JAKARTA, KOMPAS.com — Banjir yang merendam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Budi Darma atau TPU Semper, Cilincing, Jakarta Utara, kembali terjadi dan masih belum sepenuhnya surut hingga Rabu (21/1/2026).
Pengelola TPU menyebut, salah satu penyebab utama genangan adalah posisi area pemakaman yang lebih rendah dibandingkan lingkungan di sekitarnya, terutama garasi kontainer.
Pengelola TPU Semper, Sukino, mengatakan kawasan pemakaman tersebut dikepung oleh garasi-garasi kontainer yang memiliki ketinggian sekitar satu meter lebih tinggi.
Baca juga: TPU Semper Kembali Banjir, 28 Blad Terendam Sejak Minggu
"Posisinya kami dikelilingi garasi-garasi kontainer. Itu posisinya lebih tinggi sekitar 1 meter di atas kami," katanya saat diwawancarai Kompas.com pada Rabu (21/1/2026).
Kondisi itu menyebabkan air hujan dari area sekitar justru melimpah ke arah TPU Semper dan menggenangi area pemakaman.
Menurut Sukino, limpahan air dari garasi kontainer tidak hanya berdampak pada TPU, tetapi juga ke wilayah sekitarnya, termasuk kawasan di sekitar Kali Gendong.
“Warga-warga yang di sekitar Kali Gendong juga kelimpah dari garasi-garasi itu,” ucapnya.
Banjir di TPU Semper terjadi sejak Minggu (18/1/2026) setelah hujan deras mengguyur wilayah Jakarta.
Hingga Rabu, tercatat sebanyak 28 blad makam masih tergenang air. Dari jumlah tersebut, 16 blad berada di unit pemakaman Islam dan 12 blad di unit pemakaman Kristen.
“Iya, masih. Saat ini ada 28 blad yang tergenang. Unit Islam 16 blad dan Kristen 12 blad,” kata Sukino.
Baca juga: Ratusan Warga Masih Mengungsi di Rusun Semper Barat meski Banjir Sudah Surut
Ia merinci, genangan di unit Islam terjadi di blad 41 hingga 60. Sementara itu, genangan di unit Kristen berada di blad 151, 154, 159, 160, 161, 162, 163, 164, 179, 185, 186, dan 187.
Sukino menuturkan, banjir di TPU Semper bukan kali pertama terjadi. Menurut dia, genangan serupa kerap muncul dalam kurun waktu sekitar lima tahunan.
“Sebenernya memang lima tahunan. Waktu tahun 2020 atau 2021 itu juga tergenang makanya tahun 2026 ini juga,” ujarnya.
Meski demikian, Sukino menyebut kondisi genangan saat ini masih bisa ditangani berkat keberadaan sodetan baru yang terhubung ke Kali Gendong. Ia membantah anggapan bahwa sodetan tersebut tidak berfungsi.
“Sekarang masih mending karena kan udah ada sodetan yang baru tuh. Itu kami masih bisa ngepompa untuk ke Kali Gendong. Yang bilang kalau sodetannya enggak berfungsi salah itu,” ujarnya.
Saat ini, kata Sukino, pihak pengelola TPU terus melakukan upaya penanganan. Penyedotan air dilakukan menggunakan empat unit mesin alkon untuk mengalirkan air ke ujung saluran di Kali Gendong.
“Sekarang telah dilakukan penyedotan dengan empat unit alkon mesin penyedot air ke ujung saluran di Kali Gendong,” tambahnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
