Baru-baru ini, stasiun televisi Iran diduga diretas oleh peretas. Siaran televisi tiba-tiba dialihkan ke tayangan aksi protes rakyat di berbagai daerah serta pidato Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi.
Selain itu, pada akhir pekan lalu, demonstrasi besar-besaran yang mendukung rakyat Iran juga pecah di Los Angeles, Tokyo, dan kota-kota lain, menuntut pertanggungjawaban rezim Iran atas pembantaian terhadap rakyatnya. Sejumlah tokoh politik Amerika Serikat turut angkat bicara, menyerukan agar pemerintahan Presiden Trump membantu mengakhiri rezim diktator Iran.
EtIndonesia. Pada Minggu (18/1/2026), televisi nasional Iran menghentikan transmisi satelit di sejumlah kanal. Layar siaran langsung dialihkan ke gambar-gambar dramatis aksi protes di berbagai penjuru negeri, disertai pemutaran pidato Reza Pahlavi, Putra Mahkota terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan.
Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mengatakan: “Para pegawai lembaga negara, aparat bersenjata dan pasukan keamanan, kalian harus memilih: berdiri bersama rakyat dan membela kepentingan bangsa, atau berdiri bersama para pembunuh rakyat, dan dengan demikian menjadikan diri kalian sebagai aib dan kutukan abadi bagi negara.”
Rekaman yang ditayangkan tersebut tampaknya merupakan potongan video yang dirilis Pahlavi pada 12 dan 13 Januari. Hingga kini, belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas dugaan peretasan ini.
Pada saat yang sama, Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mencabut undangan kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi.
Pada hari Minggu, aksi solidaritas untuk mendukung para pengunjuk rasa Iran juga meletus di pusat kota Los Angeles. Dari rekaman udara terlihat massa besar turun ke jalan, mengibarkan bendera “Singa dan Matahari” era Pahlavi, serta menyalakan suar berwarna bendera nasional Iran.
Spanduk-spanduk bertuliskan: “Rezim Islam telah membunuh lebih dari 20.000 warga Iran. Diam berarti ikut bersalah. Dunia tidak boleh tetap diam.”
Di hari yang sama, demonstrasi dukungan bagi rakyat Iran juga terjadi di Tokyo, Jepang. Pada poster-poster para pengunjuk rasa tertulis: “Tanpa internet, tanpa suara. Iran telah memutus jaringan.”
Seorang demonstran anonim mengatakan: “Kami ingin tahu apa yang terjadi pada mereka yang ditangkap. Apakah mereka telah dieksekusi? Berapa banyak orang yang tewas atau disiksa di dalam penjara? Kami sama sekali tidak tahu.”
Senator Partai Republik AS, Ted Cruz, menyatakan bahwa Amerika Serikat harus mengambil “semua langkah yang memungkinkan” untuk mengakhiri kekuasaan teokrasi Islam di Iran.
“Saya percaya Amerika Serikat harus mengambil segala langkah yang mungkin untuk mengakhiri rezim ini. Khamenei membenci Amerika, dan ia kerap memimpin massa besar untuk meneriakkan ‘Matilah Amerika’,” ujarnya.
Presiden Trump juga menetapkan dua garis merah bagi otoritas Iran: melarang pembunuhan terhadap demonstran damai, dan melarang pelaksanaan eksekusi massal setelah unjuk rasa.
Pada hari Senin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memperingatkan Iran dalam pidatonya di parlemen agar tidak menyerang Israel, atau akan menghadapi serangan balasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan: “Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan Iran, tetapi satu hal sangat jelas: apa pun yang terjadi, Iran tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.” (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.




