Tim SAR gabungan mengevakuasi satu jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan pada Rabu (21/1/2026) pagi. Evakuasi dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter Basarnas setelah kondisi cuaca dinilai memungkinkan.
Andi Sultan On Scene Coordinator (OSC) Operasi SAR mengatakan, korban berjenis kelamin laki-laki itu sebelumnya ditemukan pada Minggu (18/1/2025) di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter. Proses evakuasi baru dapat dilaksanakan setelah cuaca di lokasi kejadian membaik.
“Pagi ini cuaca cukup mendukung sehingga evakuasi bisa dilakukan dengan helikopter Basarnas Dauphin HR-360,” ujar Andi Sultan dalam keterangannya, Rabu.
Ia menjelaskan, sebelum diangkat melalui udara, tim SAR darat lebih dulu mengevakuasi jenazah dari dasar jurang menuju punggungan Lampeso.
Helikopter Basarnas kemudian lepas landas dari Lanud Hasanuddin menuju lokasi pada Rabu pukul 07.47 WITA.
Pengangkatan jenazah dilakukan menggunakan metode hoist dengan teknik air landed pada pukul 07.59 WITA. Setelah proses tersebut selesai, helikopter kembali ke Lanud Hasanuddin dan mendarat sekitar pukul 08.18 WITA.
“Setibanya di Lanud Hasanuddin, jenazah langsung dibawa menggunakan ambulans ke RS Bhayangkara untuk diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification,” kata Andi yang juga menjabat Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Makassar itu.
Menurutnya, seluruh rangkaian evakuasi berjalan aman dan lancar berkat koordinasi yang solid antarunsur SAR gabungan serta dukungan cuaca yang relatif kondusif pada pagi hari.
Sementara itu, operasi pencarian dan pertolongan masih terus berlanjut. Tim SAR gabungan dibagi ke sejumlah Search and Rescue Unit (SRU) untuk menyisir beberapa sektor, termasuk kawasan Lampeso sebagai lokasi penemuan korban pertama, area ekor pesawat, jalur vertikal puncak, hingga sekitar air terjun dan patahan tempat ditemukannya bagian mesin pesawat. (ant/saf/ipg)



