EtIndonesia. Ketegangan geopolitik global kembali mencuat di panggung Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, pada 20 Januari 2026, menyusul serangkaian pernyataan keras dan langkah strategis yang diambil oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Isu Greenland, hubungan AS–Eropa, pengaruh Tiongkok di Arktik, hingga pembentukan tatanan internasional baru menjadi sorotan utama.
Bessent di Davos: Isu Greenland Tak Akan Picu Konflik AS–Eropa
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat dan Eropa mampu menemukan solusi atas isu Greenland tanpa meningkatkan konflik.
Berbicara di Davos pada 20 Januari, Bessent menegaskan bahwa perbedaan sikap terkait Greenland tidak akan berubah menjadi konfrontasi terbuka. Dia juga membantah spekulasi bahwa negara-negara Eropa akan menjual obligasi pemerintah AS sebagai bentuk pembalasan.
Menurutnya, obligasi Amerika Serikat tetap merupakan pasar dengan likuiditas terkuat di dunia dan fondasi utama sistem keuangan global.
Bessent membandingkan situasi saat ini dengan kepanikan pasar pada April 2025, ketika Trump mengumumkan tarif global. Kala itu, gejolak pasar mereda dengan cepat, membuktikan bahwa reaksi emosional jangka pendek kerap dibesar-besarkan.
“Saya yakin pada akhirnya masalah ini akan diselesaikan dengan cara yang menguntungkan Amerika Serikat, Eropa, dan juga keamanan nasional,” ujar Bessent.
Macron Membuka Pintu ke Tiongkok, Trump Balas dengan Sindiran Tajam
Pada hari yang sama, Presiden Prancis, Emmanuel Macron secara mendadak menyatakan bahwa Eropa membutuhkan lebih banyak investasi langsung dari Tiongkok untuk mendorong pertumbuhan di sektor-sektor strategis.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari Trump. Dalam beberapa kesempatan, termasuk wawancara di Miami, Trump menyindir bahwa masa jabatan Macron “tidak akan lama lagi”, mengisyaratkan melemahnya pengaruh politik pemimpin Prancis tersebut.
Di media sosial, warganet Eropa mengecam Macron, menilai ketergantungan terhadap Beijing justru memperlihatkan kelemahan strategis Eropa di hadapan Amerika Serikat.
Ancaman Tarif 200% dan Penolakan Prancis
Pada 19 Januari 2026, Trump memperingatkan bahwa jika Prancis menolak bergabung dengan Komisi Perdamaian yang dibentuk AS, Washington akan mengenakan tarif hingga 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis.
Istana Kepresidenan Prancis kemudian mengonfirmasi penolakan tersebut, dengan alasan bahwa komisi itu berpotensi mengguncang sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan melemahkan mekanisme multilateral yang sudah ada.
Komisi Perdamaian Trump dan Retaknya Diplomasi Lama
Masih pada 20 Januari, Trump secara resmi membentuk Komisi Perdamaian yang bertugas menangani tata kelola dan rekonstruksi Gaza pascaperang. Namun, informasi awal menunjukkan mandatnya tidak terbatas pada Palestina, melainkan dapat meluas ke konflik global lain.
Sejumlah pemimpin dunia dikabarkan telah menerima undangan, termasuk:
- Presiden Rusia Vladimir Putin
- Presiden Belarus Alexander Lukashenko
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy
Zelenskyy menyatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Ukraina sedang menelaah undangan tersebut, meski dia mengaku sulit membayangkan duduk satu forum dengan Putin.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan menyebut Presiden Recep Tayyip Erdogan akan segera mengambil keputusan terkait partisipasi Turki.
Trump Keras terhadap Macron dan Inggris
Pada 20 Januari, Trump juga secara terbuka mengkritik Macron dan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyebut mereka “banyak bicara tapi minim tindakan.”
“Saat saya tidak ada, mereka terlihat keras. Tapi saat saya hadir, mereka sangat sopan,” kata Trump, sembari menyebut keduanya sebagai kaum liberal yang perlu membereskan urusan domestik masing-masing.
Uni Eropa Terbelah Soal Greenland
Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menyatakan bahwa Uni Eropa tengah merencanakan investasi besar di Greenland dan akan bekerja sama dengan sekutu Amerika untuk menjaga keamanan Arktik. Namun dia juga memperingatkan AS agar tidak menjatuhkan tarif hukuman terhadap sekutu lama.
Uni Eropa dijadwalkan menggelar KTT darurat sekitar 22 Januari 2026, meski perpecahan internal kian jelas.
Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico secara terbuka memuji pendekatan “kepentingan nasional di atas segalanya” ala Trump. Sementara Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni menegaskan bahwa Amerika Serikat bukan ancaman, dan justru Eropa yang mengirim sinyal campur aduk.
Di Parlemen Eropa, anggota parlemen dari Denmark, Margrethe Vestager melontarkan kecaman keras terhadap Trump pada 20 Januari, hingga pidatonya dihentikan karena melanggar aturan etika parlemen.
Arktik dan Ancaman PKT
Banyak pengamat menilai Uni Eropa justru mengabaikan ancaman utama: penetrasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke kawasan Arktik.
Peneliti Hudson Institute dan Hoover Institution Yu Maochun menegaskan bahwa ambisi PKT di Arktik adalah strategi negara jangka panjang, menggunakan riset ilmiah, investasi, dan infrastruktur berkedok sipil untuk membangun pengaruh ganda.
Menurutnya, Greenland merupakan simpul strategis antara Eurasia dan Amerika Utara. Jika Tiongkok dan Rusia berkoordinasi, waktu peringatan dan intersepsi pertahanan AS dapat terpangkas drastis, mengancam sayap utara NATO.
Absennya Sekjen PBB dan Simbol Runtuhnya Tatanan Lama
Pada 20 Januari, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres tiba-tiba membatalkan kehadirannya di Davos dengan alasan flu berat, memicu spekulasi luas.
Dua hari sebelumnya, 18 Januari, Guterres menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB sudah tidak lagi mewakili dunia dan tidak efisien, serta mengkritik penggunaan hak veto demi kepentingan sempit.
Di tengah upaya Trump membangun arsitektur perdamaian alternatif, absennya Guterres semakin memperkuat kesan bahwa tatanan global lama tengah runtuh.
Penutup
Bagi pemerintahan Trump, isu Greenland bukan soal membeli wilayah, melainkan perebutan titik strategis untuk seratus tahun ke depan—demi mencegah PKT berakar di Arktik dan menjaga pertahanan utara NATO.
Seiring waktu, semakin banyak negara mulai melihat hakikat strategi PKT dengan lebih jernih. Dukungan terhadap pendekatan keras Trump pun perlahan menguat, menandai terbentuknya tatanan dunia baru.
Namun di tengah pergolakan geopolitik besar ini, satu hal tetap tak berubah: sandaran paling mendasar bagi individu dan keluarga adalah kesehatan—modal utama untuk bertahan di era perubahan global yang kian tajam.




