Apakah Anda Selalu Menuruti oleh Kebiasaan Anda?

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang direktur utama sebuah perusahaan besar akan segera pensiun. Dia ingin mencari penerus yang mampu menerobos kebuntuan dan melampaui kondisi yang ada. Berbagai rekomendasi berdatangan. Setelah melalui serangkaian seleksi, tersisa dua kandidat terakhir—sebut saja Anton (A) dan Benny (B).

Karena keduanya sama-sama mahir menunggang kuda, suatu hari sang direktur mengundang mereka ke peternakannya.

Saat Anton dan Benny tiba, direktur membawa keluar dua ekor kuda dan berkata : “Aku tahu kalian berdua ahli berkuda. Di sini ada dua kuda yang bagus. Aku ingin kalian berlomba. Pemenangnya akan menjadi penerusku.”

Keduanya menilai kuda masing-masing.

 Dalam hati, Benny berpikir :  “Balap kuda? Hebat! Ini keahlianku. Kursi direktur sudah di tangan.”

Saat itu, direktur mengumumkan aturan lomba : “Kalian akan menunggang kuda dari sini ke ujung peternakan, lalu kembali ke sini. Siapa yang kudanya sampai paling lambat, dialah direktur berikutnya.”

Benny terbangun dari mimpinya, wajahnya penuh tanda tanya.

Anton pun tertegun, bingung tak tahu harus berbuat apa.

Mereka sama-sama ragu apakah telinga mereka salah dengar.

 “Balap kuda kok dibandingkan lambat? Bukannya selalu cepat?” pikir mereka.

Melihat kebingungan itu, direktur menegaskan kembali : “Lomba kali ini menilai siapa yang paling lambat, bukan paling cepat.”

“Siap… satu, dua, tiga… mulai!”

Begitu aba-aba diberikan, keduanya tetap berdiri di tempat. Tak tahu harus melakukan apa.

Beberapa saat berlalu.

Tiba-tiba Anton mendapat ide. Dia melompat keluar dari belenggu kebiasaan, dengan cepat menaiki kuda milik Benny, lalu memacunya sekencang mungkin menuju ujung peternakan—meninggalkan kudanya sendiri di tempat.

Benny tercengang : “Kenapa Anton menunggang kudaku?”

Saat Benny menyadari apa yang terjadi, semuanya sudah terlambat. Kuda miliknya telah dibawa Anton kembali ke garis akhir. Benny kalah.

Ketika Anton turun dari punggung kuda, direktur maju dan memberi selamat : “Selamat! Dengan cara berpikir inovatif, kamu mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Kamulah direktur utama berikutnya.”

Biasanya, kita menganggap balap kuda pasti soal kecepatan. Maka, aturan “paling lambat” terasa aneh—bahkan bisa dianggap tak masuk akal karena bertentangan dengan kebiasaan kita.

Kebanyakan orang menilai dunia dengan zona kebiasaan dan bereaksi berdasarkan pengalaman masa lalu. Hal-hal di luar zona itu sering dilabeli “aneh” atau “tak masuk akal”, tanpa sadar bahwa zona kebiasaan kita sendiri telah membeku.

Anton mampu keluar dari pola pikir otomatis tersebut, menemukan solusi yang tepat—dan itulah yang membawanya menjadi direktur.

Dari sini kita tahu: zona kebiasaan itu nyata, dan dia selalu ada bersama kita. Sering kali, tanpa disadari, kita menjadi budaknya. Namun ketika kita sadar, kita bisa menjadi tuannya.

Lingkungan bisnis bersifat dinamis. Cara berpikir dan bertindak kita pun harus fleksibel dan adaptif—bukan terjebak pada cara lama.

Seperti Benny dalam lomba itu: aturan telah berubah, tetapi dia masih terbuai oleh keahliannya sendiri. Saat dia sadar, kursi direktur sudah berpindah tangan.

Karena itu, jangan terikat pada masa lalu. Milikilah pikiran terbuka. Tinjau perubahan lingkungan secara berkala—di dalam maupun di luar diri. Singkirkan cara yang tak lagi relevan, dan ambil tindakan yang tepat waktu. Dengan begitu, kita bisa berinovasi dalam perubahan dan menang dalam perubahan.

Jadi, apakah kamu masih ditarik oleh kebiasaan? Pikirkan: pekerjaanmu itu sekadar kebiasaan, atau tujuan?

Mimpi apa dalam hidupmu yang belum terwujud? Beranilah keluar dari pola pikir lama. Tata ulang masa depanmu—mulai sekarang.

Renungan Redaksi

Cuaca saja berubah mengikuti empat musim—apalagi dunia usaha yang bagaikan medan perang. Peluang datang dan pergi dalam sekejap. Jika cara berpikir tidak terus diperbarui dan hanya berpegang pada cara lama, kita bisa tersingkir oleh zaman kapan saja.

Manusia perlu terus mengubah pola pikir agar lepas dari kerangka lama, tidak dikendalikan kebiasaan dan rutinitas. Hanya dengan begitu, di tengah arus perubahan yang tak menentu, kita dapat menemukan peluang dan melaju lebih jauh. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK soal Uang Pemerasan Bupati Sudewo: Dimasukin Karung, Kayak Bawa Beras
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Kalsel Bersiap Bangun Stadion Bertaraf Internasional Senilai Rp1 Triliun
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Sinopsis BERI CINTA WAKTU SCTV Episode 126, Hari Ini Rabu 21 Januari 2026: Upaya Trian Bantu Adila Berujung Sebuah Pengakuan
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Dasco Ungkap Sosok Pengusul Thomas Djiwandono Jadi Calon Deputi Gubernur BI
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Kata Jaksa Agung soal Potensi Pidana 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya
• 22 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.