Laporan: SAKINAH F
Pangkep
FAJAR, PANGKEP — Kabut tebal dan hujan yang mengguyur kawasan pegunungan karst Maros–Pangkep sejak awal pekan menjadi tantangan besar dalam operasi pencarian dan penyelamatan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.
Operasi SAR gabungan memasuki hari ketiga pada Selasa (20/1/2026). Tim harus menghadapi medan ekstrem berupa tebing curam, dinding karst tajam, bebatuan licin, serta jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal.
Pencarian di Jurang Hingga Ratusan Meter
Sejak Minggu (18/1/2026), tim rescue gabungan yang terbagi dalam sejumlah Search and Rescue Unit (SRU) melakukan penyisiran dari puncak hingga dasar lembah. Tim bahkan harus menuruni tebing dengan teknik vertical rescue hingga kedalaman 200–700 meter menggunakan tali dan peralatan panjat khusus.
Anggota SRU 3, AKP Syarifuddin, mengungkapkan bahwa penyisiran dilakukan dengan cara mendaki ke puncak gunung, lalu turun menyusuri tebing terjal.
“Medannya luar biasa berat. Kami harus menggunakan tali untuk menyisir setiap sisi tebing. Jarak pandang karena kabut hanya sekitar satu meter,” ujarnya.
Dalam penyisiran tersebut, tim menemukan serpihan pesawat, dokumen, telepon genggam, jam tangan, serta bagian kepala pesawat yang masih relatif utuh dan tersangkut di pepohonan.
Korban Pertama Ditemukan
Pada Senin (19/1/2026), tim SAR gabungan menemukan korban pertama berjenis kelamin laki-laki di sebuah jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari permukaan.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, membenarkan penemuan tersebut.
“Korban ditemukan sekitar pukul 14.20 Wita di jurang dengan kedalaman kurang lebih 200 meter dan sudah dalam kondisi meninggal dunia,” jelasnya.
Proses evakuasi berlangsung perlahan akibat hujan dan kabut. Jenazah baru dapat dievakuasi dan tiba di Kampung Lampesu, Maros, pada sore hari sebelum disiapkan untuk dibawa ke Makassar guna proses identifikasi lebih lanjut.
Evakuasi Pramugari dari Kedalaman 350 Meter
Pada hari berikutnya, Selasa (20/1/2026), tim SAR kembali berhasil mengevakuasi korban kedua, seorang pramugari, dari kedalaman sekitar 350 meter di lereng Gunung Bulusaraung.
Komandan Korem 141/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, menjelaskan bahwa proses penarikan jenazah memakan waktu hingga enam jam.
“Evakuasi dimulai pukul 11.00 dan baru selesai sekitar pukul 17.00 di puncak gunung karena cuaca buruk dan angin kencang,” ujarnya di Posko Utama Operasi SAR Gabungan Nasional di Desa Tompobulu.
Setelah berhasil diangkat ke puncak, jenazah diturunkan ke posko utama dan tiba sekitar pukul 20.00 Wita. Selanjutnya, korban diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan untuk proses pelabelan sebelum dibawa ke RS Bhayangkara Makassar.
Operasi Masih Berlanjut
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI M Syafii, menyampaikan bahwa pihaknya memprioritaskan evakuasi melalui udara. Namun, cuaca buruk menjadi kendala utama.
“Kami prioritaskan SAR menggunakan udara. Unsur pesawat tambahan dari Surabaya juga disiapkan untuk percepatan operasi,” katanya.
Hingga Selasa malam, operasi SAR masih terus berlangsung untuk memastikan seluruh korban dan bagian pesawat dapat dievakuasi dengan aman.
Fakta-Fakta Pesawat Jatuh dan Evakuasi ATR 42-500
Jenis pesawat: ATR 42-500
Operator: Indonesia Air Transport (IAT)
Jumlah penumpang dan awak: 10 orang (7 awak, 3 penumpang)
Lokasi jatuh: Gunung Bulusaraung, Maros- Pangkep
Medan evakuasi: Tebing karst ekstrem dengan kedalaman 200–700 meter
Kondisi cuaca: Hujan, kabut tebal, dan angin kencang
Metode evakuasi: Vertical rescue dan dukungan SAR udara
Korban ditemukan:
Korban pertama: laki-laki, kedalaman ±200 meter
Korban kedua: perempuan (pramugari), kedalaman ±350 meter
Barang temuan: Serpihan pesawat, kepala pesawat, kursi penumpang, dokumen, ponsel, jam tangan
Proses identifikasi: Ditangani Tim DVI Polda Sulsel di RS Bhayangkara Makassar.


