Surat dari Norwegia dan Finlandia Bahas Greenland, Balasan Trump Jadi Viral

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada 18 Januari sore, Perdana Menteri Norwegia dan Presiden Finlandia secara bersama-sama menulis surat kepada Presiden AS Donald Trump. Sejak awal, mereka menyerukan agar situasi “did­inginkan”. Mereka berharap, dalam isu-isu sensitif seperti Greenland, Gaza, dan Ukraina, semua pihak tidak bersikap terlalu konfrontatif, melainkan meredakan ketegangan—bahkan menyarankan agar dilakukan panggilan telepon untuk membicarakannya.

Namun, Trump membalas surat tersebut hanya dalam waktu 27 menit setelah menerimanya. Dalam balasannya, ia mengatakan bahwa karena Hadiah Nobel Perdamaian tidak diberikan kepadanya—padahal ia mengklaim telah menghentikan lebih dari delapan perang—maka ia tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya mempertimbangkan perdamaian. Yang lebih ia pedulikan sekarang adalah kepentingan Amerika Serikat dan apa yang menurutnya merupakan hal yang benar.

Trump juga secara terbuka mengangkat isu Greenland dalam surat itu. Menurut laporan Time Magazine, ia mempertanyakan dasar kepemilikan Denmark atas Greenland. Ia mengatakan bahwa berabad-abad lalu kapal kalian pernah singgah di sana, tetapi kapal kami juga pernah singgah. Lalu atas dasar apa wilayah itu menjadi milik kalian? Tidak ada dokumen tertulis yang membuktikannya.

Selain itu, Trump menegaskan bahwa Denmark pada dasarnya tidak mampu melindungi Greenland. Rusia dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) bisa saja memanfaatkan celah tersebut, sementara Amerika Serikat Lah yang memiliki kemampuan untuk menjaga wilayah itu.

Untuk mendorong perundingan soal Greenland, Trump pun mengeluarkan kartu tarif. Ia mengumumkan bahwa mulai 1 Februari, Amerika Serikat akan mengenakan tarif sebesar 10% terhadap delapan negara NATO—termasuk Denmark dan Norwegia—yang mengirim pasukan ke Greenland. Jika hingga 1 Juni belum tercapai kesepakatan, tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25%.

Trump menegaskan dengan jelas dalam suratnya: ia telah berbuat banyak untuk NATO, dan sekarang saatnya negara-negara tersebut memberikan imbalan. Serahkan Greenland kepada Amerika Serikat demi menjamin keamanan global.

Pernyataan ini segera memicu reaksi. Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut-sebut tidak bisa tinggal diam. Ada kabar bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk mengaktifkan “Instrumen Anti-Pemaksaan” Uni Eropa—yang dijuluki “bazoka perdagangan”—untuk membatasi masuknya produk Amerika ke pasar Eropa sebagai bentuk balasan. (Hui)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dialektika Delegitimasi dan Fragmentasi Kepercayaan dalam Demokrasi Indonesia
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Berita Populer: Toyota Veloz Hybrid EV Lintas Nusa; Diler Pertama Lepas di Dunia
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
BGN Sudah Gelontorkan Rp 18 T buat MBG hingga Januari 2026
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia Masters 2026: Fadia/Tiwi Mulus ke Babak Kedua
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Kran KUR Dibuka Demi Selamatkan PMI dari Rentenir 
• 2 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.