EtIndonesia. Sebagai informasi singkat, maneki neko adalah pajangan berbentuk kucing dari Jepang, biasanya terbuat dari porselen atau keramik. Pajangan ini dipercaya membawa keberuntungan bagi pemiliknya, dan sering dipajang di toko, restoran, serta tempat usaha.
Pada zaman dahulu, di Era Edo, ada sebuah keluarga terkenal bernama Echigoya. Keluarga ini turun-temurun menekuni usaha pewarnaan kain, dan dikenal sebagai keluarga terpandang di wilayah sekitar.
Namun lama-kelamaan, usaha keluarga Echigoya mulai merosot. Penyebabnya adalah sang pewaris muda—yang juga dipanggil “Echigoya”—tidak suka berdagang. Sehari-hari dia hanya bersenang-senang.
Dua hal yang paling dia sukai hanyalah berjudi dan bermain dengan kucingnya. Urusan lain tak dia pedulikan. Akibatnya, keluarga Echigoya pun hampir bangkrut di tangannya.
Tetangga-tetangga tentu menjadikannya bahan obrolan. Namun dia sama sekali tidak merasa terganggu.
Dia bahkan berseloroh: “Echigoya mau runtuh? Ya tinggal ditopang pakai tiang saja, selesai!”
Ucapan itu membuat sang kepala pelayan sangat sedih. Dia sering menasihati : “Tuan muda… bagaimana Anda bisa tega pada leluhur keluarga Echigoya?”
“Ah, jangan cerewet…” jawab tuan muda itu. “Bukankah dulu ada cerita seperti ‘bangau membalas budi’ dan semacamnya? Kalau tidak punya uang, ya suruh Komama mencari saja. Benar kan, Komama?”
Komama adalah nama kucingnya. Setiap kali ditegur, tuan muda itu hanya memeluk kucingnya sambil bermain—menganggap nasihat kepala pelayan angin lalu.
Akhirnya, yang ditakuti benar-benar terjadi. Echigoya bangkrut. Para penagih utang datang satu per satu. Pintu dan jendela dibongkar dan dibawa pergi. Echigoya benar-benar habis—tak tersisa apa-apa.
Saat itu kepala pelayan berkata lagi: “Tuan muda, Anda harus kuat! Kita masih bisa mulai dari nol!”
Namun tuan muda malah mengangkat kucingnya sambil tertawa : “Komama! Kamu tidak lupa janji kita, kan? Pergi ambilkan beberapa keping koin emas!”
Kucing itu sempat ragu, lalu perlahan berjalan pergi.
“Tunggu, Komama! Aku cuma bercanda!” teriaknya.
Namun kucing itu tetap keluar.
Keesokan harinya… kucing itu benar-benar kembali dengan sebuah koin emas di mulutnya! Kepala pelayan dan tuan muda sangat gembira.
Kepala pelayan langsung menasihati: “Tuan muda, gunakan koin emas ini untuk membangun usaha yang benar.”
“Tenang! Kali ini aku pasti bisa balik modal!”
Tapi apa yang terjadi? Tuan muda malah pergi berjudi lagi…
Sayangnya, koin emas itu tidak membawa keberuntungan. Dia kalah habis-habisan dan pulang dengan tangan kosong. Tentu saja kepala pelayan kembali mengomel.
Tuan muda lalu berkata pada kucingnya: “Komama, ambilkan satu koin emas lagi. Kali ini aku akan memakainya dengan benar. Aku tidak akan berjudi lagi!”
Kucing itu kembali ragu-ragu… lalu berjalan pergi pelan-pelan.
Keesokan harinya, kucing itu pulang lagi membawa sebuah koin emas.
Tuan muda bersorak gembira, menggenggam koin itu lalu berlari keluar tanpa menoleh—langsung menuju tempat perjudian untuk “mengambil kembali” uangnya.
Seperti yang bisa diduga… dia kalah lagi sampai habis.
Dia pulang dengan wajah muram. Namun baru masuk rumah, kepala pelayan panik berkata: “Ada yang aneh dengan Komama. Seharian dia lemas dan tidak bersemangat!”
