Benang kusut masalah pekerja migran Indonesia atau PMI asal Nusa Tenggara Timur perlahan diurai. Jeratan utang dari rentenir dengan bunga mencekik mulai dilepas. Skema pinjaman Kredit Usaha Rakyat atau KUR kepada PMI coba dihadirkan sebagai solusi.
Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus adalah salah satu konseptor di balik lahirnya ide pemberian pinjaman KUR bagi PMI. Hal ini menjadi yang pertama di Indonesia. Berikut kutipan wawancara Kompas.id dengan Charlie di ruang kerjanya Kantor Pusat Bank NTT di Kota Kupang pada Selasa (20/1/2026) petang.
Apa yang melatarbelakangi munculnya ide ini?
NTT menyumbang banyak pekerja migran ke beberapa negara. Sayangnya, yang muncul selama ini adalah potret buram. Setiap tahun, NTT menerima peti berisi jenazah pekerja migran. Jumlah lebih seratus. Masalah ini mendorong kita mencair jalan keluar. Ini sebagai arahan dari Pak Gubernur (Emanuel Melkiades Laka Lena).
Apa saja akar masalahnya?
Salah satunya adalah pembiayaan. Banyak PMI asal NTT yang berutang kepada rentenir dengan bunga tinggi. Mereka kesulitan mengakses pinjaman dari bank karena harus melewati prosedur panjang. Jeratan utang rentenir ini yang membuat hidup PMI kain menderita. Banyak yang tidak mampu bayar. Ada yang meninggal dengan utang belum lunas.
Langkah apa yang dilakukan Bank NTT?
Kami terhubung dengan pihak ketiga yang selama ini membantu pelatihan dan pengiriman pekerja migran. Kami siapkan skema pendanaan. Secara regulasi, bisa menggunakan KUR. Bank NTT mendapatkan jatah menyalurkan Rp 250 miliar KUR. Rp 50 miliar akan kami alokasikan untuk pekerja migran.
Bagaimana teknis pelaksanaannya?
Nanti, warga NTT yang ingin menjadi PMI bisa mendaftar kepada perusahaan yang yang berkerjasama dengan Bank NTT itu. Sejauh ini, baru satu, yakni Lembaga Pelatihan Kerja Musubu yang berbasis di Bali.
Di sana, calon PMI akan dilatih hingga ditempatkan ke negara tujuan. Biaya yang dikeluarkan untuk pelatihan dan penempatan dibebankan kepada PMI. Bank NTT membantu memberikan pinjaman dengan skema KUR. Bunganya 6 persen. Tenor pengembalian paling lama satu tahun. Tidak ada agunan.
Bagaimana mengantisipasi kredit macet?
Kami usulkan untuk asuransi kredit. Tidak ada masalah. Kalau PMI bekerja dengan baik, hasilnya menjanjikan. Di Jepang misalnya, jadi perawat lansia gajinya bisa tembus Rp 25 juta. Sejauh tidak ada halangan tetap, angsuran lancar dan bisa selesai lebih cepat.
Apa tujuan yang ingin dicapai?
Tentu PMI sukses bekerja di luar negeri. Hasil yang diperoleh tidak lagi sebatas membangun rumah atau membeli kendaraan di kampung. Kami ingin hasilnya produktif dan dapat menggerakkan ekonomi lokal. Buka usaha warung misalnya, juga usaha lain. Banyak orang akan terbantu.
Ini sejalan dengan semangat yang kami dorong ke depan, yakni kredit produktif di Bank NTT. Sejauh ini, kredit didominasi aparatur sipil negara. Banyak yang konsumtif.
Seberapa yakin, rencana ini dapat tercapai?
Sejauh ini, skema KUR untuk pekerja migran baru pertama kali. NTT jadi yang pertama. Pihak Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia mendukung langkah ini. Mereka mengundang saya ke Jakarta untuk menjelaskan konsep ini. Siapa tahu ini bisa diterapkan secara nasional.
Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kami fokus mengatasi masalah pekerja migran di NTT. Selama ini NTT selalu tampil dengan wajah buram dalam kasus pekerja migran. Kini, NTT memberi sumbangan solusi bagi Indonesia terkait masalah pekerja migran.



