Anak yang terlihat malu-malu atau takut salah memang jadi pemandangan yang cukup sering ditemui di lingkungan sekolah. Supaya sikap seperti ini nggak terus terbawa dan menghambat perkembangan anak, penting bagi orang tua untuk mulai memupuk rasa percaya diri sejak dini.
Pasalnya, rasa percaya diri sangat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Bahkan, menurut laman Open Minds Campus, anak yang percaya diri cenderung punya performa akademik yang lebih baik, mental yang kuat, serta lebih berani mengambil inisiatif.
Tentu semua orang tua pengin anaknya memiliki hal-hal positif tersebut, termasuk para ibu di komunitas teman kumparanMOM. Nah, kira-kira gimana cara mereka menumbuhkan rasa percaya diri si kecil? Yuk, simak tipsnya di bawah ini!
Cara teman kumparanMOM Bangun Percaya Diri AnakBangun rasa percaya diri anak ternyata bisa dimulai dari hal-hal sederhana, lho. Seperti yang dilakukan Mom Riesca Riestiyati (38), ia terbiasa memberikan afirmasi positif atas kelebihan yang dimiliki sang anak. Menurutnya, ketika anak sudah bangga dan mencintai dirinya sendiri, rasa percaya diri akan tumbuh dengan sendirinya.
Bagi teman kumparanMOM asal Bekasi ini, rasa percaya diri sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari anak. Anak jadi lebih mudah bergaul di mana pun berada, mampu mengelola emosi dengan baik, dan yang paling penting, anak bisa menilai mana yang benar dan salah.
Tips berikutnya untuk membentuk rasa percaya diri anak adalah dengan rutin berinteraksi dan berkomunikasi. Ajak anak ngobrol soal perasaannya, dengarkan ceritanya, dan buat mereka merasa aman untuk mengekspresikan apa yang dirasakan.
Cara semacam itu juga diterapkan oleh Mom Mutiara (30), lho. Ia memilih pendekatan yang lebih tegas dalam membentuk kepribadian anak. Apalagi sebelumnya, sang anak sempat mengalami pengalaman kurang menyenangkan di sekolah.
Saat anaknya dijahili oleh teman sekelas, Mom Mutiara berusaha membentuk keberanian anak agar bisa melawan dan tidak terus-terusan diam. “Saya bebaskan dia untuk berekspresi ketika dia kesal dengan temannya di kelas,” ujarnya.
Bentuk penentangan yang diajarkan pun beragam. “Misal kamu boleh berteriak kalau next time gambar kamu dicoret lagi, kamu boleh tunjukkan kalau kamu nggak suka ataupun nggak nyaman sama tindakannya itu. Dan bahkan boleh membalas jika memang perlu,” tambahnya.
Syukurnya, setelah keberanian anaknya terbentuk secara perlahan, kepercayaan dirinya pun ikut meningkat. Sang anak juga bisa jadi dirinya sendiri tanpa ada rasa takut atau cemas, karena ia tahu selalu ada orang tua yang mendukungnya kapan pun.
Cerita lainnya datang dari Mom Chalinda (35) yang punya cara lebih terstruktur dalam membangun kepercayaan diri anak. Ia membagi prosesnya ke dalam beberapa tahapan berikut:
Membantu anak memahami tujuan yang ingin dicapai dan menumbuhkan semangat untuk meraihnya.
Memberikan dukungan moril dengan mengapresiasi setiap usaha anak, serta lebih fokus mengevaluasi bersama daripada langsung mengoreksi saat anak gagal.
Mendampingi anak belajar hal baru agar punya lebih banyak pengalaman berharga yang bisa memperkuat rasa percaya dirinya.
Menurut Mom Chalinda, selama anak masih dalam pendampingan orang tua, peran orang tua jadi lebih luas. “Jadi peran kita tidak hanya sebagai orang tua, namun juga partner untuk mendorong kemajuan anak,” tuturnya.
Dari berbagai upaya tersebut, Mom Chalinda melihat perubahan positif pada anaknya. Anak jadi nggak takut gagal, lebih fokus pada tujuan, nggak mudah tersinggung saat mendapat kritik, dan bahkan bisa menjadikan pujian sebagai dorongan untuk berkembang lebih baik lagi.
Yuk berbagi pengalaman bersama ribuan ibu lainnya di komunitas teman kumparanMOM di kum.pr/mom2