Tuan muda segera berlari masuk, memeluk kucing itu, memanggil-manggil: “Komama! Komama! Ada apa denganmu?!”
Kucing itu perlahan membuka mata, lalu menjilatnya pelan. Tuan muda sedikit lega.
“Tuan muda… Anda tidak merasa Komama makin kurus? Aneh sekali,” kata kepala pelayan.
Namun tuan muda tak menggubris. Dia malah mengangkat kucing itu tinggi-tinggi dan berkata: “Komama! Satu lagi! Satu koin lagi saja! Kali ini aku pasti akan membangun usaha sungguh-sungguh!”
Kucing itu menatapnya lemah… lalu berjalan pergi lagi.
Namun dalam hati, tuan muda berpikir: “Komama mengambil koin-koin itu dari mana? Kalau aku mengikutinya… bukankah aku akan punya koin emas tak ada habisnya? Hmm… besok aku akan mengikutinya.”
Keesokan pagi, kucing itu keluar rumah.
Dan kali ini, Echigoya mengikuti dari jauh.
Kucing itu berjalan memutari pinggiran kota cukup lama, menyeberangi beberapa sungai, lalu masuk ke sebuah hutan. Akhirnya dia berhenti di depan sebuah kuil.
Di sana, kucing itu mengangkat kedua “tangannya”, merapatkannya seperti orang berdoa, dan mulutnya komat-kamit seolah merapalkan sesuatu.
Echigoya yang mengintip dari balik pepohonan terkejut, : “Apa yang dia ucapkan?”
Dia pun mendekat pelan-pelan.
Lalu dia mendengar kucing itu merapalkan: “Ambil sedikit tanganku… ambil sedikit kakiku… berikan aku koin emas… Ambil sedikit perutku… ambil sedikit buluku… berikan aku koin emas…”
Saat kucing itu terus merapalkan, tubuhnya semakin kurus… semakin kecil…
Echigoya tersentak sadar.
Dia berteriak sambil berlari keluar dari persembunyiannya: “Komama! Jangan! Berhenti! Aku tidak mau koin emas itu! Komama!!!”
Namun kucing itu menoleh sebentar… lalu kembali merapalkan: “Ambil sedikit tanganku… ambil sedikit kakiku… berikan aku koin emas… Ambil sedikit perutku… ambil sedikit buluku… berikan aku koin emas…”
Akhirnya… kucing itu menghilang.
Yang tersisa di tanah hanya tiga keping koin emas.
Echigoya mengambil koin-koin itu dan menangis tersedu-sedu sambil memegangi kepalanya: “Komama… kenapa kamu sebodoh ini… hanya demi tiga koin emas… hanya tiga koin emas saja… Komama…”
Sejak hari itu, Echigoya berubah seperti orang lain.
Dia bekerja keras setiap hari. Ketika menghasilkan uang, dia tidak lagi menghamburkannya. Para tetangga pun heran melihat perubahan itu.
Namun Echigoya selalu berkata: “Seekor kucing saja bisa berkorban demi menyadarkanku. Bagaimana mungkin aku tidak berusaha?”
Lama-kelamaan, berkat kerja kerasnya, keluarga Echigoya kembali bangkit dan menjadi makmur.
Karena Echigoya selalu meletakkan patung kucing yang memegang koin emas di depan pintu rumah, orang-orang pada masa itu pun mengikuti kebiasaan tersebut.
Dan itulah… asal-usul Maneki Neko, kucing pembawa rezeki.
Renungan
Kadang, di sekeliling kita ada orang-orang yang selalu berkorban untuk kita, peduli pada kita, memperlakukan kita dengan baik—sementara kita hanya terus menikmati tanpa henti.
Sampai suatu hari… mungkin yang tersisa hanya “tiga koin emas”. Bahkan mungkin… tidak tersisa satu koin pun.
Barulah kita tersadar, bahwa “maneki neko” dalam hidup kita… sudah menghilang.
Catatan Redaksi
Kisah hari ini adalah asal-usul Maneki Neko. Banyak orang menyukai Maneki Neko karena dipercaya membawa pelanggan dan mendatangkan rezeki.(jhn/yn)





