Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan ribuan mesin ATM tutup hingga kuartal III/2025. Lantas bagaimana kondisinya di PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)?
Merujuk data Surveillance Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia mencapai 89.774 unit hingga kuartal III/2025, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 91.173 unit. Itu artinya ada 1.399 unit yang tutup dalam setahun.
Salah satu bank dengan jumlah ATM yang terus menurun adalah BTN. Corporate Secretary BTN Ramon Armando menyampaikan, menyusutnya jumlah ATM ini tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan perilaku nasabah yang semakin digital sehingga kebutuhan transaksi tunai ikut menurun, tetapi juga sebagai bagian dari strategi peningkatan layanan.
Saat ini, Ramon mengungkapkan bahwa BTN tengah melakukan migrasi dari ATM konvensional ke CRM serta menambah jumlah Cash Recycling Machine (CRM) karena perangkat tersebut memiliki fitur yang lebih lengkap dalam memenuhi kebutuhan nasabah.
“Penambahan CRM ini juga sejalan dengan perluasan jaringan kantor BTN,” kata Ramon kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (20/1/2026).
Dia menyebut, perubahan perilaku nasabah yang semakin tech-savvy tersebut turut tercermin dari peningkatan transaksi pada superapps Bale by BTN yang kian signifikan dan kini menjadi salah satu kanal utama pilihan nasabah dalam bertransaksi. Kendati begitu, Ramon tidak mengungkapkan secara pasti berapa persen peningkatan transaksi pada superpass milik BTN itu.
Berbeda dengan BTN, BCA tetap berinvestasi menambah mesin ATM. Per September 2025, BCA tercatat memiliki 20.008 ATM yang tersebar di penjuru Indonesia, naik dibandingkan posisi setahun lalu yang berjumlah 19.439.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan keberadaan ATM, khususnya ATM setor-tarik, masih dibutuhkan masyarakat terutama yang memiliki mobilitas tinggi sehingga perseroan berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan nasabah dengan menambah mesin ATM.
“Kami memproyeksikan penggunaan mesin ATM akan terus tumbuh ke depannya selaras dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia,” kata Hera kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (20/1/2026).
Sejalan dengan investasi untuk menambah jumlah ATM, Hera menyebut bahwa perseroan turut melakukan investasi berkesinambungan untuk memperkuat ekosistem hybrid banking, dari kanal mobile dan internet banking, point of sales, kantor cabang, ATM, hingga contact center.
Dia mengungkapkan, investasi strategis untuk ATM salah satunya dilakukan melalui penyediaan fitur setor dan tarik tunai tanpa kartu (cardless) di BCA mobile serta myBCA.





