ETIndonesia. Kurang dari satu bulan lagi, Tahun Baru Imlek 2025 akan tiba. Seharusnya ini menjadi masa paling hangat dalam setahun—waktu untuk berbelanja, berkumpul bersama keluarga, dan menatap tahun baru dengan harapan. Namun di Tiongkok hari ini, suasana yang terlihat justru berbanding terbalik.
Alih-alih memenuhi pusat perbelanjaan, banyak warga justru berbondong-bondong menuju kuil. Bukan untuk memohon keberuntungan, melainkan untuk menumpahkan kesedihan yang tak lagi menemukan saluran di dunia nyata.
Tangisan di Gunung-gunung Suci
Di Gunung Jiuhua, salah satu gunung suci Buddhisme di Tiongkok, seorang pria muda terlihat bersujud di kaki patung emas Bodhisattva Ksitigarbha. Tubuhnya gemetar, tangisnya pecah, seolah semua beban hidup runtuh sekaligus di hadapan patung suci itu.
Sementara itu di Gunung Putuo, Provinsi Zhejiang, pemandangan serupa terulang. Di depan patung Bodhisattva Avalokitesvara, seorang perempuan muda berlutut di anak tangga batu, menangis sambil berdoa. Di bawah alas patung, deretan orang bersandar ke dinding, berlutut di tanah, dan menangis tanpa malu—tanpa suara ditahan.
Video-video ini menyebar luas di media sosial Tiongkok. Kolom komentar dipenuhi kalimat pendek yang menusuk hati:
“Seandainya aku juga bisa menangis di depan Buddha.”
“Aku benar-benar ingin menangis sepuasnya.”
“Aku menanggung begitu banyak penderitaan, tapi tak ada yang mengerti.”
Tangisan-tangisan itu bukan sekadar emosi sesaat. Itu adalah akumulasi luka sosial yang telah lama dipendam.
Dunia yang Diam-diam Berubah
Seorang blogger daratan Tiongkok menyimpulkan dengan getir: “Dunia ini sedang berubah tanpa suara—dan menjadi semakin asing.”
Dulu, meski hidup pas-pasan, masih ada kehangatan, tawa, dan kebahagiaan sederhana. Kini, rasa bahagia terasa terus merosot dari hari ke hari. Fenomena-fenomena yang dulu tak pernah terdengar—bahkan tak terbayangkan—kini muncul satu per satu, menyelimuti kehidupan sehari-hari rakyat.
Fenomena Aneh Pertama: Konsumsi Menghilang
Jalan-jalan kota kini dipenuhi toko-toko tutup. Papan bertuliskan “disewakan” dan “dijual” menggantikan etalase yang dulu ramai.
Banyak pemilik toko berkata pahit: bertahan enam bulan saja sudah dianggap beruntung, sebagian bahkan tutup sebelum tiga bulan.
Para ekonom akhirnya menyimpulkan satu fakta sederhana namun berat: rakyat benar-benar kehabisan uang.
Hari ini, bagi banyak orang, bisa makan dengan stabil, tetap sehat, dan tidur nyenyak sudah menjadi harapan terbesar—bukan lagi impian kemakmuran.
Fenomena Aneh Kedua: Pendidikan Tak Lagi Mengubah Nasib
Dulu, satu mahasiswa adalah harapan seluruh keluarga. Orangtua berhemat bertahun-tahun demi satu ijazah, berharap nasib keluarga ikut terangkat.
Kini, pasar kerja membeku. Lulusan universitas membanjiri jalanan dengan seragam kurir makanan, berjuang di tengah lalu lintas demi bertahan hidup. Bertahun-tahun belajar keras, yang menanti justru masa depan buram tanpa kepastian.
Dari sinilah lahir fenomena “rebahan”.
Bukan karena generasi muda malas, melainkan karena sekeras apa pun berusaha, mereka tetap terbentur langit-langit tak terlihat. Daripada terus terkuras secara mental, mereka memilih menurunkan ekspektasi—asal bisa bertahan hidup.
Fenomena Aneh Ketiga: Orang Sakit Takut ke Rumah Sakit
Dulu, rumah sakit berarti harapan. Kini, itu identik dengan biaya yang mencekik.
Sebelum pengobatan dimulai, pasien harus menjalani serangkaian tes mahal: CT scan, tes darah, EKG—bahkan untuk flu atau sakit gigi. Penyakit belum sembuh, tabungan sudah habis ribuan yuan.
Yang lebih menakutkan, muncul cerita-cerita tentang pasien yang masuk rumah sakit dan tak pernah pulang hidup-hidup. Setelah dinyatakan mati otak, organ tubuh segera diambil untuk transplantasi.
Dari sinilah lahir ungkapan pahit yang kini beredar luas: “Penyakit kecil ditahan, penyakit besar pasrah pada nasib.”
Fenomena Aneh Keempat: Rumah Tak Lagi Diinginkan
Tak peduli seberapa besar diskon atau slogan pengembang, pembeli rumah terus menyusut.
Dulu rumah adalah simbol status dan kekayaan. Kini itu dianggap beban hidup. Banyak orang kehilangan pekerjaan, tak sanggup membayar cicilan. Rumah disita, nama dicap sebagai penunggak utang—sementara harga properti terus merosot.
Daripada menjadi budak rumah dan budak utang, semakin banyak orang memilih menyewa dan hidup lebih bebas.
Fenomena Aneh Kelima: Orang Tak Mau Menikah
Data resmi menunjukkan, dalam sembilan bulan pertama tahun 2024, jumlah pernikahan nasional hanya 4,747 juta pasangan—angka terendah dalam hampir 40 tahun.
Anak muda berhitung dengan dingin: menikah berarti rumah, mobil, mahar; setelah menikah harus menopang empat generasi orangtua; biaya hidup melonjak drastis.
Maka era lajang pun dimulai.
Fenomena Aneh Keenam: Orang Tak Mau Punya Anak
Dulu orangtua berkata: hidup adalah hidup demi anak. Kini, membesarkan anak terasa seperti menghabiskan seluruh hidup dan masa depan.
Lebih jauh lagi, setelah legalisasi transplantasi organ dan komersialisasi tubuh manusia, muncul ketakutan yang jauh lebih gelap. Anak-anak dianggap rentan menjadi “tambang organ”. Cerita kehilangan misterius dan penculikan paksa ke ambulans menyebar dari mulut ke mulut.
Banyak orangtua akhirnya berpikir pahit: lebih baik tidak melahirkan, daripada kehilangan anak suatu hari tanpa jejak.
Menangis Karena Tak Ada Tempat Mengadu
Di tengah semua ini, rakyat hanya bisa menangis di depan Buddha. Bukan karena mereka terlalu religius, melainkan karena tak ada lagi tempat untuk mengadu.
Tangisan di kuil-kuil itu adalah jeritan sunyi sebuah masyarakat—sebuah tanda bahwa sesuatu telah retak jauh di dalam sendi kehidupan.
Menjelang Imlek 2025, ketika lentera merah mulai digantung, yang menyala bukanlah harapan, melainkan air mata yang tak lagi bisa ditahan.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F20%2F7ab762e75fe4090b8648ff6903b89be8-20260120kum4.jpg)