Perjuangan Muhadi dan Ela Menikah di Tengah Banjir Cengkareng...

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Hajat pernikahan di RW 16 Pedongkelan, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, seolah dipaksa menari mengikuti irama hujan.

Prosesi yang seharusnya dipenuhi senyum dan doa, justru dibuka oleh gemuruh air yang tak diundang pada Minggu (18/1/2026) pagi.

Banjir datang seperti tamu tak diundang, merayap masuk ke halaman rumah, mengisi celah-celah, dan mengubah jalannya hari bahagia menjadi ujian yang mengguncang.

Baca juga: Gibran Kunjungi Korban Banjir Kampung Gabus Bekasi, Warga: Janji Normalisasi Kali

Muhadi, mempelai pria, tidak memilih untuk mundur. Ia memilih untuk menembus genangan air setinggi 20 sentimeter, membopong istrinya, Ela Laela, menuju pelaminan.

Seolah menantang alam, Muhadi dan Ela melangkah bersama, membawa harap yang tak ingin pupus.

Banjir membuat semua tampak tak mungkin.

Namun, cinta yang tengah mengikat mereka seakan memberi kekuatan lain, sebuah keyakinan bahwa hari itu harus tetap dilalui, meski jalan yang dilalui basah dan becek.

Kondisi cuaca yang tidak bersahabat sejak pagi sempat memukul mental Ela.

Ia mengaku nyaris menyerah dan ingin menghentikan seluruh prosesi karena khawatir tamu undangan tidak akan hadir menerjang luapan air yang mengepung lokasi rumahnya.

“Sempat putus asa juga saya. Pagi-pagi saya sampai, saya mau membatalkan acara saya karena melihat banjir. Saya takut orang-orang tidak datang,” ujar Ela saat menceritakan kegelisahannya, dikutip dalam tayangan KompasTV, Rabu (21/1/2026).

Baca juga: Banjir Jakarta–Bekasi Telan Korban, Dua Orang Tewas dalam Sehari

Masakan dan dekorasi yang sudah tersusun rapi pun sempat menjadi seolah sia-sia. Ela bahkan sempat memilih untuk tidak beranjak dan meminta agar persiapan tersebut dibuang saja.

Namun, di tengah ragu dan cemas, ada kekuatan yang lebih besar yang menahan keputusasaan itu yakni keluarga.

Ayah dan keluarga sebagai jangkar harapan

Tekad sang ayah dan dukungan keluarga besar menjadi penopang yang membuat Ela tetap berdiri, meski air mencoba menenggelamkan semangatnya.

Ela mengenang bagaimana ayahnya terus memberikan dorongan moral agar ia tetap sabar menghadapi ujian di hari bahagianya tersebut.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Akhirnya bapak saya terus-menerus mendorong saya, juga saudara saya. Kata beliau, 'Sabar-sabar,' alhamdulillah,” ucap Ela haru.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kementerian Imipas Kumpulkan Rp 1,7 Miliar untuk Kebutuhan Air Bersih di Daerah Bencana
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
ASEAN Para Games Thailand: Tim Renang Indonesia Sumbang 3 Emas
• 9 menit lalumetrotvnews.com
thumb
HP China Makin Ditinggal, Oppo Paling Enggak LAku
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kapolri Puji Kerja Direktorat PPA-PPO Lewat Program Rise and Speak
• 1 jam laludetik.com
thumb
Izin Operasi 28 Perusahaan SDA Dicabut Usai Bencana Aceh–Sumatra
• 12 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.