Sistem ”Mooring” Memperluas Perlindungan Koral Raja Ampat

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Hampir dua tahun sistem tambat labuh atau Raja Ampat Mooring System berjalan. Setidaknya sudah 250 kapal parkir di lautan Raja Ampat, Papua Barat Daya, tanpa merusak ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati laut tropis terkaya dunia itu.

Kami berkesempatan melihat Raja Ampat Mooring System (RAMS) atau sistem pelampung tambat saat berlayar dari Kota Sorong, Papua Barat Daya, ke Kabupaten Raja Ampat, Selasa (20/1/2026) pagi. Ketika kami tiba di Pelabuhan Marina Star, Sorong, deru mesin kapal sudah terdengar bersiap. Ditemani terik matahari pagi pukul 9.00 waktu Indonesia timur (WIT), lambung kapal pun menyibak perairan Raja Ampat.

Kabupaten Raja Ampat memiliki sedikitnya 1.800 pulau besar dan kecil dengan wilayah seluas 46.108 kilometer persegi yang terbagi menjadi 24 distrik, 117 kampung, dan 4 kelurahan. Raja Ampat berada di jantung pusat segitiga karang dunia di bagian barat Pulau Papua yang dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini.

Fakta ini menjawab gumaman kecil kami ketika melihat begitu banyak kapal bertiang layar tinggi berlabuh di perairan Raja Ampat. Ada yang di pesisir, ada pula yang berlabuh di tengah perairan.

Dari Pelabuhan Marina Star, kami naik kapal sekitar tiga jam menuju Pulau Waigeo, lalu ditambah satu jam lagi menuju Pulau Kri. Panorama alam pesisir dengan pasir putih, air laut yang begitu bening, hingga bayang-bayang terumbu karang di dasar laut begitu indah menyapa ketibaan kami di sana. Kapal ditambat di sana-sini.

RAMS membuat kapal-kapal ditambatkan di pelampung tambat sehingga tidak perlu menurunkan jangkar ke dasar laut dengan risiko merusak terumbu karang. Berkat sistem pelampung tambat, keanekaragaman hayati laut Raja Ampat pun semakin terjaga.

Menikmati keindahan bawah laut tanpa merusak. Begitulah tujuan pemasangan pelampung tambat di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Fasilitas tambat labuh kapal di perairan yang pertama di Indonesia ini diinisiasi Konservasi Indonesia dan Global Fund for Coral Reefs (GFCR).

Pada Rabu (21/1/2026), Konservasi Indonesia, GFCR, bersama para pemangku kepentingan di Papua Barat Daya akan memasang mooring buoy tambahan, yang merupakan kedua kali setelah pemasangan pertama pada Juni 2024. Saat itu, dua pelampung tambat dipasang di dua wilayah perairan, yakni Friwen dan Mioskun, di Distrik Waigeo Selatan.

Setiap pelampung tambat berbobot 430 kilogram terikat kabel baja panjang ke dasar laut yang lapang bebas terumbu karang. Pelampung tambat ini dipasang di perairan dengan kedalaman 44 meter dan 48 meter.

Setiap kapal yang datang tinggal menambatkan tali ke pelampung tambat RAMS. Pelampung tambat mampu menahan dua sampai tiga kapal bertiang layar tinggi, seperti pinisi, sekaligus, dengan berat total 750 gros ton.

President and Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany mengatakan, sejak dipasang pada Juni 2024, pelampung tambat sudah melayani sedikitnya 250 kapal. ”Mooring ini penting karena sebelumnya kapal-kapal datang dan menambatkan jangkarnya sembarangan (ke dasar laut) sehingga merusak terumbu karang. Dengan sistem tambat labuh ini, ekosistem terumbu karang diselamatkan,” kata Meizani kepada Kompas di Waigeo, Papua Barat Daya, Selasa siang.

Kini pelampung tambat diperkuat menjadi total delapan pelampung tambat. Ada penambahan enam unit lagi di perairan Raja Ampat. Rinciannya, empat pelampung tambat dari Konservasi Indonesia dan GFCR serta dua unit lagi dari Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) Raja Ampat.

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dan para pemangku kepentingan lain akan hadir meresmikan peluncuran pelampung tambat baru ini di Raja Ampat. Meizani percaya, kian banyak pelampung tambat akan memperkuat kelestarian ekosistem bawah laut yang menjadi daya tarik utama wisata di Raja Ampat.

Bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan lain, lanjut Meizani, pihaknya menargetkan memasang 10 pelampung tambat hingga 2027. Walakin, jumlah itu masih belum cukup untuk kebutuhan di Raja Ampat.

Berdasarkan riset dan asesmen Konservasi Indonesia, Raja Ampat setidaknya membutuhkan 157 pelampung tambat. ”Kami akan terus menambah jumlahnya ke depan untuk ekosistem berkelanjutan,” ucapnya.

Elisa Kambu mengatakan, Raja Ampat merupakan kawasan strategis bagi keanekaragaman hayati dunia yang pengelolaannya harus dilakukan secara terukur dan konsisten. Selain pemasangan pelampung tambat, ia juga telah menandatangani Surat Edaran Gubernur tentang Wajib Penggunaan Mooring dan Pembayaran Retribusi Mooring di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat yang ditujukan kepada kapal-kapal yang berlibur ke Raja Ampat.

”Melalui penguatan Raja Ampat Mooring System dan penerbitan surat edaran ini, kami menegaskan bahwa seluruh kapal yang beroperasi di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat wajib menggunakan tambat labuh atau mooring resmi dan membayar retribusi sesuai ketentuan. Pada saat yang sama, kami juga melarang aktivitas labuh jangkar di seluruh area Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat,” ujar Elisa.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut dilengkapi dengan mekanisme pengawasan dan penegakan aturan di lapangan. ”Pengawasan dilakukan oleh BLUD UPTD bersama aparat terkait dan masyarakat adat, sementara penerimaan retribusi dikelola secara resmi untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi. Aturan ini berlaku mengikat bagi seluruh pihak yang beraktivitas di perairan Raja Ampat sejak ditetapkan,” kata Elisa.

Implementasi kebijakan tersebut mulai menunjukkan dampak konkret, termasuk dari sisi pembiayaan pengelolaan kawasan. Kepala BLUD UPTD Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat Syafri Tuharea menjelaskan, penerapan RAMS tahap satu telah memberikan kontribusi nyata.

”Sejak pelampung tambat tahap pertama dipasang pada 2024, tercatat telah digunakan sebanyak 250 kali tambat oleh kapal-kapal wisata yang beroperasi di perairan Raja Ampat. Dengan retribusi pelampung tambat yang telah resmi diberlakukan, nantinya akan sangat mendukung pengembangan upaya konservasi di kawasan ini,” kata Syafri.

Kaya koral

Raja Ampat memiliki kekayaan terumbu karang yang luar biasa karena berlokasi di segitiga karang dunia (coral triangle). Catatan Konservasi Indonesia, Raja Ampat memiliki, sedikitnya 600 spesies terumbu karang keras (hard coral) atau sekitar 75 persen terumbu karang dunia dan 18 persen terumbu karang Indonesia ada di tempat ini.

Selain terumbu karang, Raja Ampat memiliki 1.300 spesies ikan karang, lebih dari 70 jenis moluska dan invertebrata laut, serta 6 dari 7 spesies penyu dunia ada di Raja Ampat.

Keanekaragaman hayati itu yang membawa setidaknya 38.914 turis dalam dan luar negeri menyelami keindahan bawah laut Raja Ampat. Data Dinas Pariwisata Raja Ampat mencatat kenaikan wisatawan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, jumlah wisatawan mencapai 19.849 orang, lalu naik menjadi 33.277 orang pada 2024. Pemerintah daerah menargetkan setidak 40.000 wisatawan datang pada tahun ini.

”Wisatawan datang dan tentunya dengan kapal-kapal, ada istilah tourist boombing yang jika tidak dikelola dengan baik justru menjadi ancaman untuk keanekaragaman hayati di Raja Ampat,” kata Meizani.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cegah Bunuh Diri, Wali Kota Malang Gandeng Forum Rektor
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Jadi Calon Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ini Sosok Pertama Kali yang akan Memakai Busana pada Hari Kiamat
• 7 menit lalurepublika.co.id
thumb
Kronologi Aliff Alli Dilaporkan Istri Sah, 14 Tahun Menikah Tanpa Nafkah, Berujung Aduan ke Komnas Perempuan
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Inkonsistensi dan Potensial Conflict Interest Terhadap Pasal 100 Undang-Undang No 1 Tahun 2023
• 15 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.