnya motivasi belajar, kesenjangan kemampuan antarsiswa, hingga keterbatasan media digital yang mampu menyesuaikan kebutuhan individu.
Kondisi ini mendorong tim peneliti Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengembangkan TAHSEEN, aplikasi pembelajaran bahasa Arab berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
- Sejak Kapan Hadis Palsu Marak Beredar?
- Ramadhan 2026, Ingat Hadits Soal Puasa Ini
- Maroko Gagal Juara Piala Afrika karena Penaltinya Dimentahkan, Brahim Diaz Minta Maaf
TAHSEEN merupakan akronim dari Tailored Arabic with Humanized Smart Engine for Engaging Neolearners. Aplikasi ini dikembangkan melalui penelitian terapan didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema pendanaan penelitian tahun 2025, berdasarkan kontrak Nomor 128/C3/DT.05.00/PL/2025.
Dukungan tersebut menjadi fondasi penting dalam pelaksanaan riset, pengembangan prototipe, hingga uji coba lapangan sebagai bagian dari upaya mendorong inovasi pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan pendidikan nasional.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Ketua tim peneliti, Assoc. Prof. Dr. Abdul Hafidz bin Zaid, M.A. menjelaskan bahwa pengembangan TAHSEEN berangkat dari kebutuhan di lapangan. “Pembelajaran bahasa Arab selama ini masih bersifat seragam, padahal kemampuan dan gaya belajar siswa sangat beragam. Melalui Aplikasi Mobile TAHSEEN, kami mengembangkan sistem yang mampu menyesuaikan materi dan tingkat kesulitan dengan profil masing-masing pelajar,” ujarnya.
Berbasis Survei dan Observasi LapanganPengembangan TAHSEEN didasarkan pada survei dan observasi di SMA Muhammadiyah 5 Gatak, Sukoharjo. Hasil survei menunjukkan 94,4 persen siswa lebih nyaman belajar menggunakan handphone sebagai media utama. Selain itu, 57,9 persen siswa menyatakan tertarik pada aplikasi pembelajaran bahasa Arab yang bersifat adaptif, sementara sisanya menyatakan “mungkin tertarik”.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai pembelajaran berdurasi singkat dengan fitur kosakata, kuis, dan game edukatif. Temuan ini memperkuat kebutuhan akan media pembelajaran bahasa Arab berbasis mobile learning yang interaktif dan fleksibel.
“Data lapangan ini menjadi dasar perancangan aplikasi. Generasi sekarang adalah digital native, sehingga pembelajaran harus menyesuaikan cara mereka belajar tanpa menghilangkan substansi akademik,” kata Abdul Hafidz bin Zaid.
Pembelajaran Personal dan Berstandar InternasionalSecara pedagogis, TAHSEEN mengintegrasikan empat keterampilan utama bahasa Arab, yakni istima’ (menyimak), qira’ah (membaca), kalam (berbicara), dan kitabah (menulis). Seluruh keterampilan tersebut disusun dalam jalur belajar adaptif berbasis hasil pre-test pengguna.
Sistem AI pada TAHSEEN menyusun learning path secara otomatis sesuai kemampuan awal, memberikan umpan balik, serta menerapkan prinsip mastery-based learning. Pengguna hanya dapat naik ke level berikutnya jika mencapai skor minimal 80 persen. Kurikulum yang digunakan juga diselaraskan dengan standar internasional Common European Framework of Reference for Languages (CEFR).
“Pendekatan ini memungkinkan siswa belajar sesuai ritme dan kemampuannya, tidak tertinggal, tetapi juga tidak merasa terlalu mudah,” ujar Ismail
Divalidasi Pakar dan Diterima PenggunaModel pembelajaran TAHSEEN telah melalui proses validasi pakar pendidikan bahasa Arab dari UIN Malang dan UMM Malang serta pakar teknologi kecerdasan buatan dari Universitas Telkom Bandung. Para pakar menilai pendekatan self-adaptive learning yang diterapkan relevan dengan kebutuhan pembelajaran bahasa Arab non-native dan sejalan dengan tren global pendidikan berbasis AI.
Setelah pengembangan aplikasi, telah dilakukan uji coba terbatas terhadap 33 siswa menunjukkan respons positif. Sebanyak 87,9 persen siswa menyatakan puas, dan persentase yang sama menilai aplikasi ini bermanfaat dalam membantu pembelajaran bahasa Arab. Bahkan, 90,9 persen responden berharap TAHSEEN terus dikembangkan dan digunakan secara lebih luas.
Manfaat yang paling dirasakan siswa adalah penguatan kosakata (mufradat), serta peningkatan keterampilan membaca dan menyimak. Fitur kuis dan game interaktif juga dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar.
Integrasi Nilai Islam dan TeknologiBerbeda dengan aplikasi pembelajaran bahasa global, TAHSEEN dirancang dengan mengintegrasikan kosakata Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam ke dalam materi pembelajaran. Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pembelajaran modern dengan konteks pendidikan Islam di Indonesia.
“TAHSEEN tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru. Aplikasi ini justru menjadi pendukung pembelajaran dan asesmen, sementara guru tetap berperan sebagai fasilitator utama,” kata Ismail.
Dari sisi pengembangan, TAHSEEN telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6, yang berarti siap diuji lebih luas dan dikembangkan menuju tahap implementasi. Penelitian ini juga telah menghasilkan dokumen feasibility study yang menyimpulkan bahwa TAHSEEN layak dikembangkan secara teknis, pedagogis, dan finansial.
Potensi Pengembangan Nasional dan RegionalIndonesia memiliki jutaan pelajar bahasa Arab di sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam. Dengan basis pengguna yang besar dan kebutuhan media pembelajaran adaptif yang terus meningkat, TAHSEEN dinilai memiliki potensi strategis untuk dikembangkan secara nasional, bahkan regional di Asia Tenggara.
Saat ini, tim peneliti juga tengah menyiapkan pengembangan lanjutan, termasuk penambahan fitur berbicara dan menulis berbasis AI, integrasi speech-to-text dan text-to-speech, serta dashboard guru untuk memantau perkembangan siswa.
Selain itu, luaran penelitian ini juga diperkuat dengan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta pengajuan artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi.
“Melalui TAHSEEN, kami ingin menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan secara humanis dan etis untuk mendukung pembelajaran bahasa Arab. Teknologi harus membantu manusia belajar dengan lebih baik, bukan menggantikannya,” ujar Ismail.Dengan dukungan pemangku kepentingan pendidikan dan kebijakan yang tepat, TAHSEEN diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi edutech berbasis AI karya anak bangsa yang berkontribusi nyata bagi penguatan pendidikan Islam di era digital.


