Cerita Penjual Tekstil Khas Sumatera Bertahan di Pasar Senen

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Pasar Senen Jaya Blok 1 dan 2 menjadi salah satu sentra tekstil di Jakarta. Di lokasi tersebut banyak juga pedagang yang menjual tekstil khas Sumatera. Namun, pembeli sudah tidak terlalu ramai sejak COVID-19 melanda.

Pada Senin (19/1), kumparan menuju satu lorong di lantai 1 gedung tersebut yang kebanyakan diisi oleh pedagang tekstil khas Sumatera. Destry (39) yang merupakan pemilik toko Kade Ulos menunjukkan kain yang dijualnya seperti ulos dan tumtuman khas Sumatera Utara, serta kain songket khas Sumatera Selatan. Selain itu, terdapat pula beberapa aksesoris kepala khas Sumatera yang dijualnya. Harganya beragam mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Ulos juga macem-macem enggak semua sama. Kalau Palembang dia sarung songket, itu banyak jenisnya, (ulos) bawah Rp 100 (ribu) juga ada, Rp 3 juta ada, Rp 5 juta juga ada, itu bergantung bahan. Kalau kain tumtuman Rp 1 juta ke atas,” kata Destry kepada kumparan.

Sementara untuk kain songket khas Sumatera Selatan, Destry mengungkapkan harganya ada di kisaran Rp 1 juta ke atas.

Di Pasar Senen Jaya Blok 1 dan 2, Destry memang baru berjualan selama 3 tahun, namun sejatinya tokonya sudah berdiri sejak 20 tahun lalu di Pasar Senen Blok 6. Saat Pasar Senen Jaya Blok 1 dan 2 rampung pembangunannya, akhirnya Destry berpindah.

Selain menjual secara langsung di toko, Destry juga menjajakannya secara online. Para pembelinya tak hanya perantau Sumatera saja, tetapi rata-rata pembelinya asal Jakarta.

“Kalau dari luar (Jakarta) ada, tapi jarang,” ujar Destry.

Destry tak mau mendetailkan berapa omzet yang didapatkannya. Ia hanya mengakui ada penurunan omzet sejak pandemi COVID-19 terjadi.

Masih di tempat yang sama, kumparan juga menghampiri toko Songket Pergaulan. Di sana, Kaler (59) yang merupakan pemilik toko menjelaskan bahwa tokonya khusus menjual kain khas Sumatera Utara. Daerah asal kain ulos dan tumtuman tersebut juga beragam.

“Banyakan dari Tarutung, ada juga dari Balige (Sumatera Utara),” kata Kaler kepada kumparan.

Untuk ulos, Kaler menjelaskan harganya juga beragam mulai Rp 100 ribu sampai Rp 3 juta. Sementara untuk tumtuman dijualnya dengan harga Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta. Pembeli di toko Kaler lebih banyak untuk persiapan acara pernikahan.

“Contohnya keluarga perempuan memberi ulos kepada laki-laki, itu bisa sampai Rp 3 juta, jadi kita menyesuaikan pembeli aja, kalau gede maharnya beli yang bagus sekalian, tapi ada juga yang sedang, penyesuaianlah,” ujar Kaler.

Saat ini, Kaler memiliki dua toko yakni di Pasar Senen Blok 6 dan di Pasar Senen Jaya Blok 1 dan 2. Ia mengakui semenjak pandemi pembeli memang agak sepi. Ia mengakalinya dengan berjualan secara live di platform TikTok.

“Sekarang agak menurun, karena sudah banyak yang online juga, kalau kita pakai toko kan masih kena biaya segala macam, kalau online kan enggak ada bayar pajak, kita kena pajak,” tutur Kaler.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dosen UGM: Pilkada tidak Langsung Melemahkan Kedaulatan Rakyat
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Menko AHY Perketat Pengawasan Cuaca Ekstrem Pastikan Keamanan Transportasi
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
RUPSLB Pertamina Geothermal (PGEO) Tunjuk Ahmad Yani jadi Direktur Utama
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Dipimpin Johny Pranata, Ducati MX Team Indonesia Andalkan Duo Crosser Haus Podium
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Kemenhaj: Petugas Haji Jangan Banyak Layani VIP, Fokus ke Jemaah
• 10 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.