Penulis: Tio Furqan Pratama
TVRINews, Padang
Pascabanjir yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) terus menyiagakan personel medis secara intensif.
Pada Selasa, 20 Januari 2026, sebanyak 87 warga terdampak mendapatkan pelayanan kesehatan gratis yang tersebar di tujuh titik posko pengungsian.
Layanan kesehatan "jemput bola" ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan kondisi fisik warga, terutama yang tinggal di hunian sementara (huntara), tetap terjaga di tengah kondisi cuaca yang masih fluktuatif.
Plt. Kabiddokkes Polda Sumbar, AKBP dr. Faisal, mengungkapkan bahwa mobilitas tim medis difokuskan pada wilayah-wilayah yang membutuhkan intervensi kesehatan mendesak. Berdasarkan temuan di lapangan, banyak warga mulai terserang penyakit khas pascabencana.
"Hari ini, Selasa, 20 Januari 2026, tim melayani 87 warga di lokasi seperti Huntara Lubuk Buaya, Sungai Lareh, hingga Tabiang Banda Gadang. Sebagian besar mengeluhkan gangguan pernapasan (ISPA) seperti batuk dan flu, serta gatal-gatal pada kulit. Kami juga memberikan perhatian khusus bagi penderita hipertensi yang pengobatannya sempat terputus saat proses evakuasi," jelas AKBP dr. Faisal.
Data harian menunjukkan Posko Tabiang Banda Gadang menjadi titik dengan pasien terbanyak yakni 18 orang, diikuti oleh Sungai Lareh dan Nanggalo dengan masing-masing 15 pasien.
Di tempat terpisah, Kabidhumas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya menegaskan bahwa Polri berkomitmen mengawal masa tanggap darurat secara menyeluruh, baik dari aspek keamanan maupun kemanusiaan.
"Sesuai instruksi Kapolda Sumbar, kami harus memberikan pelayanan terbaik. Melalui bakti kesehatan ini, kami ingin memastikan negara hadir di tengah warga yang tertimpa musibah. Tim Biddokkes akan terus bersiaga selama dibutuhkan," tegas Kombes Pol Susmelawati.
Selain memberikan penanganan medis dan obat-obatan, personel Biddokkes juga aktif memberikan edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan pengungsian. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk mencegah munculnya wabah penyakit menular lainnya, seperti diare, yang kerap muncul akibat sanitasi yang terbatas pascabanjir.
Editor: Redaktur TVRINews




