Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf
(Dosen FEB, Universitas Hasanuddin dan Chairman ASEAN Competition Institute – ACI)
HARIAN FAJAR, MAKASSAR – Meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang menekan perekonomian nasional menjadi isu sentral dalam taklimat presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto di hadapan para pimpinan universitas dan guru besar dari perguruan tinggi negeri maupun swasta seluruh Indonesia, pada Kamis, 15 Januari 2026, di istana negara, Jakarta.
Namun lebih jauh, perekonomian nasional juga menghadapi tekanan dari sisi domestik. Tekanan tersebut bersumber dari defisit fiskal yang melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025, yaitu sebesar 2,92 persen dari target 2,53 persen, mendekati batas atas 3,0 persen yang dianggap aman sesuai undang-undang.
Faktor Risiko Perekonomian
Faktor risiko perekonomian nasional bukan hanya karena angka defisit fiskal yang meningkat, tetapi karena kemampuan kita membayar utang yang memburuk. Hal ini, tercermin pada rasio pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman terhadap pendapatan negara (debt service ratio atau DSR) yang terus meningkat hingga sekitar 42,3 persen pada tahun 2024.
Sesuai standar World Bank (WB) bahwa DSR yang dianggap aman (berkelanjutan) adalah lebih kecil dari 25 persen. Atau dengan kata lain, suatu negara dianggap tidak berisiko dari sisi fiskal jika kurang dari seperempat (kurang dari 25 persen) pendapatannya digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Saat ini, sekitar 42,3 persen pendapatan negara dari pajak dan non pajak digunakan untuk membayar bunga dan cicilan utang. Hanya sekitar 56,7 persen pendapatan negara yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan. Pada saat yang sama, penerimaan pajak tidak sesuai dengan target yang tercermin pada tax to gdp ratio yang menurun.
Sementara faktor risiko dari sisi eksternal bersumber dari potensi kenaikan harga minyak dunia akibat penangkapan presiden Venezuela. Namun saat ini, risikonya masih kecil karena meskipun deposit minyak terbuktinya terbesar di dunia, mencapai 303 milyar barrel, tetapi produksinya hanya satu juta barrel per hari. Peringkat ke-18 produsen minyak dunia.
Risiko terbesar terhadap perekonomian nasional dan global justru bersumber dari potensi perang Iran – AS. Pengalaman perang Timteng sejak 1970-an hingga saat ini, seperti revolusi Iran, perang Iran-Irak, perang Timteng 1991, Arab spring dan embargo minyak Timteng atas keterlibatan UE mendukung Israel dalam perang Yom Kippur membuat harga minyak dunia naik secara drastis.
Hasil simulasi Fitch Rating tahun 2023, memperkirakan bahwa terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik menjadi 120 dollar AS per barrel. Atau, naik kurang lebih 88,12 persen dari harga minyak saat ini, sekitar 63,788 dollar AS per barrel pada Kamis, 15 Januari 2026.
Di mana, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,4 persen dan mendongkrak inflasi secara global sebesar 0,1 – 0,8 persen.
Agenda Jangka Panjang
Saat ini perekonomian nasional terperangkap pertumbuhan 5,0 persen yang telah terjadi selama satu dekade terakhir. Jika hal ini berlanjut maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 trilyun dollar AS dan maksimum 3,889 trilyun dollar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia 1,396 trilyun dollar AS.
Pada saat yang sama, GDP per kapita Indonesia hanya sebesar 4.924,510 dollar AS tahun 2024. Dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dollar AS tahun 2030 dan 12.003,715 dollar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju.
Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar tidak mengalami perangkap pertumbuhan 5,0 persen? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dollar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dollar AS?
Terdapat dua langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk keluar dari perangkap pertumbuhan 5,0 persen, sekaligus memitigasi risiko ketidakpastian global dan risiko fiskal, yaitu: langkah pertama, meningkatkan efisiensi perekonomian nasional dengan cara menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari 6,3 saat ini menjadi 4,5 tahun 2030 dan 3,0 tahun 2045.
Langkah ini akan membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9,0 persen per tahun hingga tahun 2045. Dengan realisasi investasi pada tahun 2030 sekitar 40,50 persen GDP, dengan ICOR 4,5 dan 27,0 persen GDP dengan ICOR 3,0 tahun 2045.
Melanjutkan proses transformasi ekonomi nasional sehingga pada tahun 2030 nilai ICOR turun menjadi 4,5 sehingga kebutuhan investasi menjadi lebih kecil, semakin efisien, yaitu hanya 948,199 milyar dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen.
Hal ini lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi sebesar 1,325 trilyun dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen dengan ICOR sebesar 6,3. Business as usual dengan tingkat inefisiensi yang tinggi.
Tujuannya, mewujudkan GDP riil sebesar 2,341 trilyun dollar AS dengan pendapatam per kapita 7.552,361dollar AS tahun 2030. Dan selanjutnya, pada tahun 2045, GDP riil dan GDP per kapita setara negara maju, yaitu GDP riil sebesar 8,528 trilyun dollar AS dengan pendapatan per kapita 26.320,665 dollar AS tahun 2045.
Langkah kedua, status negara maju tidak cukup hanya berdasarkan GDP per kapita tetapi juga dapat dilihat pada The Economic Complexity Index (ECI). ECI mengukur produktifitas pengetahun yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor suatu negara. Di mana, dalam 26 tahun terakhir, sejak tahun 2000, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.
Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi hanya 18,98 persen. Sehingga perlu untuk mengakselerasi pengembangan integrated industrial estate berbasis komoditi unggulan di setiap propinsi.
Akhirnya, kembali ke taklimat presiden Prabowo Subianto kepada para guru besar yang mengutip fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya kita berpindah dari “gigi tiga ke gigi lima”, mengubah cara berpikir dan bertindak mewujudkan Indonesia Emas 2045.(*)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478715/original/019696600_1768914951-000_33KA2FW.jpg)
