Prospek INCO-NCKL Cs di Tengah Isu Pemangkasan Kuota Tambang

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sektor logam dinilai menarik seiring potensi pemangkasan kuota tambang yang dinilai dapat memicu reli berbasis pasokan, khususnya pada komoditas nikel.

Prospek INCO-NCKL Cs di Tengah Isu Pemangkasan Kuota Tambang. (Foto: Merdeka Battery)

IDXChannel – Sektor logam dinilai menarik seiring potensi pemangkasan kuota tambang yang dinilai dapat memicu reli berbasis pasokan, khususnya pada komoditas nikel.

Kenaikan harga nikel setidaknya dalam dua pekan terakhir dipicu spekulasi pasar terkait kemungkinan pengurangan kuota penambangan bijih oleh pemerintah Indonesia.

Baca Juga:
Harga Emas Kian Tak Terbendung di Atas USD4.700, Perak Ikut Pecahkan Rekor

Seiring dengan itu, dalam riset yang terbit pada 14 Januari 2026, Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor tambang logam.

Sejak laporan sektoral terakhir dirilis, harga saham emiten tambang logam dalam cakupan Bahana telah menguat dan mencapai target harga sebelumnya.

Baca Juga:
Blue Bird (BIRD) Jalin Kolaborasi dengan Tahilalats, Bidik Pelanggan Generasi Muda

Merespons hal tersebut, Bahana menaikkan target harga berbasis valuasi untuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta merevisi naik target harga berbasis sum of the parts analysis (SOTP) untuk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan Trimegah Bangun Persada (NCKL).

Kenaikan target harga ini mencerminkan rerating global sektor logam, di mana rata-rata valuasi emiten sejenis di pasar global kini diperdagangkan pada EV/EBITDA untuk tahun fiskal 2026-2027 sebesar 10,7 kali (x)/8,6x, naik dari 8,5x/6,6x pada November 2025.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Anjlok, Tarif Trump soal Greenland Picu Aksi Jual

Bahana menambahkan MDKA sebagai saham pilihan utama dan mempertahankan NCKL, dengan alasan emiten tambang terintegrasi dinilai lebih berpeluang merealisasikan kuota dibandingkan produsen yang bergantung pada penjualan pihak ketiga.

Meski demikian, Bahana menilai keberlanjutan reli harga sangat bergantung pada eksekusi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Komentar terbaru dari Kementerian ESDM mengindikasikan penyesuaian kuota akan mengikuti kebutuhan smelter, yang berpotensi meredam ekspektasi pemangkasan tajam hingga 34 persen secara tahunan.

Namun, potensi kenaikan harga masih terbuka jika pengendalian pasokan diperketat, sebagaimana pernah terjadi pada minyak sawit mentah (CPO) dan timah.

Bahana juga menilai reli harga saham saat ini lebih didorong oleh posisi spekulatif, bukan oleh pengetatan pasokan fisik.

Hal ini tercermin dari lonjakan posisi net long investor di London Metal Exchange (LME), sementara persediaan nikel di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) masih berada di level tertinggi.

Jika pemangkasan kuota benar-benar terjadi hingga sekitar 100 juta wet metric ton bijih, Bahana memperkirakan produksi logam nikel dapat turun 0,7-1,0 juta wmt, cukup untuk menyerap proyeksi kelebihan pasokan nikel kelas-1 sekitar 260 ribu ton pada 2026.

Menurut hemat Bahana, risiko utama tetap berasal dari pelemahan harga nikel, ketidakpastian kebijakan, serta keterlambatan eksekusi proyek. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Comeback di Gelaran Indonesia Masters 2026, Anthony Sinisuka Ginting Akui Tegang Kembali Bermain di Istora
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Fajar/Fikri Manfaatkan Magis Istora Demi Akhiri Puasa Gelar di Indonesia Masters 2026
• 27 menit lalutvonenews.com
thumb
Rismon Sianipar Merasa Jadi Sasaran Jokowi dalam Kasus Tudingan Ijazah Palsu
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Saham UNTR dan ASII Anjlok Usai Izin Tambang Emas Martabe Dicabut Prabowo
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Smartwatch Co-Pilot Pesawat ATR 42-500 Terdeteksi Aktif dan Catat 13 Ribu Langkah, Keluarga Minta Bantuan Presiden Prabowo
• 23 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.