Menyambut Ramadan, salah satu hal penting yang harus diperhatikan umat muslim adalah utang puasa di tahun lalu. Apakah sudah dibayar atau belum? Jika belum, bagaimana cara membayarnya? Bagaimana jika lupa jumlah utang puasanya? Apakah boleh bayar puasa Ramadan digabung dengan puasa lain?
Pada dasarnya, ketika seseorang berhalangan puasa Ramadan, maka ia sebaiknya mengganti sesegera mungkin.
Bayar utang puasa Ramadan dapat dilakukan secara berturut-turut sesuai jumlah hari yang ditinggalkan atau dikerjakan terpisah.
Pertanyaan terkait hukum dan tata cara qadha puasa Ramadan tersebut kami rangkum dalam artikel ini.
Baca sampai habis, ya, Parents!
Artikel Terkait: Niat Puasa Ramadan 2026, Lengkap dengan Tata Caranya! Pertanyaan Seputar Bayar Utang Puasa Ramadan 1. Siapakah Orang yang Berhak Meng-qadha Puasa Ramadan?Orang yang berkah meng-qadha puasa Ramadan adalah mereka yang tidak mampu menjalankan puasa wajib karena udzur (berhalangan). Beberapa orang yang termasuk golongan ini di antaranya adalah:
Perempuan yang berhalangan karena haid. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh. Musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan panjang). Ibu hamil/menyusui.Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:
“… Siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin …” (Surah al-Baqarah:184)
Artikel terkait: Ramadhan tiba tapi hutang puasa belum dibayar, bagaimana hukumnya? 2. Bolehkah Niat Qadha Puasa Ramadan Sekaligus Puasa Syawal?Boleh. Puasa qadha Ramadan sekaligus syawal bisa dilakukan bersamaan.
Perlu diketahui, puasa sunah Syawal memiliki keutamaan yang besar sesuai hadis Rasulullah:
“Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun.” (HR Muslim)
Namun, bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan dianjurkan untuk meng-qadha segera. Setelah utang puasa Ramadannya terbayar, maka ia boleh melanjutkannya dengan puasa sunah Syawal.
Kalaupun ia tidak melanjutkan dengan puasa sunah Syawal, ia tetap dinilai mengamalkan sunah puasa Syawal meski tidak mendapatkan ganjaran seperti yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah SAW.
3. Bolehkah Bayar Utang Puasa Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah?Jawabannya adalah boleh.
Puasa Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah sedangkan Puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari ini, jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji dianjurkan untuk berpuasa Arafah.
Pertama, qadha puasa Ramadannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunah Tarwiyah dan Arafah
Sebaiknya kita meng-qadha utang puasanya terlebih dahulu baru kemudian boleh mengamalkan puasa sunah Tarwiyah dan Arafah.
Namun, jika utang puasa Ramadan itu baru teringat jelang hari Arafah, maka sebaiknya kita membayar qadha puasa di hari Arafah.
Artikel terkait: Berbedakah Kondisi Bayi Bila Ibu Puasa Saat Hamil? 4. Bolehkah Niat Puasa Sunah Senin-Kamis sekaligus Bayar Utang Puasa Ramadan?Seseorang yang hendak mengerjakan qadha puasa Ramadan pada Senin atau Kamis, tidak perlu menggabungkan niat puasa qadha tersebut dengan niat puasa Senin dan Kamis.
Yang perlu dilakukan adalah melafalkan niat qadha puasa, karena qadha puasa itu hukumnya wajib.
Apakah kemudian ia mendapatkan pahala puasa Senin atau Kamis karena berpuasa pada hari tersebut maka itu adalah kewenangan Allah.
5. Bagaimana Jika Kita Lupa Jumlah Utang Puasa Ramadan?Jika seseorang lupa dengan jumlah hari yang ditinggalkan, akan lebih baik untuk memakai jumlah maksimum. Dengan demikian, puasa yang mesti dibayarkan tidak akan kurang.
Hal ini karena utang puasa Ramadan sebanyak apa pun itu wajib di-qadha karena hukum puasa Ramadan itu wajib.
Selagi puasa wajib itu belum ditunaikan, maka kewajiban itu masih menjadi tanggungannya.
Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menyarankan agar orang yang lupa jumlah utang puasanya hendaknya memperbanyak puasa sunah dengan niat meng-qadha utang puasa Ramadan.
Jika qadha puasa wajibnya selesai dan ia terus meng-qadha puasanya, maka puasa selebihnya bernilai pahala puasa sunnah.
Artikel terkait: Hukum muntah saat puasa menurut Islam, batalkah puasanya atau boleh lanjut? 6. Bagaimana Jika Seseorang Meninggal tetapi Masih Memiliki Utang Puasa?Jika orang tua sudah meninggal sebelum meng-qadha puasa, maka anak-anaknya dianjurkan untuk mengganti sejumlah hari yang ditinggalkan.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia padahal ia berutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya” (Muttafaq Alaih).
Apa Niat Puasa Qadha Ramadan?Niat qadha puasa Ramadan sendiri, dibaca pada malam hari seperti ketika mengerjakan puasa Ramadan, dengan lafal bahasa Arab sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta’ala.”
Nah, setelah mengetahui hukum mengqadha puasa Ramadan di atas, semoga Parents tidak kebingungan lagi perihal tata cara bayar utang puasa.
Meskipun kita diberi kelonggaran dalam meng-qadha, sebaiknya utang puasa dibayar sesegera mungkin karena tidak ada yang bisa mengira umur manusia kecuali Allah SWT.
***
Dalam Islam, NU OnlineBeragam penyakit yang rentan terjadi saat puasa, waspada ya Parents!
Daftar makanan yang sehat & tidak sehat untuk berbuka puasa!
Ramadhan tiba, ajarkan 7 makna puasa ini pada si kecil, yuk!




