China Pamer Perdagangannya Surplus di WEF Davos, Akan Agresif Jadi Pasar Dunia

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Wakil Perdana Menteri China He Lifeng memamerkan kinerja perdagangan negaranya yang surplus meski ditekan Amerika Serikat dengan tarif impor Presiden Donald Trump dalam World Economic Forum (WEF), Selasa (20/1) waktu Davos, Swiss.

Pernyataan itu disampaikan setelah negara manufaktur raksasa tersebut mencatat surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarah, yang berpotensi semakin membuat resah para mitra dagangnya.

China, kata He, siap memanfaatkan pasar berskala sangat besar yang dimilikinya dan akan lebih agresif memperluas impor. “Kami tidak hanya bersedia menjadi pabrik dunia, tetapi juga, dengan lebih antusias, menjadi pasar dunia,” ujar He dikutip dari Reuters, Rabu (21/1).

Tahun lalu, permintaan global yang tetap kuat terhadap produk buatan China membantu ekonomi terbesar kedua dunia itu bertahan dari tantangan kebijakan dagang Trump yang tidak menentu serta lemahnya penjualan domestik. China mencatatkan surplus neraca perdagangan mencapai USD 1,2 triliun.

Namun, ketergantungan China pada ekspor telah menciptakan kelebihan kapasitas produksi dan rentan terhadap perlawanan dari negara-negara yang ingin melindungi sektor manufaktur dalam negeri mereka.

He memimpin delegasi pemerintah China di Davos, yang dihadiri sekitar 2.900 delegasi, termasuk para kepala negara, di antaranya Trump, serta para eksekutif puncak teknologi dan keuangan global.

Ia menjadi pejabat China dengan peringkat tertinggi ketiga yang menghadiri Davos sejak kunjungan Presiden Xi Jinping pada 2017. He juga dijadwalkan menggelar resepsi bersama para pemimpin bisnis global, kata seorang sumber kepada Reuters.

China sebagai Mitra yang Andal

Delegasi Beijing diperkirakan akan mempresentasikan China sebagai mitra perdagangan dan investasi yang dapat diandalkan, di tengah kebijakan tarif Trump yang dinilai tidak konsisten dan koersif, yang telah mengguncang baik rival maupun sekutu Amerika Serikat.

“Praktik sepihak dan perjanjian dagang dari sejumlah negara jelas melanggar prinsip dasar dan aturan World Trade Organisation serta secara serius merusak tatanan ekonomi dan perdagangan internasional,” kata He, tanpa menyebut negara tertentu.

“China adalah mitra dagang semua negara, bukan lawan. Pembangunan China merupakan peluang, bukan ancaman, bagi perekonomian global,” tambahnya lagi.

Dalam banyak kasus, kata He, “China ingin membeli, tetapi pihak lain tidak ingin menjual,” seraya menyinggung istilah “pan-sekuritisasi”, yang kerap digunakan Beijing untuk menggambarkan pembatasan perdagangan oleh AS dan sekutunya dengan alasan keamanan nasional.

Pesan keterbukaan terhadap impor dan bisnis asing itu sejalan dengan pidato China di Davos dalam beberapa tahun terakhir, kata seorang eksekutif senior organisasi internasional berorientasi laba kepada Reuters.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney pekan lalu menyebut China “lebih dapat diprediksi” dibandingkan AS dan, berbeda dengan Washington, yang memangkas tarif kendaraan listrik China sebagai imbalan atas penurunan bea masuk kanola Kanada.

Tantangan yang Dihadapi China

Ekonomi China mencapai target pertumbuhan resmi sekitar 5 persen pada 2025, tetapi laju pertumbuhan melambat ke titik terendah dalam tiga tahun pada kuartal keempat, memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan model pertumbuhan berbasis ekspor.

Saat eksportir China mendiversifikasi pasar di luar Amerika Serikat akibat tarif, mereka juga semakin sering menghadapi langkah proteksionis, seiring makin banyak negara mendirikan hambatan dagang untuk melindungi industri domestik.

Dalam pidatonya, He membela model pembangunan China, menegaskan keberhasilannya bertumpu pada reformasi, keterbukaan, dan inovasi, bukan pada subsidi pemerintah.

Para mitra dagang, termasuk Uni Eropa, menuduh Beijing menggunakan subsidi untuk memberi keunggulan tidak adil bagi industri-industri tertentu, seperti sektor kendaraan listrik. Tahun ini, China memprioritaskan perluasan permintaan domestik, kata He, sembari mengundang perusahaan global untuk merebut peluang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tragedi Asap Rokok di Ciganjur: Tak Terima Diingatkan, 'Koboi Jalanan' Tusuk Warga dan Juru Parkir
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Istana Sampaikan Duka Cita Kecelakaan Pesawat ATR dan Bencana di Sejumlah Daerah
• 14 jam laluokezone.com
thumb
FIFA Series 2026 di Indonesia Kapan? Ini Jadwal dan Pesertanya
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
TPU Semper Banjir Diduga karena Dikepung Garasi Kontainer
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Underpass yang Dijanjikan Dedi Mulyadi Segera Dibangun di Kota Cimahi
• 14 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.