Seorang guru di SD Muhammadiyah Condongcatur, Sleman, Haryanto, menuntaskan studi Master of Education di University of Sydney, Australia, pada Desember 2025. Ia membawa perspektif baru dalam penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) setelah menyelesaikan pendidikan magisternya melalui program Beasiswa Pendidikan Indonesia pada 2023.
Ketertarikannya pada dunia pendidikan inklusif telah dimulai sejak 2006. Pengalaman praktiknya semakin diperkuat ketika ia menjadi Guru Pendamping Khusus (GPK) selama dua tahun di Amerika Serikat. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memperdalam landasan teoretis melalui pendidikan formal di luar negeri.
“Kalau kamu berani mengajar, maka kamu harus berani belajar,” kata Haryanto ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Selasa (6/1).
Menurut Haryanto, pengalaman lapangan saja belum cukup jika ingin membantu pengembangan kapasitas guru dalam skala yang lebih luas. Ia menilai studi formal diperlukan untuk membangun pendekatan yang lebih terstruktur dalam mendukung pembelajaran inklusif.
“Ketika di Amerika ini saya kepengin sekolah lagi karena ternyata enggak cukup kalau saya hanya praktisi langsung,” jelasnya.
Langkah Haryanto menempuh pendidikan magister juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah. Program pengembangan guru yang telah berjalan membuat rencana studinya sejalan dengan kebijakan institusi.
“Dari Ibu Kepala Sekolah support kebetulan juga sekolah sudah punya program S2 untuk semua guru. Jadi klop lah antara program sekolah dengan keinginan saya gitu,” ungkapnya.
Setelah lulus dari Australia, Haryanto menerima tawaran mengajar dari dua sekolah internasional di Yogyakarta. Namun, ia memilih tetap mengabdi di sekolah tempatnya mengajar sejak lama. Keputusan tersebut diambil karena komitmennya memperkuat layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler.
“Karena saya komitmen lebih utama, support untuk ABK ini sangat penting karena belum banyak anak-anak ABK ini mendapatkan porsi layanannya ya,” kata Haryanto.
Di sekolah, ia mulai menerapkan model Multi-Tier System of Support (MTSS) yang membagi dukungan siswa ke dalam tiga level, mulai dari layanan umum hingga dukungan individual. Pendekatan ini diadaptasi dari pengalaman internasional yang ia pelajari.
“Jadi kita bagi siswa itu murid itu menjadi tiga. Murid yang itu untuk umum semuanya itu kemudian murid dengan support yang berkelompok, nanti ada murid dengan support individual,” ujarnya.
Riset tugas akhirnya menunjukkan sekitar 80 persen guru merasa belum siap menangani ABK, dan kesiapan tersebut kerap menurun ketika menghadapi situasi nyata di kelas. Saat ini, Haryanto memposisikan diri sebagai mitra diskusi bagi guru dan mahasiswa yang tertarik pada pendidikan inklusif.
“Saya juga punya misi membantu teman-teman terutama kalau di sini adalah GPK. Kalau di luar sekolah, saya ingin punya keinginan juga untuk membantu teman-teman saling sharing, tidak menggurui lah ya walaupun saya guru. Kalau memang ada kesempatan membantu saya sangat terbuka sekali,” ujarnya.


