Musisi sekaligus mantan politisi itu menegaskan pendidikannya bukan sekadar formalitas. Ia ingin kontribusi nyata bagi tata kelola industri musik nasional yang selama ini dinilai belum ideal.
Anang mengaku perjalanan kuliah S2 yang ia jalani di Surabaya penuh tantangan. Namun ia menikmati proses tersebut karena sejalan dengan perjuangannya di industri musik sejak puluhan tahun lalu.
“Perjalanannya seru dan sesuai dengan apa yang ingin aku kerjakan,” ujar Anang Hermansyah saat ditemui di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Selasa (20/01/2026).
Tema tesis Anang menyoroti relevansi Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) terhadap industri musik Indonesia. Menurutnya, pengalaman panjang sebagai pelaku industri membuatnya memahami persoalan yang dihadapi para musisi.
Ia menilai Indonesia memiliki sumber budaya yang sangat kuat. Dengan jumlah penduduk besar, karya dan musisi lokal seharusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Indonesia itu market besar dan senimannya harus mendapat hak yang selayaknya,” katanya.
Anang menilai selama ini regulasi musik masih bergantung pada Undang-Undang Hak Cipta. Padahal, menurutnya, aturan tersebut belum cukup mengatur tata kelola industri musik secara menyeluruh.
Ia mencontohkan industri film yang sudah memiliki undang-undang khusus. Sementara musik, yang kontribusinya besar bagi ekonomi kreatif, belum mendapatkan perlindungan serupa.
“Industri musik tidak bisa hanya berharap pada undang-undang hak cipta,” ungkap Anang.
Anang juga menyinggung potensi besar industri kreatif Indonesia yang bisa menyumbang triliunan rupiah bagi negara. Musik disebutnya bisa menjadi subsektor unggulan jika dikelola dengan regulasi yang tepat.
Ia berharap tesisnya dapat menjadi bahan diskusi bagi pemerintah, legislatif, dan pelaku industri. Analisis yang ia susun berasal dari data serta pengalamannya selama 40 tahun berkecimpung di dunia musik.
“Tesis ini kalau bisa dipakai negara, aku akan sangat bahagia,” ujarnya.
Tak berhenti di S2, Anang mengaku akan langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. Ia menegaskan pendidikan bukan soal kalah atau menang, melainkan kontribusi sosial.
Selain tesis, Anang juga tengah menyiapkan buku yang diambil dari riset akademiknya. Buku tersebut diharapkan dapat membuka diskusi publik soal masa depan industri musik Indonesia.
Dengan langkah ini, Anang menegaskan komitmennya tetap sebagai musisi sekaligus pemikir industri. Ia ingin musik Indonesia tidak hanya berjaya di dalam negeri, tetapi juga diperhitungkan dunia.(*)
Artikel Asli



